Situasi Pandemi yang disebabkan oleh virus Covid19 saat ini membuat masyarakat susah untuk bersosialisasi secara bebas. Kenaikan kasus virus menurut Data Satgas Covid-19 melaporkan pada Jumat (2/7/2021), terdapat penambahan 13.713 kasus aktif, sehingga total kasus yang masih aktif pun menjadi 267.539. Peraturan Pemerintah yang mengharuskan semua individu untuk tetap menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi kegiatan diluar rumah karena dapat beresiko terpapar virus juga menjadi salah satu alasan mereka untuk tidak keluar rumah. Tetapi dampaknya, para warga yang dulunya sering bersendau gurau dan melakukan kegiatan bersama menjadi jarang berkomunikasi dan tak jarang mereka berselisih satu sama lain karena permasalahan yang sepele.
Dikutip dari Laporan Arif Maulana salah satu Mahasiswa Unpad ”Kondisi pandemi di dunia ternyata tidak hanya terjadi saat ini saja. Dalam catatan sejarah peradaban manusia, dunia setidaknya mengalami 3 kali masa pandemi yang merenggut banyak korban jiwa, yaitu pandemi Justinian Plague pada 541 – 542 M (30 – 50 juta jiwa), Black Death pada 1347 – 1351 (200 juta jiwa), dan Flu Spanyol pada 1918 – 1919 (40 juta jiwa)”. Terbukti bahwa Pandemi memang sudah tidak asing di beberapa negara bagian, tetapi situasi ini juga memunculkan adanya perubahan pada budaya maupun hubungan sosial antar masyarakat. Kebudayaan yang lama seperti keja bakti membangun pos kamling, acara pernikahan, upacara – upacara adat, memperbaiki jalan yang berlubang, membantu tetangga yang sedang membutuhkan, dll menjadi berkurang. Akibatnya, masyarakat serasa menjadi lebih egois karena alasan PPKM lalu enggan menolong tetangga. Ada banyak cara untuk menolong tetangga yang sedang kesusahan, kita tidak harus membantu langsung, bisa melalui barang ataupun memberikan sejumlah uang.
Masyarakat yang mulai terbiasa dengan kegiatan yang dibatasi menjadi malas keluar rumah bahkan untuk bersosialisasi, mereka lebih memilih beralih ke media lain untuk sekedar saling bertukar informasi atau hanya untuk menghibur diri. Penggunaan media sosial salah satu contohnya, mulai dari para pelajar, guru, pekerja kantoran, pedagang hingga pelayanan pesan antar makanan sudah menggunakan media sosial. Penggunaannya semakin sering dilakukan karena banyaknya tuntutan tugas ataupun pekerjaan yang diharuskan melibatkan sosial media, entah itu untuk mengupload tugas, mempromosikan dagangan, merekrut pegawai atau karyawan secara online. Kebudayaan yang baru ini secara tidak langsung mulai menggeser kebudayaan lama, mau tidak mau dan suka tidak suka.
Karena banyaknya keperluan masyarakat yang berhubungan dengan sosial media inilah yang membuat beberapa orang merasa ketergantungan, maraknya aplikasi online yang populer seperti : TIKTOK, INSTAGRAM, TWITTER, dll juga menjadi salah satu alasan perubahan kebudayaan. Para remaja yang sedang dalam masa pubertas dan sulit membedakan hal hal yang dapat merugikan dirinya sendiri menjadi salah arah dan salah langkah. Anak yang baru memasuki usia puber biasanya cenderung mengikuti apa yang ada disekelilingnya, walaupun ia menganggap itu tidak benar tetapi sadar atau tidak dia menjadi terbiasa.
Baca juga : Potensi Budaya Indonesia
Oleh karena itu pentingnya edukasi untuk tidak membuang kebudayaan lama adalah hal yang menurut saya perlu untuk dilakukan. Tidak jarang nilai-nilai atau budaya luar yang menumpangi globalisasi membawa ide-ide baru yang bertolak belakang dengan norma juga tradisi masyarakat kita. Jika dahulu sebelum adanya pandemi, berjoget joget dengan beriringan suatu musik dan direkan di depan umum adalah hal yang jarang sekali dilakukan karena beberapa orang melihat perilaku itu mengundang atensi dan bahkan juga ada yang mengatakan itu adalah hal yang memalukan. Tetapi tidak untuk sekarang, Masyarakat mulai mewajarkan tindakan tindakan seperti itu karena sering melihatnya di sosial media, baik itu dilakukan oleh warga dari dalam maupun luar negeri. Menurut Max Weber dalam buku Sociological Writings, perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat dari adanya ketidaksesuaian unsur-unsur di dalamnya.
Dengan terbuka luasnya komunikasi dan informasi pada dunia maya membuat semakin banyak budaya Indonesia yang tergeser, budaya – budaya dari luar negeri lebih cepat merambat meracuni para masyarakat di Indonesia bak api yang disulut dalam tumpukan jerami. Budaya –budaya yang tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia pun mulai marak dan sudah mulai berdampingan dengan dengan kehidupan kita secara tidak sadar, Salah satu contohnya adalah maraknya film “Squid Game” di kalangan para remaja hingga dewasa, secara tidak langsung Korea Selatan telah mengenalkan kebudayaan mereka yaitu permainan tradisional mereka semasa kecil, Squid Game sudah menjadi trend baru di media sosial, dengan ini menyebabkan bertambah dikenalnya salah satu kebudayaan negara Gingseng tersebut.
Perkembangan sosial media yang sangat luas tentu saja memiliki pengaruh yang baik kepada masyarakat Indonesia, mempermudah komunikasi salah satunya, perubahan budaya ataupun pergeseran budaya memang bukan merupakan kabar yang baik tetapi jika memang masyarakat kita memiliki jiwa kebangsaan yang benar – benar kental maka mereka akan menggunakan pergeseran budaya ini sebagai cara mengenalkan budaya kita ke negara lain, disaat banyak budaya negara yang sudah pudar maka kita harus bisa memupuk kembali semangat untuk mengenalkan dan membanggakan budaya kita ke kancah internasional.
Pengenalan budaya terhadap negara lain juga banyak berpengaruh kepada pergeseran budaya dinegara itu, pergeseran budaya bukanlah merupakan hal yang negatif, pergeseran budaya juga berpengaruh menghilangkan pikiran – pikiran tabu yang masih dianut masyarakat, bahkan pergeseran budaya juga mampu mempermaju negara karena pikiran terbuka dalam menangani pendapat yang berbeda dari perbedaan yang ada. Namun apabila pergeseran budaya berlanjut tanpa diiringi dengan ilmu dan keimanan maka jadilah jurang untuk negara kita karena memudarnya kebudayaan kita bisa membuat kebudayaan kita diakui oleh negara lain. Apabila hal itu tidak diinginkan maka kita harus mengiringi konten – konten kita dengan berbagai kebudayaan yang memang negara kita miliki, mengenalkan dan bangga pada kebudayaan juga cara mempererat tali persaudaraan, mempertebal nilai – nilai pancasila, juga akan berpengaruh baik pada norma – normah yang ada. Kesimpulannya kita harus selalu mengurai apa yang kita lihat, dengar, dan kita harus selalu mengiringinya dengan kekuatan iman maupu ilmu yang harus selalu kita tambah, dengan itu semua kita bisa mengurangi dampak buruk pergeseran budaya.
Lihat juga : Geografi Budaya (Makanan Khas Banyuwangi)






