Di Terjang Pandemi, Peran Masyarakat Semakin Dinanti

Essay Geografi593 Dilihat

Disrupsi Budaya, demikian yang disampaikan Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud) Irsyad Zamjani dalam sebuah sambutan pada Forum Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan yang berlangsung semi dalam jaringan (daring) di Jakarta, Kamis 15 Oktober 2020. Disrupsi Budaya, suatu ungkapan yang menyatakan perubahan dari seorang Kepala Puslitjakdikbud terhadap budaya yang ada di bangsa kita saat ini. Kalimat tersebut lahir dari opini-opini masyarakat luas yang melihat banyaknya inovasi serta perubahan besar-besaran dalam sektor budaya.

Irsyad Zamjani melakukan penelitian tentang perkembangan dan perubahan yang terjadi akhir-akhir ini dalam sisi budaya terhadap para pelaku seni dan industri kreatif. Beliau meneliti sejumlah kebudayaan atau kebiasaan baru yang muncul selama pandemi. Ternyata hasil penelitian tersebut cukup untuk menjadi hal yang harus diperhatikan. Para pelaku seni di Indonesia mengatakan bahwa kunci mereka bisa bertahan dalam situasi pandemi adalah pola dan daya adaptasi serta strategi-strategi baru yang harus mereka lakukan dengan cepat. Hal inilah yang menyebabkan perubahan secara besar-besaran dalam sektor industri kreatif dan budaya. Dimana para pelaku seni dituntut untuk terus mengeluarkan sesuatu yang baru agar masyarakat tidak mengabaikan kebudayaan selama adanya pandemi.
Rasanya tidak berlebihan ketika beliau menggunakan kata disrupsi untuk menggambarkan situasi saat ini. Disrupsi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sebuah hal yang tercabut dari akarnya.

Sementara dalam arti umum, Disrupsi adalah sebuah era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental yang mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Patut bila seorang Irsyad Zamjani menyebut banyak terjadi perubahan yang signifikan dalam sektor budaya kita saat ini. Banyak hal-hal baru yang mungkin masih terasa asing bagi beberapa orang terutama para penikmat seniman lama. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga membandingkan inovasi kebudayaan dari sebelum adanya pandemi dan sesudah adanya pandemi. Tradisi, pertunjukan, adat istiadat semua itu selalu ada dan dilaksanakan semua masyarakat secara langsung sebelum adanya pandemi. Menciptakan langkah-langkah yang strategis dan inovatif dalam mempromosikan kebudayaan. Kemampuan mempertahankan kebudayaan lama yang harus tetap ada dan dilestarikan itu diperoleh dari pemikiran mereka yang beraneka ragam. Gagasan brilian dalam menghadapi segala tantangan baru selama pandemi yang harus mereka terapkan merupakan ide-ide kreatif yang mereka temukan.

Baca Juga :

Pengaruh Covid-19 Terhadap Kebudayaan Di Bali

BANGKITNYA KESENIAN JARANAN DARI SEKARAT WABAH COVID-19

PERUBAHAN INDONESIA PASCA WABAH COVID-19

Selama beberapa tahun belakangan ini, kita telah merasakan dampak pandemi yang luar biasa. Kita tidak lagi bisa melakukan aktivitas secara leluasa mengingat aturan-aturan baru yang terus muncul seiring derasnya angka positif covid-19. Perhatian secara khusus yang diberikan Irsyad Zamjani sangat berasalan, ditambah sebuah fakta yang dikemukakan oleh Perwakilan Koalisi Seni Indonesia, Ratri Ninditya yang mengatakan bahwa terdapat lebih dari 58.000 seniman yang terdampak. Berbagai acara dan kegiatan seni-budaya dibatalkan: 234 acara seni, 113 konser musik, 46 seni pertunjukan, 33 pameran seni, 30 acara perfilman, 10 pertunjukan tari, 2 kegiatan literasi.

Ini adalah masalah besar, mengingat Indonesia sangat kental akan kebudayaan. Disrupsi budaya yang terjadi akibat pandemi ini merubah dimensi estetik bangsa Indonesia. Melihat keadaan ini, tidak ada jalan lain untuk mempertahankan kebudayaan asli Indonesia selain menggalakkan budaya di berbagai kalangan melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia.

Budaya, begitu besar pengaruhnya sebagai pondasi karakter dan indentitas bangsa. Tidak heran bila para seniman terus berlomba-lomba menciptakan inovasi terbaru agar menarik minat masyarakat di masa pandemi ini.
Disinilah seharusnya masyarakat terutama generasi muda bisa mengambil peran penting dalam melestarikan kebudayaan. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Tetapi pada dasarnya makna masyarakat tidak sesempit itu. Dengan tingkat intelektual dan kreativitas yang dimiliki, masyarakat diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk membantu para pelaku seni dalam memajukan kebudayaan.

Setiap masyarakat pasti jauh tersirat dalam benaknya tentang arti dan kualitas hidupnya sebagai pribadi yang mampu mengabdi terhadap bangsanya sendiri. Pribadi yang diharapkan dalam hal ini adalah pribadi yang mampu menyikapi permasalahan disekitarnya serta menjadi bagian penentu arah dalam menciptakan solusi atas masalah-masalah yang ada. Suatu keadaan yang menggambarkan perubahan terhadap kebudayaan dasar Indonesia hendaknya menjadi perhatian masyarakat.

Slogan “Budaya Kita adalah Tanggung Jawab Kita” yang melekat pada diri masyarakat Indonesia hendaknya dicerminkan melalui sikap dan perilaku yang mendukung berkembangnya budaya Indonesia. Di kesempatan seperti inilah masyarakat seharusnya bekerjasama mencari jalan keluar terbaik dalam menghadapi era disrupsi di tengah pandemi. Masyarakat hendaklah bersama-sama ikut menciptakan sebuah inovasi budaya Indonesia tanpa menghilangkan arti dan makna kebudayaan tersebut. Sebagai masyarakat ada beberapa peran dalam menjaga dan melestarikan budaya diantaranya yaitu :

  1. Ikut serta dalam mendukung berbagai aktivitas budaya
  2. Tidak mengacuhkan budaya yang ada
  3. Menjunjung tinggi berbagai kearifan lokal yang ada

Dari pemaparan diatas, dapat diartikan bahwa masyarakat sebagai pelaku utama dalam kebudayaan harus memiliki pemikiran dan kreativitas yang unggul. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dan tugas masyarakat dalam mempertahankan kebudayaan di Indonesia selama pandemi, antara lain :

Kesadaran untuk memelihara budaya

Kesadaran merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam kelangsungan hidup. Ketika adanya kesadaran seseorang bahwa adanya budaya itu penting, maka orang tersebut akan berusaha untuk mempertahankan kebudayaan tersebut. Sebaliknya jika kesadaran itu tidak ada, maka kelestarian budaya semakin lama akan semakin menurun dan hilang begitu saja.

Respon atau sikap terhadap perubahan yang terjadi

Para seniman sepertinya juga tidak siap terhadap ruang ‘skeptis’ pandemi yang sangat menekan kehidupan mereka. Akan tetapi, semangat juang mereka terhadap seni tidak bisa dihapuskan. Hal ini terbukti, salah satunya dengan diadakannya konser musisi #dirumahaja yang diinisiasi oleh Najwa Shihab (Founder Narasi). Dari aksi ini, tergambar bahwa seniman tidak ‘mandeg’ dalam berkreasi. Ada banyak ide-ide kreatif yang siap meluncur bagi penikmat seni pada masa pandemi. Sejalan dengan hal tersebut, respon masyarakat sangat dibutuhkan sebagai bentuk apresiasi terhadap para pelaku seni dalam upaya melestarikan budaya.

Pemanfaatan sosial media sebagai pengganti ruang pentas

Seniman saat ini sedang mengalami guncangan hebat akibat dampak pandemi Covid-19. Banyak pertunjukan seni yang dibatalkan sehingga seniman harus kehilangan mata pencaharian maupun karirnya. Para seniman harus berkompromi jika tidak ingin karirnya hancur. Dengan mengubah ruang pentas menjadi daring (online) juga akan membuat para seniman mengembalikan daya ciptaannya supaya sesuai dengan keadaan saat online.

Selain itu, ada tantangan yang muncul ialah adanya ketercukupan akses data agar penampilan tidak tersendat di pertengahan. Tontonan seni pertunjukan pun akan lebih jelas terasa murni jika ketika kita melihat langsung. Jika online mungkin penonton akan kehilangan hasrat menikmati pertunjukan. Para seniman memang membutuhkan waktu untuk merespon keadaan ini agar tidak diam pasrah. Dalam waktu dekat, para seniman harus memutar otak agar industri seni mampu terus berkarya.

Sebagai fasilitator dan pelopor

merupakan peran masyarakat dalam menciptakan ruang pertunjukan bagi para pelaku seni serta pelopor bagi seniman untuk menciptakan peluang baru dalam situasi dan kondisi pandemi seperti saat ini.

Sebagai pembangkit dan pendorong semangat para pelaku seni

untuk terus berkarya dan menciptakan perubahan-perubahan baru dengan mengikuti perkembangan zaman serta menyiapkan diri untuk perubahan lebih besar selanjutnya.

Dengan keberhasilan bangsa ini dalam menghadapi era disrupsi budaya maka dapat membawa budaya Indonesia menuju era baru yang lebih modern dan terkenal di kalangan generasi muda bangsa Indonesia atau bangsa lainnya. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat yang secara tidak langsung menjadi bagian dari pelaku seni haruslah memiliki nilai-nilai fungsi dan peran masyarakat dalam melestarikan budaya sehingga diharapkan nantinya budaya bangsa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa menghilangkan keaslian makna budaya itu sendiri.