LukaSenja : Chapter 8

Lukasenja504 Dilihat

Chapter 8 : Trauma

Senja membuka pintu kamar milik Kaila dan masuk ke dalam kamar itu, lantas menaruh tasnya di samping ranjang dan merebahkan badan di ranjang tersebut.

“Hari ini, capek banget gue,” ujarnya sambil menghela nafas kasar.

Kaila yang melihat hal itu hanya bisa ikut menghela nafas bersama sang sahabat, lalu menawarkan minuman untuk mengembalikan kesegaran dalam tubuh mereka. “Mau jus buah?”

Senja langsung terbangun dan dengan cekatan duduk di tepi ranjang saat mendengar tawaran itu. Wajahnya berseri dan detik berikutnya gadis itu mengangguk dengan kuat.

“Oke. Udah, lo lanjut tidur gih. Lo yang bangun kek gini kadang serem juga.” Kaila mendorong pundak Senja dengan jari telunjuknya hingga sang sahabat kembali merebahkan badannya di ranjang miliknya. Kemudian ia berjala keluar kamar tanpa menutup pintu untuk mengambil jus buah.

Sepeninggal Kaila, Senja mengurungkan niatnya untuk tertidur pulas sampai sahabatnya itu kembali dari dapur dengan segelas jus buah untuk dirinya. Gadis itu bangkit dari ranjang dan duduk di meja belajar milik Kaila. Ia meraih ransel yang ia taruh di dekat meja belajar tersebut dan segera mengeluarkan sebuah laptop dengan logo apel di bagian depan, lantas mengaktifkannya.

“Karna gue bilangnya buat ngerjain tugas, gue selesain dulu aja tugas gue. Nanti biar Kaila yang revisi.” Usai laptop di depannya sudah menampilkan homepage, Senja meregangkan otot kedua tangannya, menjulurkannya ke depan, ke atas, dan kebawah. Lalu mulai menarikan jari jemarinya di keyboard dan touchpad laptopnya.

Senja membuka dokumen bertajuk, “Makalah Resensi Film Layar Lebar” lantas melanjutkan kalimat yang sempat ia rancang beberapa waktu yang lalu sesudah menonton film bersama Ensel dan Kaila.

Menjadi peringkat 1 paralel secara berturut-turut, tentu saja sangat susah bagi Senja. Meskipun ia terbilang bisa menyaingi temannya yang lain, tapi mempertahankan lebih susah daripada mengalahkan bukan? Mungkin banyak orang berpikiran, kalau sudah terlahir dari keluarga yang mapan, bukankah masuk universitas terbagus sekalipun akan lebih mudah? Jawabannya adalah tidak bagi Senja. Meskipun kini ia masih duduk di kelas 11 semester 1, ia sudah mempunyai target dan gambaran kalau nanti saat ia kuliah ia ingin hidup mandiri tanpa ada bimbingan dan dampingan secara langsung dari mama papanya. Dan orang-orang tidak tahu, kalau apa yang dilakukan Senja sekarang adalah sebuah trauma yang menjadi kebiasaan bagi dirinya.

Tak lama kemudian, Kaila datang dengan dua gelas jus buah yang ia buat sendiri dari dapur dan langsung ia suguhkan di depan sahabatnya yang tengah fokus di depan laptop.

“Lo ngerjain makalah kok nggak nunggu gue, sih. Gini-gini gue sadar diri loh kalau gue nggak mau jadi beban kelompok,” cibir Kaila sembari mendaratkan dua gelas jus buah di meja belajar miliknya, lantas duduk di samping Senja untuk ikut mengerjakan tugas makalah mereka.

“Sorry, tadinya sih gue niatnya serahin ke lo buat direvisi aja. Tapi karna lo udah ada di sini sekarang, buka buku lo gih, cari materi. Biar gue yang ketikin.”

“Siap, Bu Bos!” Kaila dengan cekatan membuka laci meja belajarnya untuk menemukan buku paket Bahasa Indonesia dan membuka bab resensi untuk menemukan materi yang bisa melengkapi tugas makalah mereka.

Dua gadis itu kini tengah fokus menyelesaikan tugas kelompok mereka. Sesekali mereka meminum jus buah yang tadi sudah dibuatkan Kaila untuk menyegarkan otak mereka. Sesekali juga mereka memutar musik dan beristirahat sebentar dengan karaoke dan menari bersama di kamar, sampai mama Kaila datang ke kamar untuk memeriksa anaknya dan teman anaknya yang menginap di rumahnya karna suara musiknya yang sangat keras. Mama Kaila hanya bisa menggeleng sambil tersenyum lebar melihat dua gadis itu menari dengan sangat bahagia, mengingat bahwa dulu ia juga pernah melakukan hal yang sama.

Jam dinding di kamar Kaila kini menunjukkan pukul 7 malam. Keduanya akhirnya selesai bergelut dengan tugas makalah, lantas membaringkan tubuh dengan lelah di ranjang dengan masih memakai seragam sekolah. Bahkan mereka melupakan mandi saat fokusnya hanya tertuju kepada tugas sekolah.

“Siapa yang mandi duluan? Lo dulu, gih.” Kaila menyenggol pundak Senja sembari menatap langit-langit kamarnya yang penuh pernak-pernik berbentuk bintang berwarna-warni.

“Sebagai tamu yang baik hati dan tahu diri, jadi gue mempersilahkan lo buat mandi duluan,” ujar Senja sambil memejamkan matanya, sepertinya gadis itu ingin tidur sebentar sekarang.

“Oke, deh. Gue duluan.” Kaila bangkit dari tidurnya dan langsung meraih handuk di dekat ranjang, lantas melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan sendiri. Sedangkan Senja, gadis itu sudah menutup matanya, bersiap untuk berlayar di pulau kapuk.

Pikirannya perlahan kosong, menandakan kalau dirinya sebentar lagi akan berpindah ke alam mimpi. Namun ternyata ia masih bisa tersadar. Dengan cepat, Senja membuka matanya. Namun anehnya, bukan kamar Kaila yang ia dapati, melainkan tempat kosong berwarna putih bersih yang hanya terdapat ranjang dan dirinya di ranjang tersebut.

Senja bangkit dari ranjang itu untuk melihat-lihat sekitarnya, mimpi aneh apalagi yang akan merenggut tidurnya? Apakah masih sama?

Gadis itu sontak menghentikan langkahnya saat masih asik berjalan-jalan melihat sekitar, ketika seorang pria paruh baya berpakaian rapi berbalut kemeja motif persegi berwarna biru tua dengan bawahan celana jeans mendekatinya. Bukannya ketakutan karna wajah pria itu yang garang, Senja malah merotasikan bola matanya malas, seakan ia sudah terbiasa dengan hal itu. Pria itu terus berjalan mendekati Senja hingga pada akhirnya bukan Senja lah targetnya. Pria itu menembus tubuh Senja dan menghampiri gadis kecil dengan kuncir dua di belakangnya.

Senja tiba-tiba meneteskan air mata dengan deras ketika pria itu mendaratkan tamparannya dengan sangat keras kepada gadis kecil itu sampai wajahnya menoleh ke samping. Gadis kecil itu menangis kesakitan sambil memegangi salah satu pipinya yang mulai memerah. Bukan hanya tamparan, bahkan pria itu juga mendaratkan pukulan, tendangan, kepada gadis kecil yang harusnya membutuhkan kasih sayang itu.

Meskipun sepertinya Senja sudah terbiasa melihat hal itu dalam mimpinya, tubuhnya masih bisa merasakan rasa sakit yang dialami oleh gadis kecil itu. Ia masih bisa merasakan bekas pukulan, tamparan, tendangan yang diterimanya dari pria paruh baya itu.

Tiba-tiba pria paruh baya itu menghilang. Di depannya kini tinggal gadis kecil yang berjalan pelan menuju ke sebuah tempat sambil menangis tersedu-sedu. Di depan gadis itu, muncul sosok wanita paruh baya yang tengah asik berkutik dengan ponselnya. Gadis kecil itu lantas memeluk sang wanita paruh baya dari belakang dengan. Bukannya membalasnya, wanita itu malah melepas paksa pelukan dari gadis itu. Kemudian wanita itu melemparkan air dalam gelas bekas minumannya ke wajah si gadis kecil sembari berucap, “dasar anak sial tak tau diuntung!”

Senja perlahan menutup matanya sembari menangis sesenggukan dan memegangi dadanya yang sesak. Ia masih bisa merasakan luka-luka yang dialami oleh gadis kecil itu, bukan ditubuhnya, melainkan luka sayatan di hatinya. Ia jatuh terduduk di tempat penuh kekosongan itu. Satu detik yang lalu, gadis kecil dan wanita paruh baya itu menghilang dari pandangannya. Tinggallah dia seorang diri di tempat putih yang aneh itu.

Senja ingin segera terbangun dari tidurnya, bahkan sesekali ia memanggil nama sahabatnya untuk membangunkannya. Sesekali ia juga mengucapkan nama mama papanya yang sekarang sangat menyayanginya, atau bahkan ia menyebut dan memanggil nama mama papa kandungnya yang telah pergi meninggalkannya saat ia masih bayi.

Baca Juga : LukaSenja : Chapter 7

Follow Juga : Wattpad Aiden Nang for more story

Baca Juga :