Kembalikan Peran Ayah dalam Pengasuhan

Ayo Membaca1638 Dilihat

Kembalikan Peran Ayah dalam Pengasuhan – Budaya patriarki yang telah mengakar dalam sistem kehidupan keluarga di kalangan masyarakat berpengaruh terhadap kesan bahwa pengasuhan anak secara penuh adalah urusan ibu. Hal ini yang berakibat fatal terhadap perkembangan anak baik dari segi emosi, mental, sosial sampai pada kecerdasan akademik. Kehadiran ayah dalam pengasuhan anak sangat dibutuhkan sebagai pelengkap sisi-sisi yang kosong yang tidak bisa diisi oleh kehadiran ibu. Itulah mengapa dalam pernikahan komitmen untuk bersama-sama dalam mengasuh dan mendidik anak harus dibangun oleh pasangan suami-istri, antara ayah dan ibu. Realita yang ada hampir di seluruh lapisan masyarakat, seorang ayah hanya sibuk dalam dunia pekerjaan, mencari nafkah atau urusan di luar domestik. Dan sebaliknya seorang ibu dibebankan tanggungjawab terhadap pengasuhan anak secara penuh. Sehingga dalam tulisan ini perlu kita bahas secara tuntas, bagaimana jika Ayah sama sekali atau jarang terlibat langsung dalam pengasuhan.

            Sebelum menjadi seorang guru, pekerjaan saya adalah memberikan penyuluhan tentang pengasuhan ke sekolah-sekolah dalam event pengambilan raport, baik di kota maupun di pelosok desa. Pemaparan saya di atas diperkuat dengan fenomena yang saya temui saat menjalankan tugas sebagai penyuluh. Pertama, pemandangan yang saya temui saat masuk kelas ataupun aula sekolah adalah hampir semua yang datang adalah ibu. Ada dari kalangan ayah namun hanya satu sampai dua manusia saja. Kedua, saat saya membuka pembicaraan lalu mulai berinteraksi dengan audiens yang rata-rata adalah ibu. Saya bertanya kepada mereka, “Kalau anak ibu jatuh karena bermain panjat-panjat pohon, siapa yang dimarahi?, saat anak ibu nilai PR jelek, siapa bu yang dimarahi?, saat anak ibu berkata-kata kotor siapa bu yang disalahkan?, saat anak ibu tidak berani tampil di muka umum, karena terlalu minder, siapa bu yang disalahkan?”, secara serentak mereka menjawab, “ibu…….”. Nah ini adalah realita bahwa tanggungjawab perkembangan anak dilimpahkan penuh kepada tugas seorang ibu. Maka tidak salah dan tidak berlebihan jika disampaikan bahwa pendidikan dan edukasi pra-nikah sangat berpengaruh besar terhadap masa depan peradaban.

Baca Juga :

Jangan Ludahi Wajah Manusia
Fungsi Profesinya dulu, Apa Fungsi Manusianya dulu?

            Maka kita kupas satu per satu sebenarnya seperti apa peran seorang ayah dalam pengasuhan sehingga disebutkan jika tanpa kehadiran ayah berdampak pada perkembangan anak. Seorang psikolog anak dan praktisi parenting yang  sering membuka pikiran saya adalah Ibunda Elly Risman. Dari hasil disertasi doktoral beliau, bahwa menurut survey menunjukkan pengaruh ketidak-hadiran seorang Ayah dalam pengasuhan sangat fatal. Jika anak itu laki-laki, maka anak akan menjadi pribadi yang agresif, berpotensi ke narkoba, sampai kepada seks bebas, kurang tanggungjawab. Jika anak itu perempuan maka berpotensi terjerumus ke dalam seks bebas serta agresif. Sangat mengerikan akibat yang ditimbulkan jika anak sepi bahkan sama sekali tidak merasakan kehadiran ayah dalam proses tumbuh kembangnya. Ayah hanya hadr dalam bentuk fisik saja. Itulah realitas kehidupan keluarga di zaman modern.

            Sekali lagi kehadiran ayah dibutuhkan oleh anak bukan dari segi fisik saja, namun Ayah juga berkewajiban untuk memberikan asupan nutrisi untuk jiwa spiritualitas anak. Anak yang tidak merasakan kehadirn ayah akan sepi jiwanya. Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan kadar pendampingan ayah yang proporsional dalam pengasuhan sehari-hari, memiliki nilai Intelligence quotient (IQ) yang rata-rata lebih tinggi dibanding dengan anak yang tidak mendapatkan sentuhan peran ayah dalam kesehariannya. Hal ini disebabkan karena adanya stimulasi interaksi oleh ayah yang lebih menekankan eksplorasi analitis dan kritis sehingga dapat memicu perkembangan otak anak sejak dini. Jadi ayah bisa mengajak bermain anaknya dengan permainan yang menantang yang tidak pernah anak lakukan dengan ibunya. Permainan itu biasa kita temui dengan permainan kuda-kudaan, dengan si anak naik di punggung ayahnya. Permainan juga bisa dilakukan dengan bermain lari-larian mengejar bola dan lain-lain. Bentuk permainan yang menantang itu membuat anak melakukan ekspansi kemampuan analitisnya yang jarang dilakukan bersama Ibu. Hal ini membuat kemampuan berfikir kritis dan analitis anak berkembang pesat.

Kembalikan Peran Ayah dalam Pengasuhan

            Peran ayah selanjutnya dalam sisi perkembangan emosi anak adalah membuat emosi anak menjadi lebih matang, tenang, nyaman serta menumbuhkan kepercayaan diri kepada anak. Sebaliknya absennya ayah dalam pegasuhan anak, terutama pada anak perempuan akan membuat si anak merasa sepi dan bermasalah pada emosinya. Hal ini dikarenakan hubungan emosi anak perempuan dengan ayahnya sangat kuat. Itulah mengapa anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ayahnya. Kedekatan anak perempuan dengan ayahnya juga membantu si anak belajar mengenali konsep interaksi dengan dunia luar. Tidak hanya itu, kehadiran ayah juga membantu anak menyerap wawasan tentang dunia luar, keberanian berspekulasi, termasuk gambaran tentang interaksi dengan lawan jenis. Kesemuanya itu sangat menentukan pandangan anak di masa depannya.

            Tidak heran ketika anak yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ayahnya akan mudah terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Demikian juga bagi anak perempuan yang sering mendapatkan kekerasan dari ayahnya, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan sulit untuk percaya kepada orang lain hingga sampai pada penarikan diri. Penelitian membuktikan bahwa anak yang kehilangan dukungan emosi dari ayah akan memiliki masalah pada kemampuan penyelesaian masalah (problem-solving), kecemasan maupun tingkat stress yang tinggi. Sehingga kembalikan peran ayah dalam pengasuhan, maka anak-anak kita akan kembali merasaka kenyamanan, dapat merasakan ruang dalam jiwanya yang kosong terisi dengan kasih sayang ayah.

            Maka tidak salah ketika pendidikan karakter paling pertama dan utama harus diberikan oleh orang tua (dalam hal ini ayah dan ibu) dalam lingkungan keluarga. Dukungan, kehadiran dan kooperatif ayah dalam pengasuhan bisa membentuk pribadi anak menjadi pribadi yang percaya diri, sehat dalam hal emosi, tangguh dalam menghadapi masalah kehidupan.

            Lalu dari segi perkembangan sosialnya. Kehadiran ayah pada pengasuhan anaknya akan membantu anak menjadi pribadi yang mudah bersosialisasi. Komunikasi yang intensif antara anak dan ayahnya dapat menstimulasi anak untuk mampu memahami regulasi perasaan dan perilaku dalam bersikap. Interaksi antara ayah dengan anaknya cenderung mengajarkan anak untuk mandiri dan pro-sosial. Keikutsertaan ayah dalam pengasuhan berfungsi untuk memberikan sosok yang berbeda dari sang ibu. Sehinga anak mendapatkan pengasuhan dari dua sisi yang saling melengkapi yaitu ayah dan ibu.

            Sebagai contohnya dalam aktivitas keseharian dalam aktivitas bermain anak dan orangtua. Ayah cenderung bermain yang lebih bersifat motorik dan interaktif, sementara Ibu lebih memilih permainan yang mengandalkan komunikasi verbal. Hal ini karena oleh Tuhan sudah diatur sedemikian rupa, bahwa kemampuan verbal dan kebahasaan anak merupakan peran dari seorang Ibu, dan kemampuan sosial anak termasuk kecerdasan menyelesaikan masalah masuk dalam peran Ayah. Jadi keduanya antara Ayah dan Ibu perlu kerjasama yang solid dalam pengasuhan anak-anak mereka. Seorang anak dapat belajar dari ayahnya tentang bagaimana cara berinteraksi, menyelesaikan masalah, membangun hubungan timbal-balik atau kerjasama, serta mengeksplorasi dunia luar. Sehingga bisa dikatakan bahwa peran Ayah adalah dalam hal proes pendewasaan diri, menumbuhkan bakat dan kompetensi diri, kepercayaan diri, rasa tanggungjawab dan sikap mandiri pada anak. Kalau peran seorang Ibu adalah pada kematangan kebahasaan anak, perkembangan emosi dan rasa empati anak.

            Jadi peran keduanya antara Ayah dan Ibu sangat diperlukan untuk stimulasi perkembangan anak. Oleh karena itu upaya seorang Ayah untuk berbagi peran dengan Ibu dalam pengasuhan anak sangat menentukan bagaimana anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, matang dan seimbang. Untuk ayah seyogyanya meluangkan waktunya setiap hari walaupun tidak seintensif sang Ibu  untuk sekedar memeluk anaknya, mengucapkan kata, “ayah sayang kepadamu nak”, “anak ayah yang cantik sudah makan apa belum”, “anak ayah pinter, mainan apa ini”. Apalagi ketika meluangkan waktunya untuk bermain dengan anak, untuk belajar dengan anak, untuk mendengarkan cerita anak. Hal ini sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya sang anak menjadi pribadi yang sehat, matang dan seimbang.

            Sekali lagi saya singgung, anak yang merasa ditolak tidak dihargai oleh orang tuanya sendiri (termasuk ayah) inilah yang akan menjadi pemicu emosi negatif. Dibiarkan dalam jangka panjang maka anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tak percaya diri, sulit bekerja sama, hingga jadi korban atau bahkan pelaku bullying. Jadi jalan keluarnya adalah, pulanglah wahai ayah. Anak-anakmu menunggumu di rumah untuk bermain bersama, belajar bersamamu, hingga engkau mendengarkan ceritanya.

Kembalikan Peran Ayah dalam Pengasuhan Oleh : Agus Novel Mukholis