LukaSenja : Chapter 13

Lukasenja399 Dilihat

Chapter 13 : Kelas Riset

Senja membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat pusing setelah beberapa saat yang lalu sebuah bola basket benar-benar mendarat di wajahnya dengan sangat keras. Harusnya tadi ia mengikuti kata hatinya yang mengatakan kalau ia lebih baik membaca buku di perpustakaan ketimbang iseng melihat anak-anak basket di halaman.

Senja mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya sambil meringis kesakitan saat kepalanya masih terasa sakit. Mendengar rintisan itu, lelaki dengan jubah UKS segera berjalan mendekati ranjang yang digunakan Senja untuk membantu gadis itu duduk di pinggir ranjang.

“Lo nggak papa? Lo udah tidur selama dua jam tadi?” Lelaki itu adalah Alter. Ia adalah salah satu anggota UKS yang kebetulan sedang berjaga hari ini dan menjadi perawat Senja saat tiba-tiba saja gadis itu dilarikan ke sini oleh Ensel yang masih memakai jersey tim basketnya.

“Hah? Dua jam?!” Senja terkejut. Ia benar-benar tidak merasakan kalau ia bisa tidur selama itu. “Aduh,” rintih Senja saat kepalanya terasa sakit.

Alter kemudian menyodorkan sebotol air putih dan tablet obat yang katanya bisa membuat pusing Senja sedikit pulih. Gadis itu dengan segera menerima dua benda itu dan langsung meminumnya.

“Makasih,” tutur Senja setelah meminum tablet yang diberikan Alter.

Alter hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, lantas kembali ke meja tunggu untuk menuntaskan tugasnya mendata obat-obatan setelah beberapa saat yang lalu tertunda karna kedatangan pasien.

Senja terdiam. Ia terlihat kik kuk jika berada di dekat Alter, apalagi keduanya belum bisa dibilang dekat walau mereka sekelas. Canggung kini berhasil mengutuk ruangan itu, menyisakan keheningan di antara kedua manusia yang ada di dalamnya. Karna tak tahan, akhirnya Senja memulai topiknya.

“Al, lo ikut kelas khusus apa?” Senja tahu kalau pertanyaan itu cukup membosankan jika dibahas ketika mereka masih dalam tahap pendekatan sebagai orang baru. Sudahlah, Senja tidak berharap jika lelaki itu menanggapinya.

Sedetik kemudian, Alter tidak menjawab. Ia terlihat masih fokus menarikan pena di sebuah buku sambil memegangi obat-obatan di kotak P3K. Namun di detik berikutnya, lelaki itu bersuara. “Gue ikut riset.”

Senang karna akhirnya direspon, Senja memutuskan untuk meneruskan topik pembicaraannya karna kebetulan mereka berada di kelas khusus yang sama. “Wah, sama dong. Gue juga ikut kelas riset. Tapi lo kayaknya anak baru ya? Maksudnya baru gabung kelas sebelas ini? Soalnya gue belum pernah liat lo waktu kelas sepuluh.”

“Iya, gue baru gabung di kelas sebelas ini.” Senja mengangguk mendengarnya. “Enak nggak, kelas riset?”

Senja menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Alter itu. “Kalau ditanya enak atau nggak itu, enak-enak aja, sih. Tergantung kita nikmatin prosesnya apa nggak. Riset itu kan nggak semudah dan sesimpel yang orang-orang bayangkan, jadi pastinya banyak banget duka yang bakal kita rasain. Tapi ada banyak pengalaman yang bakal ngebuat kita betah di kelas riset, kayak keliling keluar kita buat penelitian, ke tempat-tempat terkenal buat riset, bahkan gue pernah diajak ke Malaysia buat penelitian tentang salah satu industri digital yang ada di sana.”

Alter mengangguk paham. Pertanyaannya terjawab sempurna. Sekarang, keraguannya untuk benar-benar mengikuti kelas itu sedikit menghilang.

“Emang kenapa? Lo ragu buat ikut kelas riset?”

Alter sekali lagi mengangguk. “Kayak, gue takut kalau kelas riset sangat sibuk dari yang gue bayangin sampai motong jam pelajaran. Itu aja sih, yang gue takutin.”

“Tenang aja. Lo ikut kelas riset lo aman. Nilai lo juga bakal diselametin sama pembina riset sebagai bentuk apresiasi karna udah ikut kelas itu.” Senja turun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri Alter di meja tunggu UKS.

“Obat.” Gadis itu menyodorkan satu tangannya ke arah Alter untuk menerima obat yang akan ia bawa pulang setelah ia keluar dari UKS.

Detik berikutnya obat itu sudah mendarat tepat di tangan Senja, kemudian gadis itu berpamitan kepada Ensel lalu keluar dari UKS meninggalkan Alter yang masih sibuk sendirian.

LukaSenja

Senja menyusuri koridor sembari membawa paperbag coklat berisikan bekal sandwich buatannya yang nanti akan ia berikan kepada Kaila. Lagi-lagi ia harus pulang sendirian karna kedua sahabatnya masih sibuk dengan pekan olahraga. Alih-alih langsung pulang, beruntungnya hari ini ada jadwal kelas riset yang membuat Senja lebih lama tinggal di sekolah. Jujur saja, Senja sedikit bosan jika pulang lebih awal ke rumah jika di rumah tidak ada mama dan papanya, apalagi ia pulang sendiri padahal biasanya dengan Kaila dan Ensel.

Senja sampai di auditorium tempat anak-anak balet berlatih untuk kompetisi di pekan olahraga. Pandangan Senja menyebar, mencari batang hidung sahabatnya, namun ia gagal menemukannya. Ia kemudian melirik jam arloji yang melingkar di tangannya. Sepuluh menit lagi kelas riset akan segera dimulai. Senja lalu menitipkan sandwich itu kepada salah satu rekan Kaila dan menitipkan pesannya kepada Kaila, lantas berlari keluar dari auditorium menuju kelas riset yang terletak di lantai 4, dua lantai ke atas dari auditorium.

Di koridor lantai empat, Senja dikagetkan dengan keberadaan Luka yang tiba-tiba berjalan di sampingnya sambil mendorong-dorong tubuhnya ke samping.

“Apa, sih?” seru Senja kesal. Sebenarnya ia malas untuk berdebat lagi dengan lelaki itu, tapi entah kenapa ketika bertemu dengan Luka, Senja seperti bertemu dengan masa lalunya yang membuatnya ingin marah besar dan meratakan seluruh wilayah sekolah.

Lelaki di sampingnya hanya terkekeh pelan sambil mendorong tubuh Senja lebih kuat.

“Lo dorong gue lagi, gue timbuk pakek tas gue yang berat ini,” tegas Senja sambil melepas tas di punggungnya dan bersiap melemparnya ke arah Luka.

Seketika lelaki itu berhenti berulah. Ia menjauh beberapa meter dari Senja yang tidak lama lagi akan menjelma menjadi singa.

Setelah itu, keduanya kembali berjalan sejajar menuju tujuan mereka masing-masing.

“Lo mau ke mana?” tanya Luka.

“Nggak usah kepo!”

“Oh mau ke kelas riset?” Perkataan Luka itu berhasil membuat langkah Senja berhenti seketika. Dengan tatapan tajam, gadis itu menghadap Luka yang berada 1 meter darinya.

“Jangan bilang lo juga gabung di kelas riset?”

“Kalau iya emangnya kenapa?”

Senja menepuk jidatnya. Dengan cekatan ia melepas tas di punggungnya dan memukul punggung Luka menggunakan tas itu. “Lo kenapa, sih. Ikut-ikut gue?!”

“Siapa yang ikut-ikut lo? Orang jelas-jelas gue cuman tertarik sama kelas riset,” cetur Luka.

“Dih, orang kek lo tertarik sama riset? Nggak yakin gue. Dahlah, terserah. Awas lo ganggu hidup gue!” Senja kembali berjalan terlebih dahulu meninggalkan Senja yang masih terdiam di koridor setelah berdebat dengan gadis itu.

Setelah beberapa saat, keduanya sampai di ruangan yang merupakan kelas riset. Di sana sudah ada banyak murid yang mulai mempersiapkan diri. Beruntungnya, guru pembimbing kelas riset hari ini datang, Senja tidak perlu takut dimarahi karna sebenarnya ia terlambat dua menit datang ke kelas. Memang hanya dua menit, tapi Senja memilih untuk membolos saja daripada datang terlambat dan dapat teguran mematikan dari guru pembimbingnya.

Dengan cepat, Senja duduk di bangku kosong di samping Alter, sedangkan Luka duduk di bangku belakangnya bersama dengan seorang gadis berkacamata bundar yang tengah menarikan penanya di buku, karna hanya bangku itu yang tersisa.

Satu menit kemudian, perempuan paruh baya berkerudung masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa banyak kertas di tangannya, lalu duduk di mejanya dan memulai pelajaran kelas riset hari ini.

Baca Juga : LukaSenja : Chapter 12

Baca Juga : Tips dan Cara Membuat Cerita di Wattpad bagi Penulis Pemula

Baca Juga :