LukaSenja : Chapter 7

Lukasenja430 Dilihat

Chapter 7 : Lukairo Mahadipta

Luka berjalan menuju ke sebuah mesin minuman sembari menikmati alunan lagu yang keluar dari headphone yang sedari tadi ia pakai. Ia tidak peduli dengan sekitarnya. Ia hanya terfokus dengan apa yang akan dan ingin ia kerjakan sekarang.

Saat menekan tombol-tombol di mesin itu untuk meraih satu botol minuman dari dalamnya, seorang perempuan memukul punggungnya dengan kasar dan membuatnya terkejut. Sontak ia langsung memutar badan sembari melepaskan headphone-nya dan menggantungnya di leher. Perempuan itu adalah Senja.

“Lo keknya orang yang nggak punya tanggung jawab, ya. Lihat, nih!” Senja mengangkat tinggi gelas yang ia beli yang telah pecah tinggal beberapa bagian saja. “Dan lo yang habis nabrak gue sampai gue jatuh, lo nggak minta maaf kayak nggak ada rasa bersalah sedikitpun.”

Luka menghela nafas, merotasikan bola matanya. “Kan itu salah lo sendiri, kalau jalan nggak mau liat depan, malah sibuk sama barang belanjaan lo.”

“Eh, udah salah nyolot lagi lo. Nggak mau tahu, pokoknya lo harus tanggung jawab sama cangkir gue ini,” seru Senja kesal.

“Kalau gue nggak mau gimana? Orang gue nggak salah.”

Senja menepuk jidatnya, lelaki di depannya ini berhasil membuat dirinya naik pitam. “Lo nggak salah darimananya sih. Udah pokoknya gue mau cangkir gue balik.”

Ensel dan Kaila baru sampai di tempat mereka berdua bertengkar, pupil mereka melebar saat Senja semakin menjadi-jadi dan berujar cukup kencang.

“Kalau lo nggak mau tanggung jawab, bakal gue laporin atas dasar perusakan properti,” seru Senja mengancam lelaki di depannya.

“Susah juga ya, kalau debat sama cewek.” Luka merogoh saku celananya, meraih dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru tua, lantas menyodorkannya ke arah Senja.

Senja menyipitkan matanya, menghempas tangan Luka dengan keras sampai uangnya berjatuhan di lantai. “Gue butuhnya barang aslinya, bukan uangnya.”

Luka menghela nafas. Menyodorkan tangan kosongnya ke arah Senja, sedangkan perempuan itu hanya menatap Luka bingung. “Hp lo mana? Kalau sekarang gue nggak bisa karna habis ini gue bakal pulang, lo kalau mau besok kita ketemu lagi buat nyelesain masalah ini. Jadi gue kasih nomor gue.”

“Oke.” Senja merogoh sakunya untuk mencari Hp. “Karna gue lagi baik, gue bakal lepasin lo sekarang. Dan jangan pikir gue bakal ngelepasin lo di luar sana.”

Senja menyerahkan ponselnya ke arah Luka dan dengan segera Luka menerimanya. Kemudian lelaki itu mengembalikan ponsel kepada pemiliknya dan Senja akhirnya pergi dari pandangan berkat Kaila dan Ensel yang menariknya paksa untuk pergi dari Mall Kirandana itu.

Ketiga siswa itu akhirnya berhasil keluar dan langsung masuk ke dalam mobil milik keluarga Anulika.

“Lo tadi kenapa, sih, Se?” tanya Kaila heran. Sahabatnya itu tiba-tiba saja menjadi singa hanya karna cangkir miliknya pecah, padahal ia masih bisa beli yang baru karna punya banyak uang.

“Nggak ada, cuman ngajarin orang sopan santun dan tanggung jawab aja.” Senja memindahkan tas di punggungnya ke depan dada, lalu menyenderkan bahunya di kursi mobil dan memejamkan matanya untuk beristirahat.

“Lo tuh—“

“Ssttt … diam kalian! Gue mau tidur bentar … aja,” potong Senja sebelum Ensel melanjutkan ucapannya.

LukaSenja

Mobil keluarga terpandang Mahadipta sampai di sebuah rumah megah dan besar dengan banyak dekorasi mewah terpajang di setiap sudut bangunan tersebut. Dengan sigap, para pembantu di sana keluar dari rumah dan membantu mengangkat beberapa barang bawaan majikannya, sekaligus menyambut mereka dengan penuh hormat. Dipta bersama dengan istrinya, Gelya dan anak bungsunya, Akta keluar dari dalam mobil dan berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Luka, dengan masih memakai headphone-nya masuk ke dalam rumah sendirian menyusul keluarganya yang sangat harmonis itu.

Luka naik ke lantai dua, menuju ke kamarnya, menolak untuk makan malam bersama dengan ayah, ibu tiri, dan sudara tirinya. Ia lebih suka untuk makan sendiri di kamar sambil mendengarkan alunan musik atau menonton film yang sedang hits baru-baru ini.

Lelaki itu menaruh ponsel dan headphone-nya di meja kecil samping kasur, lantas merebahkan badannya di kasur itu sembari menatap kosong langit-langit kamarnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintunya beberapa kali.

“Masuk aja, pintunya nggak dikunci.” Masih dengan posisi rebahan, Luka menyilakan orang itu untuk masuk ke dalam kamarnya.

Seorang wanita dengan setelan jas dan rok panjang hitam bak seorang pramugari muncul dari balik pintu dan melangkah masuk mendekati meja belajar Luka yang tak jauh dari kasur tempat Luka berbaring.

“Ini adalah beberapa dokumen yang akan kamu butuhkan untuk mendaftar di sekolah barumu besok.” Wanita itu mendaratkan map kertas berwarna biru muda berisikan beberapa lembar dokumen yang sudah disiapkan untuk Luka yang katanya besok akan pindah ke sekolah barunya.

Mendengar itu, Luka menghela nafas. Perlahan ia memosisikan tubuhnya untuk duduk di pinggir ranjang sambil menatap tajam wanita itu. “Gue kan udah bilang kalau gue nggak mau pindah.”

“Sepertinya kamu memang butuh sedikit penekanan untuk berhasil melawanku. Maafkan aku, aku lebih memilih ikut pihak ayahmu daripada harus berada di pihak sampah sepertimu,” ujar wanita itu, lantas keluar dari kamar Luka dan menutup pintu dengan keras.

Luka memejamkan matanya perlahan. Napasnya tercekat beberapa saat sebelum akhirnya kedua matanya meneteskan air mata. Sulit untuk Luka menahan air matanya dalam keadaan seperti ini. Rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia dan menyusul ibunda tercintanya di surga. Di sini, ia tidak punya banyak orang untuk bercerita dan ia dipaksa menjadi lelaki yang tegar oleh keadaan.

Baca Juga : LukaSenja : Chapter 6

Follow Juga : Wattpad Aiden Nang untuk Lebih Banyak Cerita