Derita si Sulung, Anak Pertama yang Juga Butuh Didengar

funfact1289 Dilihat

Banyak orang bilang, jadi anak pertama atau si sulung punya banyak keuntungan, salah satunya adalah yang paling pertama mendapatkan perhatian dari keluarga. Namun nyatanya, hal itu tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Anak pertama ternyata punya beban dan tekanan yang besar dari keluarganya. Siapa bilang kalau bahu anak pertama sekuat baja? Mereka hanya pura-pura bahagia, karna mereka juga pernah dituntut untuk menjadi tumpuan keluarga, sehingga jika mereka terlihat bersedih, bukan ketenangan yang mereka dapatkan, tapi malah tekanan yang lebih dari keluarga.

Menjadi anak pertama tidak semudah yang kita kira. Mereka juga mengemban tanggung jawab yang besar. Ini dia beberapa derita yang ditanggung oleh si sulung yang katanya sekuat baja padahal itu hanya fatamorgana.

Harus Selalu Mengalah

Menjadi si sulung pasti akan familier dengan kata “mengalah”. Setiap hari, setiap waktu, kita pastinya dituntut untuk mengalah demi kebaikan sang adik, dengan alasan, “adekmu masih kecil, harus didahulukan. Kamu kan sudah gede, harusnya kamu latihan mandiri.” Hal tersebut bisa menimbulkan perasaan tak adil kepada si sulung sehingga membuatnya kecewa. Bagaimanapun juga, keinginannya berhak dipenuhi oleh keluarga, tidak mungkin ia terus mengalah dan melihat bagaimana adiknya diperlakukan seperti anak semata wayangnya. Namun, semuanya akan kembali lagi dengan ucapan, “harus jadi mandiri.”

Baca Juga : Apakah Kemajuan AI Berbahaya Bagi Manusia?

Si Sulung Harus Jadi Panutan Sang Adik

Selain harus mengalah demi kebaikan sang adik, si sulung juga biasanya dituntut untuk menjadi panutan bagi sang adik. Mereka diajari berlaku baik, sopan santun, penuh tata krama seperti apa yang diinginkan orang tua, agar nanti adik-adiknya bisa termotivasi melalui sikap baiknya. Di balik semua itu, si sulung juga punya tekanan. Tuntutan untuk menjadi sangat baik agar bisa dicontoh oleh adiknya tentu saja memberatkannya. Ia seakan dikekang dengan dalih “panutan sang adik” sehingga jika ia salah sedikitpun, ia akan dimarahi, dibilang kalau nanti jadi bibit masalah yang akan ditiru oleh sang adik saat sudah besar.

Ekspektasi Keluarga yang Besar

Mungkin yang satu ini sudah sering dirasakan dan dialami oleh kebanyakan anak sulung. Ya, benar. Menanggung eskpektasi besar dari keluarga. Ironisnya, ekspektasi itu bukan hanya dari keluarga kecil, melainkan bisa sampai dari keluarga besar. Ekspektasi itu bisa berupa pendidikan, pekerjaan, sampai masa depan saat dewasa. Si sulung selalu dituntut untuk memenuhi ekspektasi mereka, memenuhi apa yang mereka mau dengan dalih, “ini semua demi kebaikanmu.” Padahal, mereka juga berhak untuk menentukan bagaimana masa depan mereka nanti, ia ingin jadi apa sangat besar, dan ia ingin hidup berumah tangga dengan siapa saat dewasa nanti. Ekspektasi yang belum tentu bisa ia penuhi itu hanya akan menjadi bahan depresi yang dialami oleh si sulung.

Si Sulung Jadi Orang Tua Kedua

Jadi anak sulung, kerap dituntut untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia harus mengurus sang adik saat orang tua bepergian, jika teledor sedikit, mereka yang akan disalahkan habis-habisan. Mereka dididik untuk menjadi figur orang tua kedua. Tak jarang, mereka juga akan menjadi tulang punggung keluarga satu-satunya saat kedua orang tua sudah meninggal dunia.

Ketakutan Tentang Kegagalan yang Lebih Besar

Baca Juga : Dear Orang Tua, Bahu Anak Pertama Tak Selalu Sekuat Baja

Saking banyaknya tekanan yang ditujukan untuk si sulung, tak jarang mereka punya ketakutan akan kegagalan dalam hidupnya, yang lebih besar dari biasa. Karna terbiasa dituntut sempurna di mata orang tua, mereka takut jika nanti mereka mengecewakan mama papa, takut tidak bisa memenuhi ekspektasi ortunya, menjadi panutan bagi sang adik, membahayakan sang adik, sampai merusak tatanan keluarga karna sikapnya yang juga punya kekurangan.

Dear, orang tua. Bagaimanapun juga, anak pertama juga punya hak sebagai anak. Mereka punya hak untuk memilih jalannya sendiri, mereka punya hak untuk tidak terus-terusan mengalah dan mempertahankan apa yang mereka mau. Anak pertama, anak kedua, anak terakhir, entah itu perempuan maupun laki-laki, mereka semua tetap anak-anak sampai mereka dewasa. Mereka butuh didengar. Tekanan mereka mungkin banyak dan itu tidak untuk dipendam, namun untuk diatasi bersama-sama. Maka dari itu jadi orang tua harus bisa adil dan memberi kasih sayang yang sama.