Selain populer dengan lanskap alamnya yang indah dan mengagumkan, kota dengan nama lain Blambangan ini juga memiliki keragaman budaya yang patut dikenalkan oleh anak-anak Nusantara untuk dilestarikan.
Sekarang, teknologi semakin canggih. Semua orang dan tidak terkecuali saya sendiri, selalu fokus dengan hal tersebut sehingga lupa dengan budaya-budaya yang ada di sekeliling, hasil jerih payah nenek moyang kita yang harus kita lestarikan.
Sebagai seorang murid dari salah satu madrasah di Banyuwangi, awalnya saya hanya ingin menulis artikel ini untuk mengenalkan budaya-budaya Banyuwangi ke anak-anak Nusantara, karna selain masyarakat Banyuwangi sendiri, masyarakat dari kota lain juga bisa melestarikannya. Tapi, pada akhirnya, artikel ini juga akan menjadi sebuah evaluasi dan bahan introspeksi diri untuk para remaja yang buta akan budaya. Mari saya kenalkan budaya-budaya dari Banyuwangi dan sedikit cerita tentang budaya tersebut.
1. Kebo-keboan
Kebo-keboan atau yang biasa disebut dengan manusia kerbau ini merupakan kebudayaan unik pertama yang akan kita kupas di artikel ini. Seperti namanya, kebo-keboan merupakan sebuah upacara adat yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan YME atas segala karunianya dan rezeki panen yang di dapat para warga Desa Aliyan dan tolak bala. Upacara ini dilaksanakan sudah selama 300 tahun ketika bulan Muharram (Suro).
Baca Juga : 10 Implementasi Pembelajaran Geografi Dalam Kehidupan Sehari-hari.
Diawali dengan syukuran di sepanjang jalan desa, kemudian mengarak kebo-keboan yang berjumlah sekitar 30 di empat penjuru desa yang dipimpin oleh tokoh adat. Ritual mengarak itu disebut sebagai ider bumi yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai mengitari bumi. Upacara kemudian diakhiri dengan penyebaran benih oleh kebo-keboan sebagai penanda harapan para warga untuk musim panen selanjutnya.
2. Tari Seblang
Selain kebo-keboan, ritual yang disebut Seblang ini juga bertujuan untuk menolak bala. Ritual ini diadakan di dua desa di Banyuwangi, yaitu Olehsari dan Bakungan. Nah, dua desa tersebut memiliki perbedaan dalam waktu pelaksanaan ritual ini. Kalau desa Olehsari, itu diadakan setelah hari raya idul fitri dengan mengeluarkan penari yang masih perawan, sedangkan di desa Bakungan diadakan setelah hari raya idul adha dan penarinya sudah tua atau menopause.
3. Meras Gandrung
Gandrung adalah salah satu jenis tarian tradisional yang populer di Banyuwangi. Mungkin banyak orang luar Banyuwangi yang pernah lihat tarian ini ditarikan oleh perempuan yang cantik. Namun, kalian harus tahu kalau Gandrung pertama kali ditarikan oleh pria yang disebut dengan Gandrung Marsan. Makanya, tak jarang saat pawai budaya dalam rangka HUT RI di beberapa kecamatan di Banyuwangi, mengeluarkan tari Gandrung yang ditarikan oleh para pria.
Nah, sejarah tari gandrung itu dikisahkan dalam ritual Meras Gandrung ini. Meras Gandrung ini adalah ritual kelulusan penari Gandrung pemula yang akan dijadikan penari profesional. Semacam wisuda gitu, ya. Ketika mereka dijadikan penari profesional, mereka dituntut untuk tidak hanya elok atau bagus dalam menari, mereka juga harus bisa menyanyi. Ritual ini diadakan setiap sebulan sekali di Taman Gandrung Terakota.
4. Jaranan Buto
Tari jaranan merupakan kesenian tari yang memiliki asal beragam dan sejarah yang lumayan panjang. Penampilannya pun juga beda-beda biasanya tiap daerah. Di Banyuwangi, ada yang namanya Jaranan Buto. Berbeda dengan jaranan pada umumnya, penari jaranan buto ini didandani mirip dengan sosok buto yang merupakan sosok menyeramkan berbadan besar. Bukan hanya penarinya saja, properti kuda-kudaan yang ditunggangi penari juga didandani seperti sosok Buto.
Baca Juga : Mengintip Luhurnya Tradisi Lebaran di Banyuwangi
5. Mocoan Lontar Yusuf
Selain budaya yang berjenis tarian, upacara adat, Banyuwangi juga punya kebudayaan berjenis lagu berbahasa Osing yang katanya cukup langka, yaitu Mocoan Lontar Yusuf.
Mocoan Lontar Yusuf adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat suku Osing Banyuwangi berupa pembacaan lontar (naskah) Yusuf. Lontar Yusuf sendiri merupakan sebuah kitab kuno yang di dalamnya tertulis aksara pegon dan isinya bercerita tentang kisah Nabi Yusuf. Bentuknya kayak gimana, sih? Bentuk dari Lontar Yusuf itu berupa puisi tradisional yang terikat dalam aturan yang biasa disebut pupuh. Dilansir dari website Yuk Banyuwangi totalnya ada 12 pupuh, 593 bait, dan 4.336 larik.
Nah, itu dia beberapa budaya dari daerah tempat saya tinggal yaitu Banyuwangi. Budaya-budaya itu selalu dilestarikan oleh para warga dan anak remaja seperti saya punya peran yang sangat penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat yang masih buta budaya agar ikut melestarikan budaya-budaya tersebut. Canggihnya teknologi juga tidak hanya berdampak negatif terhadap kebudayaan Indonesia, tinggal kita saja bagaimana memanfaatkannya untuk melestarikan budaya di Indonesia.
Kita bangsa Indonesia, kita bangga dengan Budaya Indonesia!




