BUDAYA BARU MENGHADAPI COVID-19

Essay Geografi649 Dilihat

Corona virus atau covid-19 muncul pertama kali tahun 2019 silam, seluruh masyarakat digegerkan dengan merebaknya penyakit menular yang berasal dari Huanan Seafood Market, Wuhan, Hubei, Cina. “Covid-19” Fenomena ini adalah bentuk dari keprihatinan masyarakat.. World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020 menyatakan bahwa wabah virus corona merupakan pandemi global.

Virus corona (Covid-19) merupakan penyakit yang menular disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Virus ini dapat menyerang semua kalangan tanpa memandang umur baik dari balita hingga orang tua. Virus ini menular dengan cepat dan menyebar sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia. Sehingga, covid-19 menjadi musuh seluruh negara didunia yang membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat salah satunya dalam aspek budaya.

Dengan kata lain, pandemi ini telah memunculkan budaya baru pada masyarakat untuk merespon kebijakan pembatasan aktivitas sosial yang ada. Dengan menerapkan kebijakan pembatasan sosial tentunya mengubah nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat yang berdampak pada perubahan pola pikir, pandangan, serta sikap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Menambah budaya baru yang semula asing berubah menjadi rutinitas masyarakat, seperti yang awalnya hanya sebagian kecil masyarakat yang menggunakan masker tetapi sekarang semua diwajibkan menggunakan masker. Yang awalnya selalu berkumpul dan bercengkrama dengan teman-teman atau saudara sekarang harus dibatasi dan menjaga jarak.

Semua yang awalnya dari kebiasaan menjadi sebuah pantangan dan yang semula hal asing bagi kita harus menjadi kebiasaan baru yang tidak bisa dihindari lagi. Budaya baru menggunakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun, siap sedia handsanitizer, menjaga jarak, menghindari kerumunan massa, menghindari kontak fisik dengan orang lain, dan penerapan berbagai protokol kesehatan lainnya yang telah menjadi budaya baru bagi kita.

Baca Juga : Pergeseran Budaya di Tengah Pandemi

Berbagai aktivitas sosial yang sebelumnya dapat kita lakukan dengan leluasa dan tanpa aturan, sekarang harus dilakukan dengan protokol kesehatan. Bahkan untuk kegiatan sosial seperti acara pernikahan, hajatan, syukuran, hiburan, pentas seni, dan lain-lain terpaksa harus dihentikan dan ditiadakan. Terlebih adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berkelanjutan hingga mencapai level 4 yang memaksa kita untuk mengurung dan mendekam diri di dalam rumah.

Bukankah budaya baru ini sangat sulit terlebih kita sebagai warga Indonesia yang dikenal blater atau mudah akrab dan sangat akrab sehingga sulit untuk menjaga jarak atau menghindari kontak dengan orang lain. Yang terbiasa menyapa tetangga saat pagi hari, mencium tangan saudara, berkunjung kerumah teman, dan menghadiri kegiatan sosial lainnya seperti yasinan, tahlilan, dsb. Sekarang hanya bisa menyapa dan berinteraksi melalui media sosial. Sistem pembelajaran yang dulunya dilakukan secara langsung dan bertatap muka, kini beralih menjadi sistem pembelajaran jarak jauh atau via daring atau online atau study at home dan masih banyak lagi sebutan untuk pembelajaran berbasis teknologi dan media sosial ini. Pembelajaran ini dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media sosial seperti WhatsApp, Email, hingga aplikasi Tik Tok.

Bahkan karena covid-19 ini, banyak masyarakat yang mengalami panic buying atau pembelian bahan makanan secara berlebihan Ketika pandemi karena dikhawatirkan akan terjadi krisis pangan. Termasuk juga beberapa alat kesehatan seperti pendeteksi suhu tubuh, masker, hingga alat tes covid. Selain itu, juga beberapa obat-obat yang diyakini dapat mencegah penularan covid seperti vitamin C, vitamin B5, vitamin E dan lain-lain. Terjadinya pandemi covid-19 ini membawa banyak sekali perubahan salah satunya pada bidang kultur atau budaya. Terjadi pengurangan kegiatan atau bahkan pembatalan kegiatan masyarakat, seperti ibadah berjamaah di tempat ibadah umum, tingkat sosialisasi masyarakat yang secara tidak langsung akan berkurang dan menurun, media komunikasi yang berubah, hingga beberapa kondisi baru seperti kepanikan dan tingkat stress yang jadi lebih tinggi.

Lihat Juga : Materi Mitigasi Bencana | Pengertian Bencana

Segala aktivitas yang dahulu bersifat sosial dirubah konsepnya dengan aktivitas sosial yang berbasis media, dimana kata sosial itu kita lakukan didalam media elektronik. Sehingga diperlukannya kemampuan IPTEK dan juga perangkat yang memadai untuk menghadapi budaya baru di masa pandemi covid-19. Maka diperlukan sebuah coaching atau mentoring kepada masyarakat agar dapat mengubah prilaku menuju budaya baru mengadapi covid-19 dan strategi budaya untuk mengubah prilaku ini tidak hanya bisa dilakukan dengan himbauab, intruksi, dan rekomendasi sedangkan norma-norma budaya yang baru belum di internalisasikan.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan dengan mengenalkan dan menginternalisasikan budaya baru menghadapi covid-19 kepada masyarakat. Kombinasi prilaku hidup sehat dalam adaptasi kebiasaan baru menjadi Langkah awal untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya point tersebut. Aktor-aktor budaya harus dilibatkan karena secara sosial – kultural mereka memiliki pengaruh di masyarakat sehingga hal ini dapat dimanfaatkan untuk mendistribusikan sekaligus mewajibkan budaya baru prilaku hidup sehat ditengah wabah covid-19 ini, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, dan membatasi aktivitas di tempat umum.

Pendekatan kultural lainnya yang dapat dilakukan adalah tetap menghidupkan budaya kebersamaan dan gotong royong tetapi dalam konteks yang berbeda. Misalnya, mengubah kebiasaan bersalaman dengan mencium tangan, mencium pipi, berpelukan, dengan cara yang lain sesuai protokol kesehatan. Jadi singkatnya, selain wacana medis dan hukum. Pendekatan budaya dari yang asing menjadi rutin juga dapat dijadikan salah satu alternatif dalam membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakat untuk memutus rantai penyebaran virus covid-19 dan mengoptimalkan sosialisasi kebiasaan baru lebih maksimal dan efektif.