Memaafkan Menjaga Kesehatan

Ayo Membaca2261 Dilihat

Memaafkan Menjaga Kesehatan merupakan sebuah sikap yang membutuhkan kejernihan fikiran dan kelapangan hati. Memaafkan bukan berarti melupakan, namun menetralisir emosi yang tersimpan karena suatu kejadian, keadaan atau orang lain. Karena setiap orang pasti pernah merasakan marah, kecewa, kesal, tersakiti dan lain-lain yang membuat emosi tidak beraturan dan meledak-ledak. Hal itu lumrah dialami oleh setiap manusia dan sangat manusiawi. Perasaan tersebut merupakan hal yang normal terjadi dan harus disalurkan dengan wajar agar tidak menjadi beban psikologis.

            Namun banyak orang yang secara sadar atau tidak sadar mengalami kesulitan untuk memaafkan. Ada yang memilih memendamnya, ada yang melampiaskannya kepada aktifitas yang lain. Malah ada yang memilih untuk membalasnya sampai ia merasakan kepuasan atas dendam dan amarah yang telah lama dipendam. Padahal memendam amarah dan rasa benci bisa mempengaruhi fungsi otak dan kesehatan mental yang akhirnya berdampak pada terganggunya kesehatan fisik.

            Menurut Karel Mark, seorang ahli psikoterapi menyatakan bahwa memaafkan adalah pelepasan emosi negatif dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Memaafkan berarti menerima kondisi yang telah terjadi serta tidak menjadikan beban terhadap psikologis diri, terhadap karir, keluarga dan kehidupannya secara menyeluruh. Memaafkan bertujuan untuk melepaskan diri dari tekanan psikologis yang sangat berdampak buruk pada diri kita. Namun banyak yang mengalami kesulitan dalam memaafkan. Memaafkan bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi jika berkaitan dengan beban masa lalu.

            Kebiasaan marah apalagi dengan intensitas yang tinggi sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh dan mental. Marah dapat menguras energi tubuh dan merngganggu fungsi beberapa organ dalam tubuh. Efek negatif marah bagi kesehatan tubuh masih sangat jarang diperhatikan. Padahal hal ini tidak semestinya disepelekan, apalagi bagi orang-orang yang menderita penyakit jantung, kebiasaan marah bisa berakibat fatal.

Baca Juga : Kembalikan Peran Ayah dalam Pengasuhan

            Maka sudah sepatutnya untuk kita melatih diri agar bisa memaafkan. Memaafkan atau dalam dunia psikoterapi dikenal dengan Forgiveness Therapy sangat efektif menekan emosi-emosi negatif yang masuk dalam diri kita. Saya pernah mempunyai pengalaman tentang ampuhnya memaafkan. Ada satu siswa datang menemui saya menceritakan permasalahan dengan ayahnya. Ada konflik keluarga yang membuat ia sangat marah kepada ayahnya. Saking marahnya sampai ketika ayahnya lewat di depannya langsung dada terasa sesak dan sakit karena terlalu kuat menahan rasa marahnya. Sehingga membuat ia mengalami pusing berkepanjangan. Bahkan ia pun juga sering berhalusinasi seakan-akan ada yang ingin mencelakainya. Satu saran pertama yang saya sampaikan kepadanya adalah, “Coba maafkan ayahmu nduk, sebagai perwujudannya, kamu awali untuk meminta maaf duluan ke ayahmu”.

            Singkat cerita sepulang dari bertemu dengan saya, dia langsung menemui ayahnya untuk mendahului meminta maaf. Tanpa disangka hubungan antara ayah dan anak yang sempat kaku menjadi cair kembali, mereka saling berpelukan dan meneteskan air mata bersama. Mereka saling memaafkan. Lalu anak ini memberikan kabar kepada saya kalau dadanya sudah tidak terasa sakit, sudah ringan dan tidak pernah lagi merasakan sakit kepala sepanjang hari.

            Masalah fikiran dan psikis dalam pengelolaannya memang butuh dilatih dan memulainya harus dengan kesadaran dan kemauan yang kuat. Memaafkan dapat menjadi terapi psikologis jika dilakukan dengan efektif. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan ketika kita dalam keadaan marah ataupun kecewa. Memaafkan Menjaga Kesehatan antara lain :

1. Ekspresikan perasaan atau emosi

Jika mengalami kekecewaan dan marah, maka kita dapat mengekspresikan emosi kita dengan kegiatan atau sikap yang menurut kita nyaman dan dapat menetralisir amarah. Kita dapat melakukannya dengan teriak, menulis, menangis, ataupun berbicara langsung dengan orang yang membuat kita marah. Kita mengambil cara yang mana disesuaikan dengan karakter dan kenyamanan kita.

2. Mengantisipasi penyebab marah datang kembali

Perlunya kemampuan membaca diri dan berdialog dengan diri sendiri adalah dalam antisipasi ini. Situasi, kondisi apa yang kira-kira akan memicu hal yang sama. Maka sebisa mungkin untuk mengantisipasinya dengan jalan menghindarinya, meminimalisir atau menyiapkan alternatif solusi jika terpaksa terjadi kembali.

3. Membuat emosi tenang terlebih dahulu ketika marah

Saat marah logika tidak berjalan, karena otak bagian emosi yang mendominasi. Seperti cinta yang ketika datang maka tidak ada logika. Memang seperti itu aturan main atau cara kerja otak. Ketika otak emosi dimainkan dan mendominasi maka otak bagian logika tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya. Sehingga wajar ketika marah kadang tindakan kita di luar nalar. Orang tua yang marah kepada anaknya lalu tidak bisa mengontrol akhirnya memukul anaknya sampai terluka. Lalu ketika nanti emosi marahnya mereda, dia akan merasa menyesal melakukan itu. Hal itu dikarenakan otak bagian logikanya bekerja kembali. Maka ketika marah hendaknya segera dialihkan ke hal-hal yang membuat kita tenang, sebelum terwujud dalam bentuk perbuatan seperti memukul, berkata kotor, membanting barang dan perbuatan negatif merusak lainnya.

4. Membangun rasa aman pada diri

Banyak orang yang trauma akan mengalami kekecewaan, kemarahan dan kesakitan yang sama di kemudian hari. Maka yang perlu dilakukan adalah merubah mind-set bahwa sampai kapanpun, sekarang, dulu ataupun besok kita tidak akan pernah 100% aman. Bahwa kehidupan akan terus mendatangkan permasalahan dan konflik. Jadi tetap waspada, setia memegang kontrol diri, dan selalu berfikiran positif terhadap diri dan kehidupan.

5.Membuka lembaran baru

Memaafkan berarti telah menerima kondisi yang sudah terjadi, sehingga tidak mengungkit-ungkit lagi apa yang terjadi di masa lampau. Membuka lembaran baru dan fokus pada masa depan. Biarkan diri kita menjalani kehidupan baru dan melepaskan diri dari hal-hal negatif yang mengganggu.

6. Melakukan teknik forgiveness therapy

Teknik ini bisa kita lakukan selama 7-14 hari tergantung tingkat kemarahan yang kita pendam. Ukur terlebih dahulu tingkat marahnya dengan skala 0-10. Biasanya dilakukan malam hari sebelum tidur saat kondisi fikiran cenderung tenang. Lalu duduk rileks seperti akan melakukan rileksasi atau hypnotherapy. Setelah itu diawali do’a sesuai keyakinan kita. Baru memasuki teknik afirmasi atau sugesti. Kita pejamkan mata sambil mengatakan dalam hati hal-hal yang ingin kita ucapkan kepada mereka orang yang telah menyakiti atau membuat kita kecewa. Dengan kalimat, “A (nama orang tersebut), maafkan aku. Apapun kesalahanmu, itu sudah terjadi, yang bisa kita lakukan hanya perbaiki. Aku telah memaafkan semuanya”. Bayangkan orang tersebut tersenyum, mengangguk lalu pergi. Coret list orang pertama tadi dari kertas daftar kita, kemudian ukur skala intensitas emosi kita dari skala 0-10. Bandingkan dengan intensitas sebelum kita melakukan ini.

Memaafkan memang hal yang sulit dilakukan, namun bukan berarti tidak mampu. Tuhan yang menciptakan kita sebagai manusia saja sangat Maha Memaafkan. Tetap mau menerima kita di saat kita sering meninggalkan dan melupakanNya. Hati dan fikiran kita adalah di bawah komando kita. Sehingga kita tetap harus mengambil kendali penuh terhadap hati dan fikiran kita. Jangan sampai kita membiarkan emosi dan fikiran negatif merusak kehidupan kita. Kita memaafkan orang-orang yang telah menyakiti kita bukan semata-mata untuk kebaikan mereka, namun sesungguhnya untuk kebaikan kita dan Memaafkan akan Menjaga Kesehatan. Semoga bermanfaat.

Memaafkan Menjaga Kesehatan – Oleh : Agus Novel Mukholis