LukaSenja : Chapter 12

Lukasenja468 Dilihat

Chapter 12 : Perasaan Kesal

Senja memeluk erat paperbag berisikan kardus dengan tiga gelas yang selama ini ia cari untuk kado ulang tahun mamanya. Senyumnya tidak berhenti surut saat rencana kejutan mamanya terbesit di kepalanya. Sontak ia langsung merogoh saku dan mengambil ponselnya, lantas menelpon mamanya.

“Halo, Ma?”

“Gimana, sayang?”

“Ma, dua hari lagi Mama pulang, kan?” tanya Senja sembari berharap kalau mamanya berkata iya.

“Kok kamu tahu?”

Akhirnya harapannya tercapai. “Ya, dong. Soalnya kan dua hari lagi hari spesialnya Mama. Mama lupa?”

“Kayaknya, sih, Mama lupa. Gini nih, kalau kebanyakan kerjaan dan faktor usia.”

Senja tertawa kecil. “Nggak papa, Ma. Besok Senja ingetin dengan cara yang seru dan menarik. Ditunggu ya, Ma.”

Senja kemudian menutup panggilannya terlebih dahulu setelah mamanya menjawab ucapan darinya.

Gadis itu kemudian membenahi posisi duduknya sembari memeluk erat paperbag di tangannya dan menunggu busnya sampai di halte bus dekat rumahnya.

Setelah beberapa saat, Senja sampai di rumahnya usai berjalan dari halte bus selama sepuluh menit. Ia langsung disambut dengan Bik Farah yang merupakan pembantu yang sangat dekat dengan dirinya.

“Non, habis mandi langsung ke dapur ya, sudah Bibik masakin makanan kesukaan Non,” ujar Bik Farah lembut sambil menatap punggung Senja yang tengah menaiki anak tangga menuju kamarnya.

“Iya, Bik,” seru Senja, setelah itu ia masuk ke dalam kamar.

Gadis itu langsung mendaratkan tasnya di dekat meja belajar dan menaruh paperbag belanjaannya di atas meja belajar, lantas menyambar handuk dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Beberapa menit kemudian, gadis itu sudah berbalut piama bermotif kupu-kupu berwarna warni dan turun ke dapur untuk makan malam.

Di dapur, Bik Farah sudah menyiapkan beberapa makanan yang katanya adalah kesukaan Senja, membuat gadis itu langsung menatap takjub makanan yang sudah disuguhkan di meja makan.

“Bik Farah masak ini semua?” tanya Senja kagum sembari menarik salah satu kursi lantas duduk di kursi tersebut.

Bik Farah tersenyum hangat. “Rata-rata Bik Farah yang masak, cuman ada beberapa yang dibantu sama Bik Niken dan Bik Gigi. Silahkan dimakan, Non.”

Senja menggeleng kuat, membuat Bik Farah mengernyitkan dahi melihatnya. “Bik Farah harus nemenin Senja makan malam ini. Karna Mama sama Papa belum pulang, Senja nggak enak kalau makan sendiri. Jadi Bik Farah temenin Senja menyantap semua makanan ini.”

Bik Farah terkekeh pelan sambil mengangguk pelan, menyetujui permintaan dari anak majikannya itu. Perempuan paruh baya dengan usia berkepala tiga itu duduk di kursi depan Senja lalu menemani gadis itu menyantap semua makanannya.

Senja mulai menyantap satu persatu makanan di depannya, sesekali menatap Bik Farah dengan tatapan kagum karna makanan yang dimasak oleh perempuan itu tidak pernah gagal dan selalu cocok di lidah Senja.

“Bik,” panggil Senja pelan. Mulutnya masih mengunyah banyak udang hingga akhirnya menelannya dan kemudian melanjutkan ucapannya yang tadi terpotong. “Bik Farah pernah nggak ketemu sama orang yang awalnya tuh ngeselin banget, terus dia tiba-tiba ngasih kita sesuatu dan kita jadi kayak suka sama dia. T-tapi dalam artian suka dan mau nyobak temenan sama dia, gitu.”

“Pernah,” jawab Bik Farah singkat sembari memberikan sepotong udang kesukaan Senja dan mendaratkannya di piring milik gadis itu.

“Pernah?! Cerita dong, Bik.” Senja menarik kursinya ke depan agar lebih dekat dengan perempuan itu, lalu duduk dengan nyaman untuk bersiap mendengarkan cerita dari perempuan itu, sesekali ia menyantap udang di depannya.

“Dulu, waktu Bik Farah masih seusia Non, Bik Farah ketemu sama cowok yang bener-bener ngeselin banget. Awal kita ketemu aja Bibik udah kesel. Waktu itu dia pernah ngerusakin sepeda kayuhnya Bibik, soalnya dia dulu suka ngebully Bibik juga. Terus—“

“Jahat banget,” cetus Senja.

Bik Farah terkekeh. “Terus dia juga pernah nipu Bibik buat dateng ke sebuah tempat dan ternyata itu kuburan tua. Tapi pelan-pelan entah kenapa dia berubah. Mungkin karna waktu itu sahabat terdekatnya meninggal dan dia dimarahi sama orang tuanya karna ada suatu hal yang berhubungan dengan itu. Akhirnya dia sedikit berubah dan nggak pernah lagi ngebully Bibik. Ingat banget waktu itu, dia tiba-tiba ngasih Bibik roti dan susu gitu sambil ada sticky notes bertuliskan ucapan minta maaf darinya. Dari situ Bik Farah suka sama dia.”

“Kalau sekarang gimana, Bik?”

“Sekarang, dia ada di Canada buat kerja dan dia udah nikah sama perempuan lain.” Mendengar itu, Senja yang tadinya antusias langsung menurunkan mood-nya dan menatap Bik Farah sedih.

“Bik Farah nggak sedih?”

“Ngapain, Non? Dulu memang Bik Farah suka banget sama dia setelah dia ngasih Bik Farah roti dan susu itu. Bahkan Bik Farah juga pernah nyobak nembak dia tapi nggak diterima. Jadi ya sudah, Bik Farah nyerah. Lagian sekarang Bik Farah percaya kalau kita sebagai manusia di dunia ini sudah ditentukan jodohnya siapa, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk dipertemukan oleh Tuhan,” jelas Bik Farah sambil tersenyum hangat dan menyelesaikan ceritanya.

Senja tersenyum ke arah Bik Farah dan tiba-tiba saja dirinya tergerak untuk bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri perempuan itu di seberang meja, lantas memeluknya erat. “Bik Farah nggak sendiri, kok. Bik Farah punya Senja yang bisa diajak temenan dan juga bisa diajak cerita saat keluarga Bik Farah sudah nggak ada semua.”

“Makasih, Non. Bik Farah baik-baik aja kok.” Bik Farah membalas pelukan gadis itu, kemudian ia melepasnya dan menyuruh Senja untuk kembali menyantap makanannya yang tersisa.

LukaSenja

Bel istirahat sudah berbunyi dari sepuluh menit yang lalu. Benar saja, SMA Wirnamandala mulai hari ini akan sangat sibuk mempersiapkan perwakilan untuk mewakilinya di pekan olahraga beberapa hari lagi. Bahkan mereka juga harus membersihkan dan menghias seisi sekolah karna tahun ini mereka akan menjadi tuan rumah.

Senja mampir ke halaman dan duduk di tribun untuk melihat Ensel berlatih basket bersama kawanannya. Di samping kanan dan kirinya banyak murid perempuan yang tengah berteriak histeris menyoraki anak-anak basket dan benar-benar mengidam-idamkan mereka. Senja hanya bisa menggeleng sembari meneguk minuman dingin miliknya.

Dari belakang, tiba-tiba seseorang menepuk salah satu bahunya dan duduk nyaman di sebelahnya. Itu Luka. Laki-laki itu tiba-tiba saja duduk di samping Senja sambil memberikan sebungkus wafer kepadanya.

“Apa, nih?”

“Udah, terima aja. Nggak usah sok jual mahal,” cibir Luka sambil menyodorkan wafer itu kepada Senja. Tatapannya lurus ke depan, bukan ke arah Senja.

Sedangkan Senja hanya bisa mengernyitkan dahinya dan tidak menerima wafer itu meskipun Luka sedikit memaksanya.

“Gimana ulang tahun Nyokap lo? Seneng karna gelasnya udah ada?”

“Kepo banget lo kayak deket aja sama gue,” cetus Senja cuek.

“Keknya gue salah deh kemaren ngajak lo ke pabriknya Paman gue. Harusnya lo traktir gue sih di cafetaria hari ini buat ngucapin terima kasih.”

Senja sontak bangkit dari tempat duduknya dan menatap Luka tajam. Ia sepertinya sedikit kesal dengan lelaki itu dan ia ingin sekali memukulnya menggunakan botol minumannya. Tapi apa kabar jika perilakunya itu dilihat banyak orang di sana, apalagi di belakang laki-laki itu banyak anak perempuan yang tengah duduk di sana sambil menatap tajam Senja yang duduk di samping Luka.

Tiba-tiba sebuah bola terbang ke arah Senja dan mendarat dengan keras di wajahnya. Gadis itu langsung terhuyung dan jatuh terperenyak. Semua orang kemudian terkejut dan seluruh perhatian tertuju ke Senja yang meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Lo nggak papa, Se?” tanya Ensel yang beberapa detik yang lalu berlari menghampiri temannya yang sedang kesakitan itu.

Senja mengangguk pelan tapi kepalanya yang mulai merasa sangat sakit berkata lain. Perlahan pandangan Senja mulai kabur dan matanya mulai tertutup. Napasnya tercekat beberapa saat dan akhirnya ia pingsan saat itu juga.

Baca Juga : LukaSenja : Chapter 11

Baca Juga : Tips dan Cara Membuat Cerita di Wattpad bagi Penulis Pemula