Ditidurkan oleh Kelelahan, Dibangunkan oleh Pekerjaan

Ayo Membaca2251 Dilihat

Ditidurkan oleh Kelelahan, Dibangunkan oleh Pekerjaan – Pagi tiba, suara ayam seakan membangunkan manusia-manusia dari lelap tidurnya. Eh bukan ayam. Lebih tepatnya pekerjaan rutin harian yang membuat manusia harus bangun dari istirahatnya. Padahal manusia modern hari ini hanya bisa menikmati hidup di saat tidurnya. Eh sebentar, lebih tepat dan bijak kalau diksinya dirubah.

Manusia akan menikmati rasanya tidur dan istirahat, di saat ia dalam kondisi lelah bekerja. Ternyata memang benar kata para sesepuh, urip ing jroning pati, mati ing jroning urip. Kesadarannya akan tugas pekerjaan dan dengan segala bentuk kedisiplinan yang akan membuat pangkat dan prestasinya naik, membuat ia jenggirat tangi, saya dapat istilah itu sejak dua tahun tinggal di Banyuwangi. Itu artinya telah usailah manusia menikmati tidurnya dan beranjak mempersiapkan segalanya untuk fight, bertarung, bergulat dengan waktu, kehidupan, ketidak-pastian dan segala bentuk permasalahan. Karena kehidupan itu sama dengan permasalahan. Walaupun sebenarnya kita sedang bertarung dengan diri kita sendiri, bukan kehidupan. Tidak ada masalah dengan kehidupan jika kita selesai dengan diri kita sendiri.

Baca juga : Sembunyikan Dapurmu, Tunjukkan Daftar Menumu

Maka bersiaplah ia dengan mandi yang bersih, berdandan rapi, memoles setiap perangkat yang ada dalam jasadnya. Tidak lupa mereka membawa topeng. Ya topeng ini tidak boleh ketinggalan. Kalau sampai tidak dibawa bisa gawat. Karena hanya dengan memakai topeng itu, ia akan lebih terlihat baik-baik saja di hadapan publik. Padahal isi kepalanya seruwet benang layangan anak-anak desa yang putus lalu nyangsang di pohon. Apalagi isi batinnya yang memanas bagai lava, tapi bukan mie lava atau seblak yang pedesnya kayak lava. Batinnya bergemuruh riuh, memanas seakan ingin meledak. Paham sendirilah bagi pembaca yang sangat berpengalaman di bidang perbatinan dengan segala gejolaknya.

Padahal Tuhan memberikan waktu khusus di pagi hari itu untuk charging, isi ulang, refresh, maintenance, dan mengup-grade energi mental spiritual. Sangat butuh itu para manusia-manusia malang yang terus diputar roda fikir, mental dan batinnya oleh ketidak-pastian kehidupan. Energi yang dihasilkan dari charging tersebut datangnya langsung dari sumbernya loh ya. Tuhan yang Mahakasih, yang cintanya tidak berhenti mengalir di setiap denyut nadi kita. “Subuhan disek lo le”, begitulah si emak dulu mengingatkan putra kesayangannya sebelum beranjak siap-siap menata segala piranti sekolahnya. Ternyata pesan emak itu untuk latihan, training, mblajari agar kita terbiasa refresh batin-spiritual kita sebelum beraktivitas. Sekali lagi ternyata memang benar kata para sesepuh, insting ibu itu begitu tajam. Buktinya saking tajamnya, emak bisa memprediksi bagaimana keruwetan hidup putranya di masa depan. Emak sudah bisa menebak, bahwa anaknya bakal disibukkan dan dihajar babak-belur oleh rutinitas tiada ujung.

Di dalam dunia pekerjaan pun terasa pekerjaan datang silih berganti tiada putus. Karena terlalu kompleksnya kondisi kediriannya, maka yang seharusnya ia bersykur diberikan kesibukan dan media untuk mendapatkan rizki, namun malah keluar ratusan keluhan dari mulut dan batinnya. Jika mesinnya rapuh, maka fisiknya pun akan cepat lelah. Kelelahan membuat manusia modern tak berdaya. Tak jarang mereka tertidur di tempat kerja, lembur hingga tengah malam. Pulang malam melihat istri dan anak telah terlelap dalam tidurnya. Lalu ia membersihkan diri mencoba merebahkan badan untuk tidur beristirahat. Namun lagi-lagi pikiran atas tugas dan pekerjaannya membuat ia terganggu untuk memejamkan mata. Untungnya kelelahan fisik, psikis dan batinnya membuat ia terantarkan, dinina-bobokkan, ditidurkan oleh kelelahannya. Walaupun secara fisik ia tertidur pulas, namun seakan pikiran dan batinnya tidak kunjung bisa meletakkan sejenak saja pikiran mengenai tugas dan pekerjaannya.

Baca Juga : Serat Dewa Ruci Sunan Kalijaga

Di sisi lain ada keluarga, anak, istri, orang tua yang merindukan bercengkerama dengannya. Sang anak hingga tidur siang di kamar ayahnya, tempat yang biasa si ayah gunakan untuk berbaring. Si anak merasa nyaman rebahan di situ sembari menciumi bekas bau tubuh ayahnya. Sedemikian itu seakan sudah membuat si anak memeluk ayahnya dari jauh. Bukan cuman seorang ayah sih di zaman modern ini yang disibukkan dengan pekerjaan. Tidak sedikit juga ibu-ibu yang setiap hari hanya bisa mencium kening anaknya saat telah tidur lelap. Bahkan parahnya juga sering tidak sempat melakukannya.  Fenomena anak-anak yang lebih dekat secara emosional dengan pembantu rumah tangga memang marak terjadi di zaman modern ini.

Pernah saya menulis mengenai hubungan pekerjaan dengan diri kita. Masalahnya bukan terletak pada pekerjaannya, namun terletak pada ambisiusnya diri kita, kelupaannya diri kita terhadap diri sendiri hingga jarang dichargingnya energi mental-spiritual kita. Padahal dulu mereka tidak jarang dituturi mbah kakung dan mbah putrinya mengenai kehidupan dunia. Dunia itu semakin dikejar semakin menjauh. Dan mengejar dunia adalah pekerjaan yang melelahkan. Kita tidak akan pernah bisa menangkapnya. Itulah sifat dunia. Waktu terasa begitu sempit, merampas kebebasan dan kenikmatan hidup manusia modern. Belum lagi kondisi modernitas di lingkungan perkotaan yang sekarang hampir semua orang mempunyai mobil. Kalau dinaiki 4-5 orang sih tidak menjadi masalah, setidaknya ada alasan yang dimaklumi. Lha ini hampir semua mobil yang berkeliaran di jalanan kota besar yang macet itu cuma satu orang saja yang menaiki di dalamnya. Bayangkan jika dalam momen pagi hari saat berangkat ke tempat kerja ada 500 orang yang keluar rumah, maka dalam satu waktu itu akan ada 500 mobil yang melintas dan membuat macet.

Padahal kemacetan dan kondisi jalan yang sangat rumit membuat menusia stres dan frustasi. Saat emosinya tidak stabil, sangat mungkin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ditidurkan oleh kelelahan dan dibangunkan oleh pekerjaan. Begitulah terjadi setiap hari terus menerus, bertahun-tahun bahkan seumur hidupnya. Begitulah jika hasrat kita mengejar dunia tetap menggebu-gebu. Kasihan manusia modern. Sama sekali tidak ada ruang untuk menikmati hidup. Bahkan konsep keluarga pun semu. Mana bisa disebut keluarga, jika cuma bersama saat dalam keaadaan tidur saja. Banyak anak-anak yang kehilangan sosok ayah dan ibunya dan seterusnya. Hingga mereka anak-anak malang larinya ke game online, pergaulan bebas hingga narkoba. Industrialisasi dan modernisasi besar-besaran memang meninggalkan efek negatif yang luar biasa dan tidak bisa dianggap remeh.

Agama menawarkan ruang, solusi dan alat merefresh energi batin. Bahkan literatur dan alat satu-satunya untuk mengakses kenikmatan hidup dan kebahagiaan hidup. Tuhan, jangan biarkan kami tenggelam dan terseret arus kesibukan dunia yang semu ini. Hingga kami terombang-ambingkan dengan segala tipu daya. Sampai kami tidak bisa mengenali diri ini dan hidup ini. Gerakkan diri ini dan hati ini untuk sholat lima waktu, dan recharging energi batin ini sebanyak lima kali sehari. Tidak, bukan lima kali. Namun sepanjang tarikan nafas dan kedipan mata ini ya Tuhan kami. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish Shawwab.

~ Ditidurkan oleh Kelelahan, Dibangunkan oleh Pekerjaan Oleh : Agus Novel Mukholis

tag : ayo membaca, gerakan menulis, gerakan membaca, gerakan literasi