Menemukan Kenikmatan di dalam Pekerjaan

Ayo Membaca1449 Dilihat

Dalam memahami makna dari kebahagiaan, kita perlu mengikhtiyarkan kenikmatan dalam segala lini kehidupan kita, termasuk pekerjaan. Kalau bicara mengenai pekerjaan sangat luas. Tidak bisa hanya dipahami sebagai aktivitas suatu profesi tertentu, atau aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan uang, gaji, honor dan pendapatan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Pekerjaan bisa dalam ranah sosial, budaya, agama, pendidikan yang kesemuanya itu tidak harus dan tidak selalu bernuansa cuan, fulus, uang. Kalau pekerjaan selalu diletakkan pada ranah profesi, maka saya sangat tidak setuju jika ibu rumah tangga dianggap tidak bekerja. Padahal pekerjaan dan tugas seorang Ibu lebih berat dan lebih mulia dari profesi apapun. Karena seorang Ibu sedang menjalani pekerjaan sosialnya, pekerjaan budayanya, pekerjaan agamanya hingga pekerjaan pendidikannya.

Kembali kepada kenikmatan dalam bekerja. Namun sebelumnya saya teringat dengan ilustrasi gula dan lidah kita. Jika ada gula yang rasanya sangat manis lalu kita bisa merasakan manisnya, maka sejatinya peristiwa utamanya ada di gulanya apa di lidahnya?. Untuk menjawab itu coba seandainya kita tidak bisa merasakan rasa manis pada gula, maka sesungguhnya yang sedang bermasalah adalah gulanya ataukah lidah kita?. Tentunya kita semua akan serentak menjawab “lidah”. Nah begitulah ilustrasinya mengenai relasi antara diri kita dan pekerjaan kita.

Baca Juga : Memayu Hayuning Bawana

Maka tatkala di satu waktu, atau kita pernah mengalami atau sedang mengalami sebuah kondisi ketidak-nyamanan, ketidak-bahagiaan dan ketidak-harmonisan dalam pekerjaan kita, ketahuilah sesungguhnya bukan pekerjaannya yang bermasalah, namun diri kita yang bermasalah. Harus diakui itu dengan segala kerendahan hati kita. Kalau kita memahami secara mendalam bagaimana kinerja hati, perasaan, emosi, dan pusat kesadarannya dalam otak kita, maka kita akan tahu satu hal, bahwa kebahagiaan, kesedihan dan apapun kondisi batin dan psikis kita sejatinya kita sendiri yang menciptakannya. Bukan dari luar. Namun masalah dalam intern diri kita. Kita selalu tidak tepat dalam menilai peristiwa-peristiwa yang hadir dalam kehidupan kita.

Maka mencari bahagia itu tidak perlu jauh-jauh dan merumitkan diri dengan segala tetek-bengek alasan, teori, alibi dan seterusnya. Kita sendiri bisa menciptakannya. Itu kuncinya. Maka dalam term Islam, kita bisa memahami satu konsep mengenai hikmah. Agar kita selalu terjaga dalam kesadaran bahwa kondisi apapun itu merupakan kenikmatan dari Allah. Mudah sih diucapkan, namun dalam penerapannya kita membutuhkan latihan secara terus menerus.

Saya jadi teringat dhawuhnya KH. Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Beliau pernah ngendikan,bahwa rahmat (kasih sayang Allah) itu lebih besar dari pada murkaNya. Bahwa dari sembilan puluh sembilan Asma keagunganNya itu, selama di dunia ini Allah hanya menerapkan dua sifatnya yaitu Rahman dan Rahiim. Rahman adalah cintanya Allah yang seluas-luasnya, artinya siapapun dapat, kalau Rahiim adalah cintanya Allah sedalam-dalamnya artinya hanya mereka yang mencintai Allah yang dapat. Maka sifat Allah yang Maha Membalas itu belum diterapkan. Coba bayangkan jika Allah yang Maha Membalas itu ditegakkan dalam kehidupan. Maka saat tangan ini memegang pulpen untuk menandatangani penyelewengan dana atau uang rakyat, saat itu juga tangannya terpotong dengan sendirinya.

Baca Juga : Fungsi Profesinya dulu, Apa Fungsi Manusianya dulu?

Itu artinya, apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, baik itu yang menggembirakan maupun yang menyedihkan, baik itu kemanisan hidup atau kepahitan hidup, itu semuanya sejatinya adalah bentuk kasih sayangnya Allah kepada kita. Namun kenapa manusia menyebutnya itu bencana, manusia menyebutnya itu musibah, manusia menyebutnya itu adalah kepahitan hidup?. Itu karena kekurang-mampuan kita semua dalam menemukan hikmah dari segala kejadian dan peristiwa yang kita alami. Sehingga kita tidak bisa menemukan kenikmatan dalam setiap peristiwa. Bahkan sesuatu yang seharusnya disyukuri karena masih diberikan kesempatan untuk bekerja dan berkarya, kita pun tidak bisa menemukan kenikmatan di dalamnya. Maka seperti ilustrasi gula dan lidah di atas. Mari kita obati, kita terapi, kita sembuhkan lidah kita agar bisa merasakan nikmatnya rasa manis dan seterusnya.

Menemukan Kenikmatan di dalam Pekerjaan

Pekerjaan adalah ladang untuk kita memperluas karya, amal dan manfaat. Bahkan bisa menjadikan kita lebih dekat kepada Allah. Asalkan kita senantiasa berusaha menemukan kenikmatan di dalam pekerjaan kita. Dengan begitu kita akan lebih tenang, fikiran fresh, daya kreasi dan imajinas prima, inovasi pun bermunculan hingga ujungnya kepada peningkatan prestasi dan kebermanfaatan untuk sesama. Karena setiap melakukan semua aktivitas yang menjadi bagian dari pekerjaan itu kita merasa nikmat, nyaman sehingga totalitas. Bahasanya di dalam Islam adalah Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fatonah. Itu kurikulum pendidikan ala Nabi Muhammad Saw yang perlu kita terapkan dan aplikasikan dalam kehidupan agar kita selalu menebarkan kemanfaatan hingga mencapai prestasi-prestasi dalam kehidupan.

  1. Siddiq adalah kesungguhan. Memunculkan kesungguhan di dalam diri kita saat melakukan segala aktifitas yang menjadi pekerjaan kita. Kesungguhan ini berimplikasi kepada sikap totalitas, tidak menyia-nyiakan waktu, tidak menunda-nunda pekerjaan, tidak mencurangi rekan kerja, dan seterusnya. Selanjutnya adalah amanah.
  2. Amanah adalah harmonisasi. Artinya aplikasi dari kesungguhan yang berorientasi kepada kemaslahatan. Misalkan saya bersungguh-sungguh melempar bola basket namun saya sengaja untuk mengenai kepala orang. Itu tidak amanah. Karena ujungnya menyakiti, mendholimi orang. Amanah itu orientasinya kemaslahatan, yaitu moralitas dari output kesungguhan. Aplikasi dalam pekerjaan misalnya, jika ada urusan pribadi atau urusan rumah, maka jangan dibawa-bawa ke tempat kerja. Jika waktunya istirahat gunakan itu untuk istirahat, jika waktunya bekerja dengan serius gunakan itu untuk bekerja serius. Ketiga adalah tabligh.
  3. Tabligh ini adalah strategi dan teknokrasi. Untuk bisa presisi dalam menuju suatu hal itu ada strateginya. Nah itu namanya tabligh. Misalkan agar pekerjaan bisa selesai tepat waktu tanpa mengganggu aktivitas yang lain seperti ibadah, mengasuh anak, bercengkerama dengan keluarga, maka harus ada strateginya. Harus ada kedisiplinan dalam mengelola waktu. Maka tatkala kita bisa menerapkan ketiga aspek kurikulum Rasulullah Saw tersebut, baru kita bisa disebut fatonah.
  4. Fatonah adalah kecerdasan itu sendiri. Maka tatkala kecerdasan dalam arti sesungghnya itu diterapkan dalam kita beraktivitas dan bekerja, maka kita akan menemukan satu kenikmatan, penghayatan dan bentuk pengabdian kita kepada Tuhan. Output dari fatonah adalah integritas.

Menjadi pribadi seutuhnya yang mempunyai keteguhan dalam menegakkan nilai-nilai dan prinsip kebenaran dalam segala aspek kehidupan. Sekali lagi pekerjaan perlu kita temukan kenikmatannya, agar kita bisa menemukan kebahagiaan hingga menemukan Tuhan di dalamnya sebagai bentuk cinta dan pengabdian kita. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish Shawwab.

Menemukan Kenikmatan di dalam Pekerjaan Oleh : Agus Novel Mukholis