Aku Juga Bisa Egois

Ayo Membaca1474 Dilihat

Warning : Cerita “Aku Juga Bisa Egois” ini sama sekali tidak berdasarkan kehidupan atau kisah nyata, jika ada kesamaan peristiwa, kejadian, dan yang lainnya, author mohon maaf, karna itu hanya imajinasi author semata.

Akhirnya, setelah ditunggu-tunggu, Ujian Akhir Semester (UAS) telah selesai. Pikiranku yang tadinya kesana-kemari memikirkan nilai, terbayarkan dengan adanya acara class meeting yang seru banget. Ada banyak lomba yang diadakan di class meeting semester ini, dan seperti biasa, kelasku siap untuk meraih juara.

Selama tiga sampai empat hari, aku disibukkan dengan membantu teman-temanku menyiapkan berbagai hal untuk lomba-lomba class meeting. Menghias baju untuk Batik Fashion Show, membuat Cerpen untuk Pentigraf, supporter lomba bidang olahraga, dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, karna menjadi anggota tim media sekolah, aku juga sempat bertugas untuk menulis sebuah berita yang mana berisikan banyak hal seperti kegiatan di sekolah, prestasi siswa, dan banyak lagi yang lainnya.

Baca Juga : Maksa Amal

Pikiranku benar-benar fresh karna kegiatan tersebut, walau sekali-kali juga down karna kesibukan lainnya. Di hari terakhir class meeting, aku ditunjuk sebagai pembawa acara untuk memandu acara puncak. Aku yang awalnya memang pernah jadi MC dan belakangan ini jarang ada job, tanpa babibu langsung menerima ajakan tersebut. Namun sayangnya, aku harus me jadi MC formal di mana aku paling lemah dalam hal tersebut. Beruntungnya, Aca, temanku yang dulu sering jadi MC formal membantuku untuk berlatih dan menjadi lawan mainku.

Acara puncak dimulai setelah lomba Batik Fashion Show selesai. Aku berkali-kali terpukau dengan model-model dari kelas-kelas lain, apalagi kelasku sendiri. Sebagai ketua kelas, rasanya sangat bangga saat baju karya teman-temanku ditampilkan oleh dua model dari kelasku. Sayang sekali, saat sudah selesai dan aku menerima beberapa pengumuman juara, kelasku tidak juara di lomba itu.

Aku dan Aca dipanggil ke panggung. Kita berdua mulai mengucap salam, membuka acara itu dengan sambutan dari orang dengan kedudukan paling penting di sekolah. Sebagai MC yang baik, Aca bilang kalau kita harus ikut mendengarkan sambutan dari beliau dan aku mendengarkan sambutan beliau dengan baik, manggut-manggut saat pernyataannya benar di pikiranku.

Wajahku tiba-tiba masam saat nama tim media sekolah disebut. “Sekolah kita tuh lambat banget dalam bidang penulisan berita. Sekolah-sekolah lain tuh beritanya cepat keluar, jadi saya harap di sini beritanya juga dengan cepat melesat di website sekolah. Jangan hanya tidur-tidur saja di ruangan kayak tidak ada gunanya aja.” Aku hanya tersenyum mendengarnya, kemudian menggertakkan beberapa gigiku karna sedikit kesal.

Baca Juga : Secret 2 : The Truth of The Past, Wattpad Story by Aiden

Karna hal itulah aku langsung bilang ke Aca kalau ia harus mengambil alih beberapa bagianku saat nge-MC nanti. Setelah itu aku juga terus membatin bagaimana bisa beliau bilang kalau timku, tim penulisan berita tidak becus, padahal semua berita kami tulis walaupun agak lambat. Ya, tak apa, mungkin beliau lupa kalau kami bukan karyawan di sekolah, melainkan seorang siswa yang punya tugas belajar juga.

Aku juga sempat berpikir, apa nanti jika ada berita baru, timku tidak usah menulisnya lagi, bagaimana reaksi beliau? Namun tak apa, aku tetap menuliskan berita dari kegiatan itu. Pembina kami membimbing kami untuk tidak baperan terhadap kritikan yang tidak membangun seperti apa, meskipun aku masih sakit hati dalam waktu yang lama. Aku selalu membatin saat menulis berita, apa aku harus tunjukkan kepada semua orang kalau aku juga bisa egois?