Chapter 9 : Drakor
“Se! Se! Senja!”
Senja akhirnya terbangun dari mimpi buruknya dan langsung memposisikan dirinya untuk duduk. Napasnya tidak beraturan dan jantungnya berdegup sangat kencang. Dahinya berkeringat dan wajahnya berubah pucat.
Kaila yang tahu kalau sahabatnya itu baru saja bermimpi buruk langsung mengambil botol minum dari ranselnya dan menyerahkannya ke Senja untuk diminum.
“Kayak biasanya, ya?” tanya Kaila ketika Senja sudah meminum air putih pemberiannya dan dijawab dengan anggukan kuat oleh gadis itu.
Kaila tersenyum tipis, kemudian memeluk sahabatnya dengan erat. “Nggak papa, Se. Ada gue di sini.”
Senja ingin menahan air matanya, tapi untuk kesekian kalinya ia gagal menahan bendungan di matanya dan air matanya langsung jatuh dengan deras. Ia menangis tersedu-sedu dan itu terjadi setiap kali ia selesai bermimpi buruk. Jika di rumah, Senja akan langsung memanggil mamanya atau papanya dan memeluk mereka, lalu menangis setelah bermimpi buruk dan mereka mengatakan hal yang sama. “Nangis aja, Se. Nggak papa.” Begitulah kata mereka.
Perlahan Senja melepaskan pelukannya dan mengusap pipinya yang basah karna air mata. Kemudian beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Ia butuh mandi dan keramas untuk menyegarkan kepalanya juga.
Senja sering mengalami mimpi buruk yang sama berulang kali. Bahkan jika diingat-ingat lagi, mimpi buruk itu terjadi setiap seminggu dua kali. Walau sebenarnya Senja terbiasa, ia masih belum bisa membendung tangisannya dan menghilangkan trauma yang mengakibatkan mimpi buruk itu datang terus-terusan. Tapi ia yakin, kalau pada suatu hari ia bisa menghapus ingatan buruk itu dan membuangnya jauh-jauh dari hidupnya.
LukaSenja
Jam dinding di kamar Kaila menunjukkan pukul 8 malam dan dua anak di dalam kamar itu belum juga beranjak tidur. Mereka baru saja selesai memasak camilan dan membawanya ke kamar untuk mereka makan sambil menonton sebuah film.
Kaila mengambil proyektor mini dari laci meja belajarnya dan langsung menghubungkannya dengan laptop milik Senja.
“Enaknya kita nonton film apa?” tanya Senja ke Kaila yang tengah mengutak-atik proyektor mini miliknya.
“Horror?”
Pupil Senja melebar dan reflek ia memukul punggung Kaila dengan keras. “Gila apa gimana lo? Barusan gue mimpi buruk, habis nonton horror mimpi buruk lagi gue nanti.”
“Aw, ya sorry. Gue lupa,” cibir Kaila sambil memegang punggungnya yang panas akibat pukulan dari sahabatnya. “Nonton Drakor aja gimana?”
Senja menghela napas kasar. “Ya, tapi genre apa?”
“Ya cari aja apa yang populer!” seru Kaila makin kesal.
“Yang populer genrenya beragam!”
“Ya lo, maunya apa?”
“Lo maunya Drakor yang kek gimana?”
“Nggak, Lo aja!”
“Lo aja yang—“
Perdebatan itu terpotong saat seseorang mengetuk pintu kamar Kaila. Detik berikutnya pintu itu terbuka dan muncul mama Kaila dari baliknya. “Kaila, Senja, kalian kenapa, sih? Malem-malem kok pada ribut.”
Kaila dan Senja langsung mengganti posisi mereka dan duduk di tepi ranjang, lalu Senja bersuara, “ini Tante, kita lagi bingung mau nonton Drakor atau film genre apa. Jadi maaf ya, Tante. Kita ribut dan teriak-teriak tadi.”
Mama Kaila menghela napas kasar sembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya ia harus bersyukur kalau anaknya tidak minta seorang adik atau dia akan selalu mengalami hal seperti ini di malam hari.
“Senja kenapa nggak ajak Tante aja kalau mau nonton Drakor, Tante lagi punya banyak rekomendasi Drakor populer belakangan ini, malah ajak Kaila yang nggak suka Drakor.”
“Apa sih, Ma! Kaila juga suka Drakor loh, ya,” cibir Kaila tidak terima.
Mamanya hanya bisa terkekeh kecil sambil menutup pintu kamar dan berjalan menghampiri kedua gadis itu. “Sini! Biar Tante yang pilihin Drakornya.” Mama Kaila menggeser posisi Senja dan langsung menarikan jemarinya di keyboard setelah mengklik tab pencarian.
“Ma, jangan Drakor jadul, loh.”
“Kamu tuh ngeremehin Mama banget. Gini-gini Mama update terus nonton Drakornya, nggak kayak kamu.” Lagi-lagi perdebatan terjadi di ruangan itu, kini antara seorang anak dengan mamanya.
“Curiga itulah alasan kenapa Mama selalu terlambat kalau disuruh jemput aku pulang sekolah. Ngaku, Ma!”
Mama Kaila terdiam sebentar, memberikan suasana sunyi di ruangan itu. Tapi tak lama kemudian, ia kembali bersuara. “Bisa jadi.”
Kaila sontak mencubit lengan mamanya saat kata itu keluar dari mulut sang mama, benar-benar seperti dugaannya. “Ah, Mama.”
“Kok kamu cubit Mama, sih?” Sang Mama tidak terima jika anaknya mencubit lengannya tiba-tiba, akhirnya ia ganti mencubit anaknya dan perkelahian cubitan akhirnya terjadi di ranjang antara anak dengan mamanya.
Senja yang melihat itu seketika tersenyum lebar. Dalam hatinya ia sempat iri dengan Kaila yang dari kecil sudah merasakan kasih sayang dari mamanya, tapi prasangka itu langsung dibuang jauh-jauh agar ia tidak menangis lagi.
“Gimana, Tante? Udah nemu Drakornya?” ujar Senja memotong perkelahian antara anak dan mamanya di sampingnya.
“Oh, udah-udah. Sekarang, kita mulai nonton. Silahkan diputar, Senja.” Mama Kaila merapikan piama yang tengah ia kenakan lalu duduk bersila sambil bersender di kepala ranjang dan melihat tembok putih yang perlahan muncul gambar dari proyektor mini, disusul dengan Senja dan Kaila yang duduk di samping kanan dan kirinya.
Malam itu, akhirnya mereka menonton film sambil mencicipi camilan buatan Kaila dan Senja sampai habis.
Baca Juga : Avis : The Legend Of Azola (On Going) on Wattpad
Baca Juga : LukaSenja : Chapter 8






