Belajar kepada Semar tentang Demokrasi

Ayo Membaca1506 Dilihat

Sering sekali kita berteriak demokrasi hingga berceramah secara teoritis mengenai penerapan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun sangat jarang yang benar-benar bisa menerapkannya dalam makna yang sesungguhnya. Dalam menghayati demokrasi kita bisa mempelajarinya dalam berbagai nilai dan filosofi di segala bidang disiplin keilmuan. Namun sangat jarang yang mau bersusah payah mengeluarkan sebagian besar energinya untuk mendalami nilai kehidupan salah satunya adalah mengenai demokrasi. Atau bahkan mungkin sangat sedikit yang paham alasan kenapa Indonesia menerapkan sistem demokrasi dalam berbangsa dan bernegara. Maka pemahaman yang luas terhadap nilai-nilai dan filosofi demokrasi akan membantu kita untuk lebih benar dan tepat titik koordinatnya dalam berpijak di atas acuan demokrasi.

Sehingga kita akan paham mana yang benar-benar menerapkan demokrasi, mana yang hanya menjadikannya sebagai topeng untuk merayu suara rakyat. Mendeklarasikan diri untuk tidak berhenti belajar, sinau dan ngangsu kaweruh merupakan sikap yang bijak yang perlu kita ambil dalam perjalanan menjalani kehidupan. Karena hanya setetes pengetahuan yang bisa kita jangkau dari lautan pengetahuan dan ilmunya Allah. Misalkan kita mencoba mengkaji sifat-sifat Rasulullah dalam pembahasan ini.

Baca juga : Memayu Hayuning Bawana

Ada shiddiq, amanah, tabligh dan fatonah.

Shiddiq adalah kesungguhan mengemban suatu tugas dan kesungguhan menerapkan fungsinya. Nah kesungguhan itu tidak akan tepat sasaran atau presisi tatkala tidak amanah. Amanah ini diperlukan agar tetap sesuai rutenya, utamanya moralitas. Jadi amanah adalah moralitas dari output kesungguh-sungguhan. Harmonisasi lah bahasa kita. Berlatih bola basket dengan sungguh-sungguh itu shiddiq, tapi kalau bola basketnya di lempar di kepala orang ya tidak jadi shiddiq, karena penerapan amanahnya tidak diperhatikan. Shiddiq dan amanah dalam penerapannya juga membutuhkan strategi, membutuhkan metode, membutuhkan ketepatan sosial. Ini ranahnya tabligh. Bagaimana agar output dari kesungguhan dan harmonisasi bisa mendapatkan ketepatan sosial, maka tabligh diperlukan. Agar shiddiq, amanah dan tabligh bisa kita terapkan, maka kita harus fathonah, harus memiliki kecerdasan. 

Itu belajar tentang nilai demokrasi dari sifat-sifat Rasulullah. Lalu di dalam term filsafat Jawa ada

sedulur papat lima pancer (empat saudara dan satu inti).

Ilmu mengenai kedirian manusia, dan lain sebagainya. Masih banyak ilmu-ilmu dan nilai-nilai luhur serta filsafat yang bisa kita jadikan bahan pembelajaran untuk menghayati dan mendalami demokrasi. Dalam tradisi dan nilai luhur orang Jawa, demokrasi itu melingkupi penjagaan, pelestarian dan pemberian hak terhadap alam.

Jadi tanah, pohon, gunung, sungai, laut, hutan, flora dan faunanya semuanya memiliki hak untuk dilibatkan dalam penerapan demokrasi. Alam punya hak untuk lestari, terjaga, terawat dan terlindungi. Tidak seperti sekarang, mendeklarasikan negara demokrasi, namun hak-hak alam dan semua makhluk di bumi yang mempunyai hak diabaikan. Banyak pohon ditebangi secara rakus dan ngawur sehingga hutan gundul. Jika hutan gundul, lalu hujan deras bisa menimbulkan longsor bahkan banjir bandang. Seperti itu masih menghakimi secara kejam terhadap alam. Katanya bencana alam. Alam membawa bencana. Wahai manusia sejatinya diri kita lah yang selalu membawa bencana.

Menjadi kesatria, berjiwa kesatria

Banyak sekali pendekatan untuk menghayati demokrasi. Kalau di dalam term pewayangan kita diharuskan untuk menjadi kesatria, berjiwa kesatria. Karena term kesatria ini adalah orang yang benar-benar menjalankan fungsinya, yang jujur, berintegritas, mentalnya harus tangguh, hatinya harus lembut dan peka, spiritualnya harus tepat, dan outputnya tepat juga sikap sosialnya. Jadi kesatria adalah mereka yang benar-benar menerapkan demokrasi dalam makna yang sesunggunya. Bukan yang dibolak-balik. Bukan yang abu-abu atau yang warnanya menyesuaikan kebutuhan dan kepentingan. Bukan yang berteriak maling namun akhirnya duduk di kursi para maling. Bukan yang bercover pro-rakyat tapi isi di dalamnya adalah rencana perampokan uang rakyat. Bukan yang kelihatan lembut di luar, namun sejatinya kejam, dan lain sebagainya. Berdemokrasi harus berjiwa kesatria.

Representasi kearifan lokal

Kalau melihat representasi kearifan lokal kita perlu menilik sejarah. Kita bahas saja sejarah perangnya Majapahit dengan Demak. Putra kedua Brawijaya V adalah kakaknya Raden Fatah dan panglima perang Majapahit. Dia telah membunuh ayahnya Sunan Kudus yang dikenal dengan nama Sunan Ngudung. Otomatis dampak dari terbunuhnya ayahnya Sunan Kudus ini adalah perang yang tak terelakkan antara Majapahit dengan Demak. Namun Sunan Kalijaga menyikapinya dengan bijaksana sehingga pertumpahan darah bisa terhindarkan. Sunan Kalijaga mengutus sembilan orang perwakilan dari Demak untuk menghadap Majapahit dan menyampaikan surat kepada Raja yang isinya bahwa Sunan Kudus telah mengikhlaskan ayahnya terbunuh oleh anak dari Brawijaya. Dari kebijakan dan kearifan Sunan Kalijaga tersebut, Demak dan Majapahit terhindarkan dari pertumpahan darah.

Baca juga : Untuk Apa Sekolah Tinggi Jika Ujungnya Jadi Ibu Rumah Tangga?

kebijakan Sunan Kalijaga

Sikap dan kebijakan Sunan Kalijaga merupakan representasi dari kearifan lokal, terutama wacana demokrasi yang dibangun oleh budaya Jawa. Dalam dakwahnya Sunan Kalijaga, tentunya kita tidak asing dengan gaya dan strategi beliau yang menggunakan pendekatan budaya. Nilai-nilai Islam bisa terakomodasi secara rapi dan terejawantahkan dalam kehidupan orang Jawa berkat kecerdasan Sunan Kalijaga dalam menyajikan keindahan Islam. Untuk memberikan kuliah mengenai demokrasi, Sunan Kalijaga memakai terminologi Semar. Tokoh Punakawan yang satu ini adalah Dewa tertinggi dan dihormati, bahkan di atas Batara Guru. Semar memiliki dua fungsi dan dua tugas sekaligus. Ia adalah Panembahan Ismaya dan Semar Badranaya. Namun dua fungsi itu berada dalam satu titik. Titik Ismaya dan titik Badranaya hanya satu. Sehingga Semar harus berputar agar bisa sampai pada titik itu, jadi kedua fungsinya terlewati dan terpijaki. Ini adalah bentuk simbolisme bahwa pemimpin adalah representasi dari nilai ketuhanan yang mengayomi rakyatnya dalam sebuah “lingkaran” (lintasan berputarnya Semar).

Simbolisasi Semar dalam filosofi Demokrasi

Rakyat adalah pendeta tertinggi. Kebermanfaatan kepada rakyat adalah apresiasi tertinggi. Politik kepemimpinannya adalah penerapan sikap kesatria, yang mengabdi untuk rakyat. Simbolisasi Semar merupakan karya mengenai filosofi Demokrasi yang dahsyat dan luar biasa dalamnya. Namun sayangnya orang Jawa modern sudah banyak yang tidak paham mengenai terminologi Semar. Dianggapnya Semar hanyalah badut, lelucon dan pelawak yang fungsinya meramaikan kisah pewayangan mahabarata. Padahal sangat mendalam dan dahsyat ajaran, nilai dan penghayatan atas kehidupan yang diajarkan dari terminologi Semar. Semoga kita semuanya diijinkan Tuhan untuk terus belajar dan membentuk pribadi diri menjadi kesatria. Kesatria yang selalu setia memperjuangkan kesejahteraan dan keamanan rakyat. Serta mengabdi sepenuh hati kepada rakyat karena Tuhan Maha Esa. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish Showwab.