Penangkal Hoax: Mendengarkan yang Tak Dikatakan

Ayo Membaca1601 Dilihat

Penangkal Hoax: Mendengarkan yang Tak Dikatakan oleh Agus Novel Mukholis, S.Psi.I

“Ketika ular derik menggoyangkan ekornya, yang harus kamu perhatikan justru kepalanya”

Singkat cerita saat itu sepasang suami istri ditemani oleh ibu mertuanya sedang melihat-lihat rumah mewah megah untuk membelinya. Lalu sang paramuniaganya dengan sangat lihai menjelaskan keindahan dan segala kelebihan ornamen-ornamen dan segala perabot di setiap sudut rumah. “Interior ini dirancang oleh perancang dari Italia, bahan-bahannya pun diimport dari sana”, pramuniaga menjelaskan sambil berjalan mengantarkan keluarga itu melihat sudut-sudut yang lain. Lalu sang pramuniaga melanjutkan dengan menunjuk sisi dinding dan lantai sambil menjelaskan,“Batu marmer ini ada yang bernama emprees green, ada yang bernama honey onyx”.  Sang istri dalam benaknya pun bergumam, “sungguh luar biasa indahnya, dari namanya saja kelihatan barang mewah”. Suaminya pun juga bernada sama, memuji dan dan terus memuji keindahan dan kemewahan rumah itu.

Baca Juga : Untuk Apa Sekolah Tinggi Jika Ujungnya Jadi Ibu Rumah Tangga?

Namun ternyata ibu mertuanya lebih cerdas dan berpengalaman. Beliau sengaja berjalan mengikuti dari belakang sambil memperhatikan dan mengamati sudut-sudut lain yang sama sekali tidak pernah dibahas oleh pramuniaganya. Prosesi promosi dan pengenalan rumahnya pun selesai. Suami dan istri pun menyepakati untuk membeli rumah mewah tersebut, namun si ibu mertua dengan segera langsung menyela, “Baik mbak, terima kasih atas waktunya dan semua penjelasannya, keputusan kami untuk mengambil rumah ini atau tidak biar nanti anak saya menelfun anda”. Ucapan si ibu menyelamatkan si suami-istri dari kerugian dan efek ketidak-telitian yang lain. Lalu di dalam mobil, si ibu menjelaskan mengenai hal-hal yang ia temukan, yang luput dari perhatian dan pengamatan anaknya.

Bukankah sering kita melihat bahkan mengalami hal-hal seperti itu terjadi?, lumrah dan sangat alamiah sedemikian rupa dikarenakan manusia telah hafal dengan kerja pikiran saudaranya sesama manusia. Pramuniaga tidak salah. Ia berkata apa adanya. Ia menyampaikan dan menjelaskan keadaan beberapa bagian rumah dengan benar, tepat dan sesuai fakta. Ya namanya penjual memang seperti itu, menjelaskan secara banyak dan terus menerus mengenai kelebihan produknya. Agar calon pembeli sama-sekali teralihkan dari fokusnya kepada hal-hal yang kurang, janggal atau cacat dari produk itu. Sehingga menurut pembeli produk itu sempurna, tidak ada kekurangan dan cacatnya.

Manusia sudah sangat lihai menutup-nutupi kekurangan

Manusia sudah sangat lihai menutup-nutupi kekurangannya. Pramuniaga sekali lagi tidak berbohong sepatah kata pun. Hanya saja, ketia ia menjelaskan segala sisi kelebihan dan kebaikannya, mungkin kita melupakan keburukan yang ia sampaikan. Aturan yang sama berlaku tatkala kita hendak melakukan transaksi atau sedang mendengarkan penjelasan tentang suatu hal. Jika orang tersebut dengan penuh semangat dan antusias meminta kita untuk melihat ke “suatu sisi” yang isinya hanya kelebihannya, maka secara diam-diam dan senyap kita juga harus memperhatikan “sisi lain”. Jika ia mengajak kita memperhatikan plafon rumahnya, maka secara diam-diam kita juga harus memperhatikan lantainya. Maka menahan untuk berbicara dan berkomentar adalah hal yang tepat untuk mencegah kita masuk dalam perangkap.

Rekomendasi Bacaan Untuk mu : Menemukan Kenikmatan di dalam Pekerjaan

Seperti pitutur yang sering kita dapatkan dari para sesepuh mengenai bagaimana memandang kehidupan. Bahkan jangan salah sangka dulu, bahwa sesuatu yang menyenangkan datang dalam kehidupan kita itu serta merta sebagai suatu kebahagiaan. Jika terburu-buru seperti itu hingga kita hilang kendali, itu yang gawat. Kita akan hilang kewaspadaan, lupa diri dan terlena. Padahal kan memang seperti itu yang terjadi di dunia. Tempatnya tipu daya. Dualitas itu keniscayaan. Tatkala kita menyangka kebahagiaan sedang menghampiri kita, di sisi lain tetap kewaspadaan ditegakkan, jangan sampai keblinger. Jika menjumpai suatu kejelekan, kejahatan dan kegelapan, kita juga perlu melihat sisi yang lain, di balik kegelapan itu sebenarnya ada sumber cahaya yang sedang tertutup. Juga jangan serta-merta menghakimi kopi dingin. Karena sebelum ia dingin, ia adalah kopi panas yang kita abaikan. Kenapa kita dikasih dua mata. Agar kita melihat segala sesuatu tidak pada baiknya saja, atau buruknya saja. Namun harus dilihat, diamati dan dipertimbangkan kedua sisinya.

Penangkal Hoax

Pesan selanjutnya adalah lebih mendahulukan mendengar terlebih dahulu sebelum berkomentar. Kadang kala kekurang-tepatan kita mengambil waktu berkomentar, akan menimbulkan keruwetan masalah. Seperti cerita singkat di atas. Biarkan pramuniaga menjelaskan, kita fokus mendengarkan dan mengamati. Jika terburu-buru berkomentar malah akan menghilangkan fokus kita pada hal-hal yang justru lebih penting namun tidak dikatakan. Mendengarkan apa yang tidak dikatakan. Itu bisa kita lakukan jika kita menahan diri untuk tidak banyak bicara dan berkomentar. Fokuslah mendengar dulu, mengamati, jika dirasa sudah cukup mendapatkan data dan informasi, dan momennya sudah tepat, silahkan berbicara.

Baca Juga : Serat Dewa Ruci Sunan Kalijaga

Aturan yang sama berlaku dalam hal mengajar anak, mendidik anak, mengasuh anak. Benar apa yang dikatakan orang tua zaman dulu. Banyak bicara banyak salah. Semua kelemahan dan kekurangan kita akan terbongkar lebar-lebar jika kita banyak bicara. Dalam hal mengajar anak. Misalkan anak ingin menulis sesuatu, membuat karya atau apapun itu. Lalu kita sebagai orang tua kebanyakan bicara. Menanyai anak mengenai topik yang akan dibahas, lalu menyampaikan semua ide dan pemikiran kita kepadanya. Lalu kapan anak bisa punya waktu untuk diam sejenak, berfikir mendalam dan merancang konsepnya?. Hasilnya anak akan melongo, bingung hanya bisa memandang kita dengan penuh ketidak-pahaman.

kajian para pakar psikologi

Menurut kajian para pakar psikologi, bahwa banyak anak yang dibesarkan oleh orang tua yang banyak dan suka bicara, tidak menunjukkan kemampuan belajar berbicara lebih cepat, lebih lancar, bahkan sangat mungkin lebih lambat. Hal ini dikarenakan inovasi-inovasi yang kita paksakan mendahulu prakarsa anak, justru akan menghambat kemampuannya. Maka luluskan diri kita menjadi pendengar yang baik dulu, baru jadi pembicara. Urut-urutannya dalam segala lini kehidupan juga harus seperti itu. Mendengarkan dulu baru berbicara. Seperti halnya dalam ranah medis. Kita mendatangi dokter untuk memeriksakan keluhan atau penyakit yang ada di tubuh kita. Namun ternyata banyak pasien yang malah banyak bicara. Tidak tahu ilmu apa yang ia buat dasar untuk berbicara. Kalau seharusnya si pasien hanya duduk menunggu dan menjelaskan diagnosa dari dokter, ia malah bercerita dan curhat menjelaskan penyakitnya. Seakan-akan ia tahu apa saja penyakitnya sebelum ia mendatangi dokter. Lalu pertanyaannya, jika kita sudah tahu penyakit kita apa, kenapa kita ke dokter.

Semoga tidak banyak pasien yang seperti itu. Mereka secara tidak langsung mencampuri urusan dokter dalam mendiagnosa. Nanti lama-lama si dokter jengkel dan mengabaikan pengobatan kita, mendiagnosa ngawur dan ujungnya penyakit tambah parah. Lalu dokternya ngambek dan bilang ke pasien, “bukannya anda lebih ahli dari saya, maka obati saja sendiri”. Jadi sebagai manusia yang dikarunia daya fikir, kita harus terus belajar untuk menjadi pendengar dan pengamat terlebih dahulu, sebelum mulut tajam kita berbicara banyak dan berkomentar banyak sehingga menjadi penangkal Hoax yang terbaik. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish Shawwab.

Penangkal Hoax: Mendengarkan yang Tak Dikatakan