Chapter 3 : Ensel Maneswara
Senja sampai di perpustakaan tempat ia akan mengembalikan novel yang baru saja ia selesaikan. Gadis itu langsung membuka pintu besar perpustakaan dengan sekuat tenaga kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Mendengar gesekan pintu yang cukup berisik, semua orang menatapnya sinis, tanda bahwa mereka tidak bisa diganggu dengan suara sedikit pun.
“Maaf,” ucap Senja lirih sembari menggunakan isyarat dari kedua tangannya, kemudian menuju ke meja informasi yang berada tak jauh dari pintu.
“Hai, Se!” Seseorang keluar dari dalam ruangan kecil di belakang meja informasi, lelaki dengan jas almamater sekolah dan kartu identitas bertuliskan, penjaga perpustakaan.
“Hai, Sel, lo ngapain di sini?”
Lelaki bernama Ensel itu menyipitkan mata, ada apa dengan pertanyaan gadis di depannya itu? “Lo nggak liat gue lagi pakek apa?” tanya Ensel sembari menunjuk kartu identitas penjaga perpustakaan yang tengah ia kalungkan di lehernya.
“Sorry, gue lupa kalau lo ikut keanggotaan perpustakaan.” Senja menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum sebentar lalu duduk di kursi depan meja informasi untuk berbincang sedikit lebih lama dengan Ensel.
“Tumben lo nggak sama Kaila.”
“Ciee ….”
“SHHHTTTTTT!” Sepertinya suara Senja terlalu kelas hingga penghuni perpustakaan yang terlalu sensitif mendengarnya.
“Maaf,” ucap Senja sekali lagi meminta maaf, kali ini dengan gerakan isyarat yang berartikan berjanji tidak akan berisik lagi.
“Apa sih, lo? Orang gue cuman mau balikin buku Biologi punyaknya.” Ensel mengeluarkan buku paket Biologi setebal kamus bahasa inggris yang katanya adalah milik dari Kaila, kemudian menyerahkannya ke Senja. “Karna dia nggak ada, jadi gue titip lo aja.”
“Enak aja, nggak mau gue. Balikin sendiri!” seru Senja menolak.
“Nggak bisa, nggak ada waktu. Gue habis ini nggak masuk kelas, ada bimbingan olimpiade.”
Mendengar kata “olimpiade” sepertinya membuat kepala Senja memunculkan tanda tanya. “Olimpiade apa?”
“Lo nggak ditawari sama Bu Asfi buat ikut olimpiade sains?”
Senja terdiam, membuat sedikit jeda sebelum menjawab pertanyaan itu. “Udah sih, tadi. Tapi gue nggak tahu harus nerima tawaran itu apa nggak.”
“Kenapa?”
Senja menghela nafas kasar. “Karna gue mau istirahat dulu dengan yang namanya lomba-lomba terutama olimpiade. Hampir dua tahun gue di sini keknya lomba muluk yang gue ikutin, serasa jadi budak sekolah gue. Lagian tuh piala yang harusnya punya kita malah diambil sekolahan, kita cuman dapet uang hadiahnya aja.”
“Kan lo bisa bikin duplikat dari pialanya. Masak lo yang notabenenya tuan putri gini nggak bisa duplikat piala,” cibir Ensel, diakhiri dengan kekehan kecilnya.
“Bukannya nggak bisa, tapi kesannya bakal beda gitu. Mending sekolah aja yang bikin duplikat, lagian pialanya kan cuman buat pameran biar bisa ningkatin mutu dan akreditasi kan?”
Mata Ensel sedikit terbelalak, sepertinya pembicaraan mereka sudah hampir melewati batas, lelaki itu harus menghentikannya sekarang juga. “Dahlah. Kalau ngomongin soal gituan, gue no comment aja.”
“Dasar lo, takut ya …” ejek Senja.
“Nggak, cuman agak merinding aja kalau lo mulai ngomong kek gituan.”
Senja menyipitkan matanya, menatap sinis lelaki di depannya. “Udah, gue mau ke kelas. Lo nanti pulang sekolah kosong nggak? Gue sama Kaila mau nonton film buat ngerjain tugas kelompok.”
“Ikut!”
“Oke.” Senja mengacungkan jempolnya. Sebelum ia mulai membuka pintu perpustakaan, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Perlahan ia mendorong pintu itu, berusaha agar tidak menimbulkan decitan-decitan kematian yang akan membuat penghuni perpustakaan menatapnya dengan tajam. Setelah kedua kakinya berada di luar, barulah ia segera menutup pintu ruangan itu dan ia berhasil survive dari tempat penuh buku tersebut.
Senja kemudian kembali berjalan menyusuri koridor untuk menuju ke kelasnya, 5 menit bel masuk akan segera berbunyi. Namun masih beberapa langkah ia berjalan, langkahnya terhenti mendadak saat sosok Kaila sudah berdiri di depannya dengan jarak 3 meter darinya. Gadis itu menyilangkan kedua lengannya ke depan dada, menatap Senja dengan tatapan mengintimidasi, seakan nyawa Senja sudah berada di tangannya.
“Dari mana aja lo? Lo berani-beraninya ninggalin gue, terus ke perpustakaan nggak ajak-ajak?” ujar Kaila dengan nada tinggi, gadis itu masih berdiri tegak dengan muka masam di tempatnya.
“Sorry. Habisnya, gue bosen di sana. Jadi gue ke perpustakaan buat ngembaliin buku.” Senja mendekati sahabatnya itu, kemudian melingkarkan lengannya ke leher Kaila dan mengajaknya berjalan menuju ke kelas. “Tumben lo mau ke perpus, biasanya banyak alasan pas gue ajak ke perpus.”
Kaila tersenyum sumringah, wajah gadis itu berubah 180 derajat dari yang semula masam menjadi manis. “Ada orang yang mau gue temuin.”
“Siapa? Ensel?”
Kaila melotot ke arah Senja. “Ihh, kok Ensel? Gue udah muak ketemu anak itu tiap hari. Bukan dia!”
“Terus siapa?”
“Ada deh,” ujar Kaila sembari tersenyum lebar. Gadis itu melepaskan lengan Senja yang melingkar di lehernya, lantas berlari dan meloncat-loncat menuju ke kelasnya.
Senja menggelengkan kepalanya dengan wajah heran, temannya itu memang sedikit aneh. “Ada nggak, sih, di sini yang mau tukeran temen. Temen gue kadang waras kadang nggak soalnya.”
***
Ensel merapikan seluruh alat tulisnya yang berserakan di meja, lantas memasukkannya ke dalam ransel. Bel pulang sekolah yang dinanti-nantikan seluruh siswa telah berbunyi semenit yang lalu, dan baru saja guru Biologi mengakhiri sesi pembelajaran hari ini.
Tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar, dengan cekatan ia langsung merogoh sakunya dan meraih ponsel itu. Terdapat tulisan “mama” di layar utama ponsel yang tengah menyala dengan ikon hijau berbentuk panggilan yang bergerak-gerak, menunggu Ensel memencetnya.
Ensel menghela nafas sebentar, lalu mengangkat telpon dari mamanya itu. “Halo, Ma.”
Ensel memejamkan matanya selama beberapa saat, mendengarkan dengan seksama apa saja kata-kata yang diucapkan mamanya dari telepon. Setelah mamanya selesai berbicara, barulah ia mulai bersuara. “Maaf, Ma. Ensel mau keluar bareng temen dulu.” Setelah itu ia menutup panggilan sebelah pihak, lantas menonaktifkan ponselnya.
“Sel?” panggil Senja dari belakangnya. “Jadi ikut?”
Ensel terdiam sebentar, menatap wajah Senja dan Kaila di depannya. “Ikut, dong. Gue juga mau ngerjain tugas kelompok itu sekarang.”
“Lah, lo nggak ngajak Dino buat ngerjain bareng?” tanya Kaila.
Ensel menarik salah satu sudut bibirnya dengan paksa, lantas mendorong kedua temannya itu untuk segera bergerak keluar dari kelas. “Kalian tahu, kan, gue lebih suka ngerjain sendiri daripada berkelompok. Lagian si Dino juga lagi sibuk.”
“Sibuk apa? Sibuk pacaran di gang belakang sekolah sambil peluk—”
“Aduh, mulut bocah ini nggak pernah di filter ya, Kai?” cibir Ensel, membekap mulut Senja sebelum gadis itu meneruskan ucapannya.
“Biasa, anak dari keluarga Adiyatama emang agak susah dikontrol, pedes semua kalau disuruh nge-judge orang,” sahut Kaila.
Senja langsung menepis tangan Ensel yang menutupi mulutnya. “Kurang ajar! Lagian apa yang gue bilang fakta, kan? Nggak dosa dong gue ghibahin dia.”
Ensel dan Kaila langsung terdiam. Keduanya lebih memilih fokus dengan jalan mereka daripada harus berdebat dan meneruskan omongan itu dengan gadis bernama Senja namun berhati malam itu.
“Lo lagi, Sel. Udah gue bilang dari dulu, namanya kerja kelompok semua itu kerja. Dan sekarang, lo malah kerja sendiri sedangkan tuh orang bodoh malah santai-santai nggak jelas. Dikira ini sekolahan punya bapaknya apa gimana? Ya, emang, sih. Tapi, lo harusnya nggak usah tulis namanya lah kalau dia nggak kerja.” Senja meninggikan suaranya. Kali ini sepertinya ia sedikit naik pitam dengan sifat dari temannya itu.
“Sorry, Se. Lagian gue juga nggak papa kok ngerjainnya sendiri.”
“Serah, lo dah! Awas aja besok gue ketemu sama tuh anak di kelas!” Senja mempercepat langkahnya menuruni tangga menuju lantai 1, mendahului Ensel dan Kaila yang tiba-tiba berhenti di ujung tangga.
Kaila menatap lamat punggung Senja yang menghilang dari pandangannya. “Serem juga, ya, tuh bocah kalau lagi ngamuk.”
Ensel mengangguk menyetujui. “Gue nggak bakal ngira hal kek gini bisa terjadi.”
“Lo, sih. Dimana-mana, anak basket itu ceritanya adalah anak yang pemberani, gigih, tangguh. Lah lo, suka main basket, gabung tim basket, anak basket, tapi lo tetep nggak berani negur si Dino. Mana cuman masalah kerkom lagi.”
Keduanya menghela nafas kasar bersamaan, lantas berlari menuruni tangga menyusul temannya yang sudah hilang entah ke mana.
Baca Juga : LukaSenja : Chapter 2
Baca Juga : Cara Menulis Cerpen Bagi Pemula Agar Menarik untuk Dibaca





