LukaSenja : Chapter 10

Lukasenja476 Dilihat

Chapter 10 : Murid Baru

Senja dan Kaila baru saja keluar dari mobil keluarga Anulika dan berjalan di halaman bersama dengan murid-murid lainnya. Pagi ini mentari bersinar sangat cerah dan burung-burung bernyanyi merdu. Para siswa SMA Wirnamandala baru saja berdatangan dan langsung berlarian ke segala arah mencari tempat belajar mereka.

Senja dan Kaila menaiki anak tangga menuju ke lantai 3 tempat kelas mereka berada. Keduanya berjalan menyusuri koridor yang ramai dengan siswa yang sudah stand by di sana untuk berbincang dengan teman mereka yang baru saja datang ke sekolah sampai bel pelajaran pertama berbunyi.

“Hai, Senja. Hai juga, Kaila.” Seseorang menyapa mereka dengan senyuman hangat sembari melambaikan tangan ke arah Senja dan Kaila yang baru sampai di kelas mereka.

“Hai juga, Indri,” sapa keduanya serempak.

“Wah, kompak banget, dah. Emang nggak diragukan lagi sih, friendship kalian,” ujar siswi dengan nama Indri sembari membersihkan mejanya dengan kemoceng.

Senja dan Kaila hanya tersenyum lebar dan berjalan menuju meja mereka masing-masing. Senja duduk di bangku deret samping pintu di bagian paling depan dan Kaila di sampingnya.

Usai meletakkan tasnya di kursi, Senja mengeluarkan laptop  miliknya dan langsung membuka file makalah resensi film yang ia dan Kaila kerjakan semalaman. Karna dirasa ada beberapa hal yang perlu ia revisi, akhirnya ia menarikan jari jemarinya di keyboard laptop dan menyunting kembali makalah mereka.

Kaila di sampingnya yang melihat hal itu langsung menggeser kursinya untuk mendekat ke sang sahabat dan membantunya merevisi. Ia sepertinya tahu kalau temannya itu adalah orang yang cukup perfeksionis soal makalah dan semacamnya. Namun karena hal tersebut, karya tulis ilmiah yang ditulis dan digarap oleh Senja selalu mendapatkan nilai tertinggi.

Tak lama kemudian, bel masuk pertama berbunyi nyaring. Suara derap langkah mulai mengisi koridor dan ruang kelas karna mereka harus segera masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing atau guru bagian ketertiban akan segera menghukum mereka dengan hukuman yang cukup membuat jera murid-muridnya.

Seorang perempuan paruh baya dengan rambut hitam berkilau dan terurai sepanjang punggung masuk ke 11 Diamond Class A sambil membawa beberapa buku. Tapi sepertinya dia membawa seseorang untuk masuk ke dalam kelas itu, namun orang itu hanya berdiam diri di ujung pintu, membuat semua orang di sana menjadi penasaran.

“Selamat pagi semuanya.”

“Selamat pagi, Bu Caca,” seru semua anak serempak.

“Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, sepertinya kelas kalian kedatangan siswa baru yang mungkin bisa melengkapi kursi kosong di kelas ini,” ujar wanita bernama Caca itu.

Senyum yang tadinya terlukis di wajah semua anak perlahan surut karna teringat sebuah kejadian yang menimpa seseorang yang memiliki bangku kosong itu. Detik berikutnya semua mata tertuju ke bangku kosong yang berada di deret tengah kelas. Bangku masih terlihat sangat bagus dan bersih walaupun sudah ditinggal pemiliknya lebih dari 5 bulan.

“Ibu tahu beberapa dari kalian mungkin masih sedih tentang itu. Tapi nggak papa, murid baru ini mungkin bisa mengisi kekosongan di kalian.” Bu Caca berusaha menasihati mereka dan membuat mereka agar kembali tersenyum dan itu cukup berhasil. Semua anak di sana berhenti memikirkan hal yang telah berlalu dan fokus ke hal yang akan terjadi di waktu yang akan datang dengan senyuman yang kembali terlukis di wajah masing-masing.

“Oke. Silahkan masuk ….” Semua anak di kelas itu bertepuk tangan dengan meriah sambil bersorak ria menyambut kedatangan seorang lelaki yang sedari tadi berdiri di ujung pintu. Suara tepuk tangan dan sorakan itu semakin keras saat mereka berhasil melihat wajah sang murid baru. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, Senja malah menghentikan tepuk tangannya dan terkejut saat melihat wajah dari murid baru itu.

“Silahkan, perkenalkan diri kamu ke teman-teman barumu.”

Semua orang terdiam, menunggu sang murid baru memperkenalkan dirinya.

“Halo semuanya. Perkenalkan, nama saya Lukairo Mahadipta. Kalian bisa panggil Luka ataupun Kairo. Senang bertemu dengan kalian,” ujar Luka memperkenalkan dirinya. Kata-katanya memang terlihat hangat dan akrab, namun wajahnya hanya datar dan tersenyum tipis.

Semua orang kembali bersorak dan bertepuk tangan, puas dengan perkenalan itu, sedangkan Senja masih tidak bisa percaya kalau pria yang menabraknya di Mall Kirandana dan membuat gelas cantik yang ia beli pecah.

“Oke, Luka. Silahkan duduk di bangku kosong itu.” Bu Caca menyilakan Luka sambil menunjuk bangku kosong yang dimaksud.

Setelah penyambutan murid baru selesai, mereka semua kembali berfokus ke tujuan utama mereka sekolah, yaitu belajar.

LukaSenja

Bel istirahat telah berbunyi dua menit yang lalu, menyisakan kurang dari 10 siswa yang masih berada di 11 Diamond Class A, sedangkan yang lainnya sedang memperebutkan tempat di cafetaria setelah mendapatkan kabar kalau ada menu makan siang baru di sana.

Luka tengah berkutik dengan ponselnya. Detik berikutnya lelaki itu mengeluarkan headphone berwarna biru makaron dari dalam tasnya dan memakainya. Ia kemudian memejamkan mata dan berharap bisa tertidur sebentar sambil mendengarkan musik yang mengalun di telinganya. Namun sayangnya, suara pukulan di mejanya berhasil mengusiknya.

“Hai, Luka.” Itu Senja. Gadis itu tiba-tiba saja datang ke meja Luka dan memukul mejanya dengan keras. Semua perhatian murid yang ada di sana sempat tertuju ke gadis itu, namun mereka kemudian kembali ke aktivitas mereka masing-masing setelah Senja tersenyum lebar ke arah mereka semua.

Luka membuka satu matanya dan mendapati kalau gadis di depannya adalah gadis yang pernah ia temui di Mall. Ia kemudian kembali menutup matanya dan menghiraukan gadis itu.

“Oh, pura-pura nggak peduli. Fine.” Dengan perasaan sedikit kesal, Senja melepaskan headphone yang terpasang di kepala Luka dengan paksa dan menaruhnya di meja kemudian berkacak pinggang di depan lelaki itu.

Luka menghela napas kasar lantas menatap Senja dengan wajah datarnya. “Kenapa?”

“Kenapa? Hah? Gue nggak salah denger, nih. Kenapa?” Senja berdecih. “Coba lo pikir dulu apa yang ngebuat gue tiba-tiba dateng ke meja lo terus mukul meja lo dengan keras. Kalau lo punya otak, coba mikir dulu.”

Suara Senja terlalu keras hingga membuat semua murid kembali tertuju ke gadis itu. Bahkan sesekali mereka bergosip tentang Senja yang mungkin belum tahu kalau siapa lawan bicaranya kali ini.

“Oh, gelas lo yang pecah.”

“Iya! Mana?!” Senja menyodorkan salah satu tangannya, siap menerima kembali gelas yang telah dipecahkan oleh lelaki itu.

“Sorry, gue kemarin belum nemuin gelas itu di Mall karna ternyata gelas itu stoknya udah habis.”

“Emang,” sahut Senja. “Makanya gue bisa semarah ini ke lo karna gelas itu adalah stok terakhir di Mall Kirandana dan mau gue kasih ke nyokap gue buat hadiah ulang tahunnya. Dan lo, nabrak gue gara-gara lo main Hp dan gelas itu pecah. Sekarang, lo malah nggak bisa tanggung jawab.”

“Gimana kalau gue beliin gelas yang lain aja, mungkin dengan harga yang sama.” Meskipun sedikit malas, Luka berusaha membujuk Senja dan menyelesaikan masalahnya dengan gadis itu, atau gadis itu akan terus menerornya.

“Nggak bisa,” seru Senja. “Gimana caranya lo harus ganti itu gelas dengan model yang sama. Entah lo mau beli di online shop, mau lo beli di mall lain, atau beli di pabriknya langsung, gue nggak peduli. Yang pasti gue mau gelas gue balik lagi. Dan gue juga sedikit beruntung karna lo bisa sekelas sama gue agar gue bisa nagih lo tiap hari. Ingat itu!” Senja kemudian membalikkan badannya dan berjalan keluar kelas. Sebelum itu ia menarik lengan Ensel dan Kaila yang sedari tadi berdiri di dekatnya dan mengajak keduanya ke cafetaria.

Sepeninggal gadis itu, Luka hanya bisa menghela napas kasar. Ia benar-benar tidak bisa mengalahkan gadis itu. Sepertinya ia memang harus segera menyelesaikan masalah ini. Luka kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju kantin.

Baca Juga : LukaSenja : Chapter 9

Follow Juga : Wattpad Aiden Nang Untuk Lebih Banyak Cerita