Alasan Kenapa Ortu Dilarang Menceritakan Masalah Finansial di Depan Anak

Ayo Membaca1160 Dilihat

Baru-baru ini saya sempat mendengarkan obrolan teman-teman saya mengenai finansial di keluarga mereka. Karna hal itu sesuai dengan kehidupan saya juga, akhirnya saya bergabung dalam obrolan. Mereka punya keluhan yang sama, yaitu kedua orang tuanya selalu membicarakan masalah finansial di depan mereka.

Kalau dilihat-lihat lagi, sebagian orang mungkin memandang itu adalah hal biasa. Orang tua memang perlu mengedukasi anaknya yang mulai tumbuh remaja untuk mengelola keuangan, agar ke depannya diharapkan anaknya bisa mandiri, mengelola finansial dengan baik, dan lain sebagainya. Namun, tak jarang orang tua juga mengeluhkan finansial mereka di depan anaknya. Hal itu berdampak buruk terhadap psikologi atau perbuatan sang anak. Tahu apa saja dampaknya? Ini dia kenapa orang tua dilarang untuk menceritakan finansial di depan sang anak.

1. Anak Ikut Overthinking

Kalian tahu forum Quora? Saya sempat mencari beberapa jawaban dari orang-orang di forum tersebut mengenai permasalahan ini. Banyak orang bilang, orang tua yang menceritakan masalah finansial di depan sang anak, akan membuat dirinya overthinking dan berpikir keras bagaimana cara agar ia bisa meringankan beban keuangan orang tuanya. Tak jarang, walaupun masih SMP dan akan naik ke tingkatan SMA, sang anak mencoba mencari cara bagaimana ia bisa menghasilkan uang sendiri, entah dengan wirausaha kecil-kecilan, kerja online, dan lain sebagainya.

Baca Juga : Kiat Hidup Minimalis Ala Orang Jepang

2. Menghambat Kesuksesan

Dilansir dari CNBC Indonesia, pakar parenting Amy Morin, melalui bukunya yang bertajuk “13 Things Mentally Strong Parents Don’t Do” mengungkapkan kalau kebiasaan orang tua yang mengatakan tidak punya uang atau tidak mampu membelikan ini itu tanpa alasan yang jelas bisa menjadi sebuah kalimat toxic yang menghambat kesuksesan sang anak.

Contoh, kalau anak sedang ingin dibelikan barang ini dan kebetulan harganya cukup mahal, daripada mengatakan orang tua tidak bisa membelikan karna keuangan yang lumayan terbatas, lebih baik tunjukkan kepada anak bahwa orang tua bisa mengelola keuangan dengan baik. Orang tua sebaiknya menghindari kata-kata “Ayah/Bunda enggak bakal bisa beliin itu buat kamu.” Lebih baik orang tua bilang, “Sebenarnya Ayah/Bunda pengin banget beliin buat kamu. Tapi enggak sekarang, karna uangnya belum cukup. Ayah/Bunda mau nabung dulu dan kerja keras dulu biar bisa mencukupi uangnya.”

Dengan menggunakan kalimat positif, secara tidak langsung, anak akan langsung memahami maksud dari orang tua. Mereka bahkan tanpa berat hati akan menunda keinginannya untuk dibelikan barang tersebut.

3. Membuat Sang Anak Selalu Merasa Bersalah

Dengan membicarakan masalah finansial orang tua di depan anak, apalagi dengan nada tinggi, akan membuat sang anak merasa sangat bersalah. Seakan-akan, mereka adalah beban keluarga yang selalu menghabiskan perekonomian keluarga. Selain itu, karna perasaan bersalah kepada orang tua, sang anak enggan untuk berbicara dengan orang tua sehingga hubungan kekeluargaan mulai merenggang. Perasaan bersalah yang berangsur-angsur itu juga akan membuat psikologis sang anak terkikis sedikit demi sedikit. Mereka akan menjadi stres atau bahkan depresi.

Baca Juga : Dampak Perilaku Finansial Orang Tua pada Anak

Memang, anak harus diajari untuk mengelola keuangan sejak dini. Namun, edukasi orang tua kepada anak mengenai keuangan juga harus diperhatikan, harus sesuai usia, dan bisa diterima dengan baik oleh anak. Psikologis anak, sejak dini juga harus diperhatikan, karna itu juga bisa memengaruhi masa depan mereka.

Memang, tidak semua orang tua berkecukupan, bahkan orang tua saya sendiri juga bisa dibilang sederhana. Tidak sepantasnya orang tua menyalahkan anaknya karna menghabiskan finansialnya. Bagaimanapun juga, menafkahi sang anak adalah tanggung jawab besar orang tua.