Pendidikan Berbanding Terbalik dengan Kreatifitas

Ayo Membaca1503 Dilihat

Pendidikan Berbanding Terbalik dengan Kreatifitas – Pendidikan merupakan anak pertama dari peradaban manusia. Ibarat dalam keluarga sebagai penerus kepala keluarga adalah anak pertama. Kelestarian kehidupan peradaban manusia di suatu bangsa maupun negara tergantung kualitas pendidikannya. Jika kita membahas sistem pendidikan di negara ini, tentunya butuh ruang diskusi yang sangat kompleks, panjang dan melelahkan. Namun dari sistem yang telah ada selama ini ada satu pernyataan yang semoga membuat kita para pendidik memiliki sudut pandang yang lebih humanis kepada para anak didik. Bahwa sistem pendidikan kita selama ini hanyalah untuk mempersiapkan tuntutan kebutuhan industri. Sehingga dikatakan pendidikan berbanding terbalik dengan kreatifitas siswa.

Adanya sistem persekolahan yang demikian menyebabkan bidang-bidang eksakta dan teknis menjadi perhatian utama sementara wilayah yang mencakup kemanusiaan (ilmu sastra, seni, ilmu sosial, etika dan sebagainya) cenderung termarginalkan. Ini juga berkembang dalam sudut pandang masyarakat khususnya para orang tua. Mereka lebih bangga jika anaknya diterima kuliah di jurusan tehnik, eksakta dan jurusan lain yang membuatnya berkesempatan lebih untuk memasuki dunia perindustrian. Padahal tidak sedikit juga yang sebenarnya minat dan bakatnya bukan ke arah itu.

Sistem pendidikan yang sudah kadung

Sistem pendidikan yang sudah kadung ibarat nasi sudah menjadi bubur ini, bukan berarti tidak ada harapan lagi untuk mendidik anak lebih humanis lagi. Sekarang bisa dicari survey-survey yang telah dilakukan dan hasilnya telah dikemas dalam bentuk jurnal ilmiah, artikel dan lain sebagainya. Bagaimana orang tua dan bahkan guru memacu anaknya agar bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri bergengsi serta kelak bisa dipekerjakan di ruang-ruang industri. Sehingga awal mula munculnya niat menyekolahkan anak adalah agar ijazahnya bisa dipakai untuk melamar pekerjaan. Bahkan dulu teman-teman saat akan memilih jurusan di perkuliahan pasti pertanyaan pertama yang muncul adalah, “prospeknya ke depan bagaimana ini?”. Jadi mereka terjun dalam dunia pendidikan karena ingin mendapatkan jaminan jikalau sudah lulus nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan.

Baca juga : Penangkal Hoax: Mendengarkan yang Tak Dikatakan

Hal ini yang membuat kreatifitas terkerangkeng dan terkurung, walaupun tidak semua anak merasakan itu. Banyak anak-anak yang memiliki ketertarikan dan kecenderungan di dunia seni dan musik, namun karena orang tua ingin anaknya kerja di tempat yang keren di perindustrian, pemerintahan dan kedokteran sehingga anak dipaksa untuk mengikuti keinginan orang tua. Sehingga tidak sedikit anak yang frustasi dan terpaksa mengubur dalam-dalam potensi dan minatnya di bidang yang ia senangi. Bahkan beberapa fenomena mahasiswa yang medot atau putus kuliah. Dan tidak jarang juga yang pekerjaannya setelah lulus kuliah tidak ada hubungannya sama sekali dengan jurusan saat kuliah. Anak lulusan fakultas kedokteran yang memilih mendirikan cafe, anak lulusan hukum yang memilih menjadi peternak burung, anak lulusan pertanian yang memilih terjun di dunia otomotif dan masih banyak yang lain.

Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah kegagalan sistem pendidikan di Indonesia. Namun setiap sistem pasti ada kelebihan dan kelemahannya.

Sistem Pendidikan di Sekolahan

Corak pendidikan dalam sistem persekolahan seperti ini lama-kelamaan menampakkan diri sebagai wajah pendidikan yang kering dari kreatifitas dan inovasi yang memperlihatkan gejala mayor hanya menghasilkan “generasi tukang”, bukan inovator atau kreator. Karena untuk menjadi kreatif dan inovatif dibutuhkan keberanian. Keberanian itu muncul dengan adanya apresiasi atas usaha anak didik dan bukan teguran, cercaan dan cacian jika salah melakukan sesuatu. Sebab, pendidikan kita selama ini membuat anak takut melakukan kesalahan. Sehingga ketakutan yang berlebihan itu membuat anak takut untuk mencoba.

Esensi pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar siap menghadapi masa depan yang tidak/belum mereka perhitungkan serta menumbuhkan kemampuan mereka untuk beradaptasi terhadap berbagai kemungkinan yang akan mereka temui dimasa mendatang. Sehingga mengasuhlah, mendidiklah, mengajarlah sewajarnya saja jangan sampai adanya “hyper-parenting” dan “hyper-teaching”. Karena apapun itu jika hyper sangat tidak baik untuk pengelolaan segala bidang kehidupan. Yang bisa kita lakukan sebagai orang tua dan guru adalah menyediakan, memfasilitasi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi segala potensi, minat, bakat, kesukaan, kegemaran, hobi, rasa ingin tahu dengan kita tetap memberikan arahan.

Baca Juga : Untuk Apa Sekolah Tinggi Jika Ujungnya Jadi Ibu Rumah Tangga?

Mari kita amati kenapa masih banyak anak yang merasa belum difasilitasi ruang geraknya untuk dia mengeksplorasi diri. Ternyata selama ini di masyarakat dan dunia pendidikan kita masih menerapkan satu tolok ukur kecerdasan yang dipaksa untuk diseragamkan. Anak dianggap pinter dan berhasil ketika nilai akademiknya bagus. Sementara yang lain yang belum bisa mendapatkan ketuntasan dianggap gagal. Stereotip ini yang bahaya. Apakah perlu ditawarkan gagasan bahwa siswa perlu diklarifikasi saat benar atau salah menjawab sebuah ujian?. Mungkin ada satu kondisi yang membuat kita memakluminya. Atau satu alasan yang membuat kita mengapresiasinya dalam bidang kecerdasan yang lain.

Orientasi Sebuah Sekolah

Perlu kiranya kita menengok orientasi didirikannya sebuah sekolah atau lembaga pendidikan. Ini penting, karena pada tataran praktis hampir setiap orang setuju dengan kredo, “sekolahlah biar pinter”. Tentu bukan “pinter”nya yang menjadi masalah, namun tentang bagaimana kita membuat rumusan dan ukuran tentang yang disebut pinter tersebut. Sehingga semua sepakat jika ada anak kita yang tidak memenuhi bidang kecerdasan tertentu, dia pasti mempunyai kecerdasan di bidang yang lain. Karena setiap anak adalah istimewa.

Maka kembali kepada konsep pendidikan kuno dalam pesantren-pesantren zaman dahulu saya rasa bukan ide buruk. Sekarang banyak lembaga-lembaga pendidikan yang mengembalikan istilah dari siswa ke murid. Murid berasal dari bahasa Arab yang bermakna pribadi yang memiliki kehendak. Artinya tugas kita sebagai guru dan orang tua adalah menemani anak kita untuk meneliti kehidupannya, menemukan potensinya serta belajar mengembangkan bakatnya. Jadi harapannya jangan hanya mengganti sebutan saja, namun juga mengganti cara pandang kita kepada anak-anak didik kita. Hargai mereka sebagai pribadi ciptaan Tuhan yang juga berhak atas kehendak-kehendak pribadinya atas hidupnya.

Kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya atau pasrah bongkokan atas masa depan anak kita kepada sekolah. Jadi harus ada kerja-sama antara lembaga pendidikan dan orang tua. Bagaimanapun juga waktu anak paling banyak ada pada orang tua. Karena anak-anak kita memiliki kecerdasan yang kompleks maka perlu untuk selalu dilatih dan didorong dalam menemukan sisi-sisi kecerdasan yang belum ditemukan. Dan jika telah ditemukan terus didampingi dan diarahkan agar terus mengembangkannya serta memanfaatkannya untuk kepentingan bersama. Sehingga orientasi kecerdasannya bukan untuk kepentingan diri sendiri namun untuk kepentingan bersama. Jadi dalam setiap pengembangan potensi anak harus diiringi di dalamnya nilai-nilai kepedulian terhadap sesama.

Orientasi Pada Nilai KeTuhanan

Pada akhirnya harapan kita bersama, anak-anak kita tidak tumbuh menjadi pribadi yang pragmatis, hedonis dan apatis. Karena kebanyakan manusia hidup di dunia ini kan untuk berlomba-lomba mengejar, mendapatkan dan memiliki sesuatu yang nantinya akan mereka tinggalkan. Mereka mengejar tahta, ketika telah didapatkan juga suatu saat pasti ditinggalkan tahta itu untuk menghadap Tuhannya. Sehingga penanaman nilai-nilai ke-Tuhanan harus tetap ditanamkan. Sehingga ketika anak ditanya tentang cita-cita, lalu menjawab ingin menjadi dokter, maka tidak hanya berhenti pada dokternya itu saja. Namun ada orientasi lain yang dicari yaitu membantu orang-orang yang miskin atau kurang mampu agar tetap mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sekali lagi mari kita rubah cara pandang kita terhadap anak-anak didik kita. Kita pandang mereka sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai kehendak dan mempunyai proses untuk menempa dirinya, untuk meneliti dirinya untuk berdiskusi dengan dirinya, untuk menemukan potensinya dan hakikat dirinya. Tugas kita menemani dengan setia, mendampingi serta mengarahkan dengan segenap keihklasan hati serta selalu melibatkan Tuhan dalam setiap proses pendidikan, pengasuhan kita kepada anak-anak kita. Semoga bermanfaat.

Pendidikan Berbanding Terbalik dengan Kreatifitas Oleh : Agus Novel Mukholis