Fungsi Profesinya dulu, Apa Fungsi Manusianya dulu?

Ayo Membaca1598 Dilihat

Fungsi Profesinya dulu, Apa Fungsi Manusianya dulu ? – Sering kita terjebak dalam satu keruwetan atau mungkin malah kesalahan dalam berfikir. Sehingga ujungnya berefek kepada tata perilaku kita dalam kehidupan. Kita sering mengingat kepada hal-hal yang kita inginkan, kita sangka butuhkan, atau hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan nafsu semata. Lantas kepada hal-hal yang kita anggap atau kita sangka bukan yang kita butuhkan, atau tidak penting, atau tidak kita inginkan kita lupakan. Padahal kita telah belajar di bangku sekolahan mengenai konsep kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Dari pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini di atas, mari kita merefleksikan diri, bahwa selama ini sudah tepat atau belum dalam kita menerapkan urut-urutan kebutuhan. Jangan-jangan kita sering mengabaikan yang primer lantas menomor-satukan yang sekunder bahkan tersier. Bukan karena apa-apa, cuman karena ketidak-tepatan kita dalam memetakan hal-hal dalam kehidupan kita mana yang primer, mana yang sekunder dan seterusnya.

Fungsi Profesinya dulu

Sering manusia seperti kita lebih bersemangat mengejar karir keprofesiannya dibanding fokus pada prestasi kemanusiaannya. Maka yang bahaya adalah di saat banyak yang lebih memilih menjadi Bupati, Gubernur, Presiden, Dokter, Pengusaha Sukses, Dosen, Guru Besar atau Profesor dibanding memilih menjadi manusia seutuhnya dulu. Seutuhnya dalam arti sesuai dengan fungsi, harkat, martabat serta keinginan dari yang membuat atau menciptakan manusia. Ujungnya dan yang ditakutkan nanti adalah jika sisi kemanusiaan diterjang begitu saja tanpa beban untuk mengejar keprofesian. Terima atau tidak terima, fakta hakikatnya bahwa segala bidang keahlian khusus yang diajarkan di semua fakultas dan lembaga pendidikan itu sekunder. Primernya adalah bagaimana kita diajarkan menjadi manusia dulu. Baru setelah itu monggo dan dipersilahkan untuk menjalani yang sekunder. Jika demikian maka apapun profesinya dalam sosial budaya kemasyarakatan, sudah bisa dipastikan yang menyandang profesi itu adalah manusia. Maka tidak ada lagi yang menciderai profesinya dengan merendahkan, menyakiti, menghardik, mencurangi, melecehkan dan seterusnya terhadap sesama saudaranya, sesama makhluknya Tuhan.

Baca : Fenomena Cita-Cita Manusia Diseragamkan

 Maka yang perlu ditinjau ulang dan dihayati kembali adalah mengenai orientasi pendidikan. Jangan-jangan kurikulum yang kita terapkan selama ini dalam diri kita untuk belajar masih melenceng dari titik koordinat yang pas dan tepat. Dalam menjalani kesakralan, keintiman dan keharmonisan pendidikan kita masih fokus pada penghidupan saja. Sehingga hanya konsep “penghidupan” saja yang berhasil kita dapatkan selama menjalani pendidikan. Padahal “penghidupan” itu sekunder. Primernya adalah “kehidupan”. Penghidupan itu adalah bagaimana kita mendapatkan uang, gaji, honor, pendapatan untuk hidup. Kalau kehidupan adalah keluasan cara kita berfikir, merasa, berperilaku, menghayati segala sesuatu yang pasti dan tidak pasti dalam kedalaman kehidupan yang kita jalani.

Pendidikan harus mengajarkan “kehidupan” terlebih dahulu, lalu “penghidupan” berikutnya. Penghidupan itu bonus. Saat kita telah lihai, piawai dan lincah dalam memahami dan menerapkan konsep “kehidupan”, maka “penghidupan” secara otomatis akan kita dapatkan. Kekurang-tepatan dalam membidik tujuan, kekurang-tepatan dalam meletakkan prioritas secara presisi dan seterusnya dikarenakan sering kelirunya kita dalam membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Kita menentukan satu hal dalam satu momentum itu sebagai keinginan atau kebutuhan saja masih sangat kesulitan. Maka dari itu belajar mengenai kehidupan itu adalah keniscayaan. Bahwa mulai lahirnya diri kita hingga nanti masuk ke liang lahat, aktivitas belajar, membaca, menelaah, meneliti, menganalisa, menghayati dan menerapkan itu akan terus kita lakukan. Apa objeknya?, apa buku pelajarannya?, apa kurikulumnya?, dan seterusnya. Jawabannya adalah “kehidupan”.

Baca juga : Ingin Berlibur ke hutan? Ini Dia, Hutan ‘De Djawatan’ 

Maka fokus pada pembelajaran untuk menjadi manusia itulah kuncinya. Kepada siapa kita mencari informasi, pengetahuan, ilmu mengenai bagaimana menjadi manusia?. Ya tentunya kepada DIA yang menciptakan kita. Karena hanya Tuhan satu-satunya yang paham benar, Maha Tahu mengenai segala sesuatu yang ada di alam semesta ini dan kehidupannya. Apa manusia itu?. Tanya kepada yang buat manusia. Lalu dekatilah orang yang paling dekat dengan Yang membuat manusia. Bukankah begitu seharusya. Lalu siapa orang yang paling dekat dengan yang membuat manusia?. Tentunya Baginda kita Nabi Muhammad Saw.

Bahkan dalam puisinya Cak Nun mengambil judul “Muhammadkan Hamba”. Lantas banyak yang ramai dan salah sangka atas diksi “Muhammadkan Hamba”. Maknanya bukan berarti kita semua minta untuk dijadikan Nabi seperi Nabi Muhammad, namun adalah bentuk permohonan kita kepada Allah agar ditanamkan karakter-karakter, nilai-nilai, akhlak dan kepribadian Nabi Muhammad Saw. Karena selama ini kita sudah terlalu sering sibuk pada yang sekunder dan tersier. Bahkan kita sering membanggakan identitas-identitas yang lahir dari hal yang sekunder itu. Seperti profesi-profesi di atas yang jelas diimpikan dan dibanggakan mayoritas manusia. Itu semua berangkat dari kegagalan pendidikan kita dalam membimbing kita untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Benar atau tidak, tersinggung atau tidak, semua yang kita lakukan, kejar, kita usahakan kebanyakan adalah keinginan kita, bukan kebutuhan kita. Karena sesuatu yang kita inginkan itu kita anggap adalah kebutuhan. Maka sangat lihai manusia dalam hal mengutamakan yang sekunder. Sekali lagi karena kekurang-pahaman kita dalam kehidupan.

Bahkan dalam sosial kemasyarakatan orang Islam, kita masih sering mengutamakan yang sekunder dulu. Misalnya dalam meletakkan di menara gading orang yang “alim”. “Alim” itu berarti orang yang mengetahui ilmu sebagai urusan ilmiah akademis. Namun sebenarnya yang primer itu adalah orang Islam yang baik, yang saleh, yang mukmin, yang beriman. Istilah “saleh” seharusnya diletakkan di posisi primer. Karena ukuran saleh adalah dari kedekatan, keimanan, kecintaan dia kepada Allah. “Alim” baru masuk di dalam sekunder.

Sama seperti term keprofesian kita dan kemanusiaan kita. Primernya adalah menjalankan fungsi kemanusiaan dulu, baru sekundernya adalah menjalani fungsi keprofesian kita. Maka tatkala diposisikan dalam situasi yang rumit, tentunya dengan penuh kesadaran kita lebih memilih mendahulukan fungsi kemanusiaan kita, walaupun sesekali harus menabrak fungsi profesi kita. Jangan sampai malah sebaliknya sering mengorbankan fungsi kemanusiaan kita untuk mengejar karir dan profesi. Maka sangat penting untuk memahami ketepatan menyusun daftar kebutuhan dan skala prioritas dengan belajar secara terus-menerus pada universitas kehidupan. Sehingga walaupun kita hidup di zaman modern kita tidak akan terjebak ke dalam keinginan kita, sehingga melupakan kebutuhan kita. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish Shawwab. 

Fungsi Profesinya dulu, Apa Fungsi Manusianya dulu ? Oleh : Agus Novel Mukholis