Perundungan Bisa Terjadi pada Pria, Kenali Toxic Masculinity Sekarang Juga!

Ayo Membaca1213 Dilihat

Beberapa orang mungkin pernah berpikir kalau perundungan itu kerap terjadi pada perempuan, padahal sebenarnya laki-laki dan pria juga pernah mengalami perundungan. Kerap sekali para pria ini dirundung karna toxic masculinity. Sebenarnya apa sih toxic masculinity itu?

Kalau sebelumnya, mimin pernah bahas mengenai toxic relationship, sekarang mimin akan menjelaskan apa itu toxic masculinity dan dampaknya bagi sekitar. Seperti namanya, toxic masculinity kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, artinya maskulinitas beracun. Hal-hal yang berhubungan sama racun benar-benar harus kita hindari atau kita akan memperparah keadaan kalau racun itu mengenai kita bahkan sampai menyebar ke sekitar kita.

Sejak kecil, kalau kita dilahirkan menjadi seorang anak laki-laki pasti kita diajarkan oleh orang tua kita untuk menjadi pria dan laki-laki yang tangguh. Bahkan kita juga dialarang untuk cengeng dan menangisi yang tidak perlu. Gampangnya, toxic masculinity itu adalah prinsip dimana laki-laki itu harus terlihat kuat, tangguh, nggak gampang letoy, cengeng, dan lain-lain yang punya kaitannya dengan feminim. Karna hal-hal yang feminim seperti membaca buku, memasak, berkebun, itu adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang wanita.

Orang dengan toxic masculinity berlebihan, cenderung akan memandang perempuan adalah sosok yang lemah, mudah dikerasi dan seorang laki-laki jika tidak melakukan kekerasan maka dia bukanlah laki-laki. Mereka juga cenderung melakukan kekerasan, perundungan, pelecehan seksual lawan jenis, dan kekerasan lainnya. Ketika mereka melihat seorang laki-laki terlalu emosional terhadap sesuatu, mereka akan memaksa laki-laki itu untuk tidak terlalu emosional dan memaksanya untuk menjadi tangguh layaknya laki-laki pada umumnya.

Contoh Toxic Masculinity

Biar lebih gampang, ini dia beberapa contoh dari toxic masculinity yang mungkin pernah dilakukan oleh orang-orang terdekat kalian dan tugas kalian adalah menyadarkannya. Dan contoh-contoh ini sering kali disematkan atau dikhususkan untuk anak laki-laki.

  1. Tidak boleh menangis atau merasa emosional
  2. Merasa lebih berkuasa daripada perempuan sehingga menganggap enteng perempuan dan menganggap mereka lemah
  3. Melakukan kekerasan dan agresivitas seksual terhadap pasangan dan orang lain.
  4. Menganggap kalau laki-laki itu harus kuat dan tangguh, tidak boleh lembek
  5. Mengagungkan tindakan beresiko, karna hal itu dapat membuat mereka seperti lebih berkuasa, contohnya minum alkohol dan mengonsumsi obat-obatan terlarang
  6. Tidak mau melakukan aktivitas yang dianggap feminim seperti membaca buku, berkebun, memasak, mengurusi anak, menyapu rumah, dan lain sebagainya.

Dan banyak lagi contoh yang lainnya. Contoh yang keenam itu bener-bener sangat membuat mimin kesal. Apakah ia kurang memandang indahnya dunia? Apakah ia kurang berpendidikan sampai hal-hal seperti itu hanya boleh dan bisa dilakukan oleh seorang perempuan, dan jika dilakukan oleh seorang laki-laki maka laki-laki itu akan dianggap feminim?

Baca Juga : Kenapa Banyak Pengguna Twitter Mengeluh? Ini Dia Jawabannya

Dampak Buruk Toxic Masculinity

Toxic masculinity dapat berbahaya bagi laki-laki karna laki-laki seperti dibatasi dan dibatasi bahkan dipaksa untuk menjadi laki-laki seperti yang mereka mau. Padahal semua manusia yang hidup di dunia, berjenis kelamin apapun punya jalan hidup masing-masing.

Toxic masculinity juga bisa menimbulkan kekerasan, seperti perundungan dan bisa menyebabkan trauma berat pada korban. Contohnya saja, seorang laki-laki sedang bersedih karna suatu hal. Tapi karna orang yang punya toxic masculinity memaksanya untuk tidak terlalu emosional, akhirnya ia hanya bisa memendam perasaan itu di dalam hatinya terus menerus dan menimbulkan efek depresi ke orang tersebut.

Tidak hanya pada laki-laki, toxic masculinity juga dapat berbahaya bagi masyarakat terutama kaum wanita. Karna mereka yang cenderung memandang wanita sebagai makhluk yang lemah, mereka bisa saja melakukan kekerasan kepada perempuan seperti pelecehan seksual.

Untuk yang memandang wanita adalah makhluk yang lemah, emang kalian lahir dari siapa? Laki-laki? Orang anak laki-laki nggak bisa nahan sakitnya waktu melahirkan seorang anak, malah ngomong seenak jidat.

Gimana Cara Mencegahnya

Ada beberapa cara yang mungkin bisa mengatasi, mengurangi, atau bahkan mencegah toxic masculinity agar tidak menyebar dan membahayakan sekitar.

  1. Peran orang tua cukup penting untuk mendidik anak dengan baik. Jika mereka memang mau mengeluarkan perasaan emosional mereka, suruh mereka untuk mengeluarkannya jangan dipendam apalagi bagi anak laki-laki yang takut dianggap cengeng.
  2. Hindari ujaran yang merendahkan perempuan. Contohnya : “Jalanmu kenapa kayak perempuan, sih?”, “Perilakumu kenapa kayak perempuan, sih, alay banget.”
  3. Sampaikan dan berikan edukasi kalau laki-laki juga boleh mengeluarkan perasaan emosional mereka, mereka boleh menangis, mereka boleh bersedih. Emangnya siapa, mereka ngatur-ngatur hidup orang.
  4. Berhati-hati dalam melihat media atau memberikan media kepada anak. Karna jika media tersebut terdapat unsur toxic masculinity, mereka akan mengikutinya.
  5. Ajarkan kepada anak, kalau tubuh seseorang itu punya mereka sendiri, jadi kita tidak punya hak untuk menyentuh, memegang tanpa seizin mereka

Mungkin orang-orang tidak sadar kalau toxic masculinity sudah banyak terjadi dan kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus segera bertindak agar anak cucu kita nanti tidak mengalami hal yang sama.

Baca Juga : Toxic Masculinity dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental Laki-laki