Penanggulangan bencana alam – Hai sahabat geografi dalam materi mitigasi bencana alam ada pembahasan tentang Penanggulangan Bencana Alam melalui Kearifan Lokal, ditinjau dari perspektif publik jadi sangat urgent serta signifikan buat diketahui selaku sebagai pengetahuan mendasar untuk warga tentang perihal dalam mengatasi bencana.
Metode Penanggulangan Bencana
Dikala ini penanggulangan bencana bukan lagi menjadi tren ilmu tentu yang konsentrasinya lebih menuju kepada pembangunan fisik sebagai metode penanggulangan bencana, melainkan juga sudah memasuki kepada cabang ilmu sosial yang lain semacam sosiologi serta antropologi. Pembahasan aspek penanggulangan musibah dari perspektif ilmu sosial hendak lebih menuju pada pola seorang dalam mempersepsikan sesuatu bencana.
Bencana saat ini bukan lagi dianggap selaku fenomena yang tidak menyeluruh, tetap bisa jadi bencana tersebut dikelola serta direduksi. Oleh sebab seperti itu, bencana bukan lagi dianggap sebagai bahaya yang mustahil buat dikelola. Namun, bagaimana kemudian menempatkan faktor keselamatan( safety) dalam bencana tersebut. Timbulnya gagasan“ kerentanan”( vulnerability) merupakan buat mengakomodasi pranata ataupun unit sosial selaku bagian dari kajian bencana. Spesialnya terhadap eksistensi peradaban serta kehidupan manusia yang berada di dunia.
Baca Juga : Siklus Penanggulangan Bencana
Pengelolaan Alam dalam Mitigasi Bencana
Aspek nyata yang lain merupakan menguatnya permintaan dalam mengelola alam yang jadi dominan dibanding state way( metode negara) serta common pool resources( metode warga) yang lebih memandang alam selaku sumber kemakmuran. Hingga pada saat kemakmuran yang dikeruk dari alam itu habis, alam menghasilkan aspek tersembunyi terbentuknya bencana alam. Mekanisme warga berbasis kearifan lokal sesungguhnya ialah wujud pemahaman menghargai kedekatan balance antara alam serta manusia yang tujuannya jelas menjauhi terdapatnya akibat destruktif sehingga apabila manusia tidak menghargai alam dengan sepantasnya hingga wajib siap menerima dampaknya.
Bencana alam dapat terjalin sewaktu- waktu serta tidak bisa diprediksi, keadaan demikian kerap mengejutkan orang dikala musibah seketika terjalin, warga kerap tidak siap kala musibah terjalin keadaan ketidaksiapan warga ini diakibatkan warga memanglah tidak memiliki pengetahuan yang lumayan menyangkut kesiagaan dalam mengalami musibah. Buat melindungi warga dari kerugian yang besar dalam musibah hingga butuh adanya Pengetahuan tentang kesiapsiagaan ialah serangkaian aktivitas yang mesti diketahui oleh penduduk masyarakat yang terdiri dari keluarga– keluarga yang dibuat mempersiapkan diri atau mengestimasi situasi bencana secara kilat/cepat serta tepat guna.
Baca juga : Bencana Alam Klimatologis
Kesiapsiagaan Dalam Bencana Alam
Upaya peningkatan kesiapsiagaan warga yang sudah dilakukan belum bisa diketahui, sebab belum terdapat framework serta tools buat memperhitungkan tingkatan kesiapsiagaan warga serta keberlanjutan aktivitas tersebut. Sepanjang ini upaya kenaikan kesiapsiagaan warga dilaksanakan bersumber pada kepedulian, tujuan serta keahlian dari institusi- institusi yang bersangkutan. Dengan demikian belum bisa dikenal apakah upaya- upaya itu sudah penuhi seluruh faktor yang dibutuhkan buat kesiapsiagaan terhadap musibah.
Kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan sesuatu keadaan sesuatu warga yang baik secara invidu ataupun kelompok yang mempunyai keahlian secara raga serta psikis dalam menghadapi bencana. Sesudah orang mengetahui stimulus ataupun obyek proses berikutnya hendak memperhitungkan ataupun bersikap terhadap stimulus ataupun obyek tersebut. Pengelolaan tanggap darurat bencana, rekonstruksi ataupun rehabilitasi pasca bencana dengan memperhatikan kearifan lokal. Peningkatan kapasitas warga dalam mengatasi resiko bencana urgent dilakukan, di antara lain dengan melaksanakan pelatihan penanggulangan musibah ataupun dengan simulasi- simulasi yang bisa menambah pemahaman warga dalam mengatasi resiko musibah.
Lihat Juga : Tingkat Isyarat Gunung Berapi Di Indonesia
Kearifan Lokal Dalam Mitigasi Bencana
Kearifan lokal adalah kekayaan budaya setempat yang mengandung kebijakan hidup, pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. Terkait dengan lingkungan hidup Undang-Undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mendefinisikan bahwa kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.
Wujud kearifan lokal bisa berbentuk nilai, norma serta keyakinan, serta aturan- aturan spesial, bahkan syair ataupun lagu- lagu kebudayaan tertentu.
Sebagian kearifan lokal yang berfungsi dalam penanggulangan bencana alam antara lain:
- Nyabuk Gunung di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing atau Ngais Gunung di Jawa Barat ataupun sengkedan di Bali ialah sistem pertanian dengan membuat terasering menjajaki garis kontur gunung( contour planting). Kearifan lokal semacam ini bisa menghindari terbentuknya tanah longsor.
- Kearifan suku Mentawai di Sumatera Barat dalam aktivitas perladangan tidak mengenal sitem tebas bakar.
- Semong dalam cerita rakyat Aceh, Semong jadi semacam mitugasi bencana yang menyerukan kepada penduduk buat lari ke bukit kala gempa.
- Tradisi Tana’ Ulen suku Dayak Kenyah di kalimantan Timur yang melarang penduduk buat menebang tumbuhan, membakar hutan, membuat ladang, serta melaksanakan aktivitas- aktivitas lain yang memunculkan kehancuran hutan di dalam daerah tana’ ulen.
- Subak di Bali yang mengelola irigasi buat sistem pertanian dengan melindungi penyeimbang serta keharmonisan antarmanusia, alam serta Tuhan. Sistem pengairan ramah area ini di Sulawesi diketahui dengan istilah Tolai, d Jawa Tengah dikenal dengan dharma tirta, serta di Jawa barat dikenal dengan mitracai.
Sekian rangkuman pembahasa Penanggulangan bencana alam untuk kearifan lokal, kalau di daerah kalian apa masih ada kearifan lokal dalam menangani bencana alam? coba komen di bawah ya.






