Bayaran Lewat Gang

Ayo Membaca1514 Dilihat

Warning : Cerita “Bayaran Lewat Gang” ini sama sekali tidak berdasarkan kehidupan atau kisah nyata, jika ada kesamaan peristiwa, kejadian, dan yang lainnya, author mohon maaf, karna itu hanya imajinasi author semata.

Bulan Agustus kali ini sungguh meriah. Acara-acara tahunan seperti pawai budaya kembali dilaksanakan. Pandemi yang dibenci dunia kini menghilang dan berharap tidak akan kembali lagi selamanya. Entah kenapa belakangan ini cuaca mendadak panas, sangat panas. Apa mungkin karna Tuhan yang Maha Esa tahu kalau hamba-hambanya sedang memeriahkan suasana kemerdekaan?

Baca Juga : Nyaman dan Aman

Hari ini di sekolahku terjadi fenomena alam yang luar biasa, di mana pihak sekolah memulangkan para siswanya karna di luar sana terdapat pawai budaya besar-besaran tingkat SMA/Sederajat. Mengejutkannya lagi, tahun ini sekolahku tidak ikut berpartisipasi mengeluarkan perwakilan-perwakilan terbaik mereka ke luar sana, padahal biasanya tahun lalu sebelum adanya pandemi, sekolahku selalu ikut berpartisipasi. Entahlah aku harus senang karna tidak perlu mengeluarkan uang untuk berpartisipasi atau sedih karna tidak bisa ikut memeriahkan kegiatan kecamatan.

Tidak apa, tahun ini aku akan menjadi penonton paling bersemangat. Hari ini, setelah sekolah dipulangkan lebih pagi, aku dan teman-temanku berniat untuk menonton pawai budaya yang sudah dimulai sekitar dua jam yang lalu. Kita agak menyesal karna kita tidak dipulangkan lebih awal, ada sekolah yang kita kagumi dalam hal drumband dan kita tidak bisa melihatnya karna mereka sudah lewat jauh, hampir menyentuh garis finish.

Aku berdiri di pinggir jalan bersama dengan dua temanku, Tria dan Aida, bergerumbul bersama penonton lain sembari menyoraki sekolah tetangga yang berhasil membuatku kagum dengan pawai budaya mereka. Kostum-kostum mereka entah kenapa di mataku seperti berseri, sparkling, shimering, dan pastinya splendid. Mungkin memang jiwa-jiwa miskinku saja yang tengah bergetar.

Tak berhenti di situ, pasangan duta sekolah tetangga itu berhasil membuatku terpukau. Berbalut dengan busana batik yang megah nan indah, mereka bak putri dan pangeran yang keluar dari istana, dan inilah pawai mereka.

Setelah barisan sekolah tersebut menghilang dari pandangan, aku dan dua temanku menepi di pinggir jalan, duduk-duduk sembari menanti barisan selanjutnya lewat.

“Kalian nggak haus?” tanya Tria sembari mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke arah wajahnya. Sinar matahari siang ini benar-benar membuat kandungan mineral di dalam tubuh kita menyusut seketika.

“Haus, sih,” jawabku.

“Beli es, yuk!” seru Aida sambil menarik tangan Tria untuk berdiri.

Aku ingin bergabung bersama mereka berdua tapi setelah ingat kalau dompetku tertinggal di jok sepeda motor, aku segera mengurungkan niat. “Eh, tunggu bentar. Aku ambil uang di dompet dulu, dompetku ketinggalan di jok sepeda motor.”

“Oke,” jawab Tria dan Aida serempak. Keduanya kemudian kembali duduk.

Aku berlari kecil menuju ke barisan parkiran sepeda yang tidak jauh dari tempatku berada tadi. Tanpa lama, aku langsung menemukan di mana sepedaku terparkir rapi bersama dengan sepeda motor pengendara lain yang ikut menonton pawai budaya di daerah situ.

Setelah berhasil mengambil dompet dari dalam jok, aku segera kembali untuk menemui Aida dan Tria yang pasti sudah menungguku lama. Tapi langkahku segera terhenti saat di pintu gang yang di mana dibuat parkiran sepeda, terdapat bapak-bapak yang sepertinya mereka adalah tukang parkir yang memarkirkan sepedahku dan teman-temanku tadi, namun mereka tidak mengenakan seragam atau atribut layaknya tukang parkir resmi pada umumnya. Mereka tengah menghalangi pengendara motor lain yang mau masuk gang tersebut dan menyodori mereka sebuah kertas seperti karcis.

“Pak, mohon maaf, Pak. Saya kan cuman mau lewat, bukan mau parkir.”

“Nggak bisa, Bu. Karna ada pawai budaya, semua gang ditutup. Ibu kalau mau lewat harus bayar tiga ribu dulu, Bu.”

“Ya deh, Pak.” Ibu itu langsung merogoh dompetnya untuk mengambil uang tiga ribu rupiah dan memberikannya kepada salah satu dari bapak-bapak itu. Setelah itu, barulah mereka membukakan jalan untuk ibu tersebut.

Dari tempatku berdiri, sedikit jauh dari bapak-bapak itu, aku hanya bisa menatap tajam mereka. Bukankah gang ini adalah milik umum? Kenapa pengendara motor lain disuruh bayar ketika mereka ingin melewati gang tersebut? Aku tahu kalau sekarang ada pawai budaya yang besar dan pengendara motor dari seberang jalan yang masuk ke gang tersebut untuk mencari jalan pintas, kadang dipandang sebelah mata oleh para masyarakat yang tengah asyik menonton pawai itu. Tapi apakah mereka juga salah kalau mereka lewat gang hanya untuk mencari jalan pintas alih-alih mereka mengambil jalan yang digunakan untuk pawai dan merusak pawai itu?

Baca Juga : Sanksi Hukum Bagi Tukang Parkir Liar

Yang membuatku menghela napas berat adalah ketika terdapat pengendara motor yang akan masuk gang, sekumpulan bapak-bapak itu selalu berseru bersama untuk menghentikan pengendara tersebut, tidak pandang usia, kelamin, dan lain sebagainya, semuanya dihentikan. Aku hanya menatap mereka heran dari kejauhan. Memang, semua orang berhak berpendapat, tapi aku takut jika kegiatan mereka memang sudah diberi izin oleh atasan, sedangkan aku yang hanya seorang siswa ini juga tidak bisa apa-apa. Ah, sudahlah. Ketakutanku itu hanya akan selalu jadi bayang-bayang buruk di kepalaku saja.

Cerpen by Anak Pemalas