Princess Syndrome : Gue Sempurna, Gue Punya Kuasa

funfact1006 Dilihat

Sewaktu kecil, menjadi seorang putri seperti di negeri dongeng sudah menjadi impian bagi semua orang. Punya asisten yang selalu membantu kita, pengawal yang selalu mendampingi kita, dimana-mana disambut dengan red carpet, siapa yang tidak mau hal tersebut terjadi sekali dalam seumur hidup.

Namun nyatanya, impian menjadi seorang putri itu, punya beberapa dampak buruk untuk kesehatan mental, jika terus menerus terjadi ketika kita sudah mulai beranjak dewasa. Ada sebuah julukan untuk orang-orang yang merasa dirinya adalah seorang putri di dunia nyata, padahal dia sudah bukan anak-anak lagi. Namanya, princess syndrome.

Baca Juga : Perundungan Bisa Terjadi pada Pria, Kenali Toxic Masculinity Sekarang Juga!

Pengertian Princess Syndrome

Princess syndrome sebenarnya bukan pernyataan medis yang resmi, namun kerap sekali terjadi pada kaum hawa di usia yang mau beranjak dewasa.

Princess syndrome sendiri adalah sebuah kecenderungan perilaku ketika seorang wanita menjalani kehidupannya bagaikan di negeri dongeng. Mereka cenderung membangga-banggakan hal yang megah, suka bergantung pada orang lain layaknya putri dengan pengawalnya, bahkan bisa saja mereka terobsesi dengan penampilannya yang harus mewah dan menarik perhatian semua orang.

Memang, ketika masih anak-anak, princess syndrome tidak terlalu dianggap serius oleh kebanyakan orang. Tapi jika terus menerus dialami oleh perempuan yang mulai beranjak dewasa, itu bisa menjadi masalah yang cukup serius ketika mereka bertambah dewasa.

Seorang psikolog remaja dan anak di New York, Jennifer L. Hartstein, Psy.D., mengatakan kalau princess syndrome bisa dipengaruhi oleh cara didik orang tua ketika masih kecil yang mengatakan kalau hidup seperti seorang putri adalah cara terbaik dan satu-satunya cara untuk menjadi feminim.

Beberapa Dampak Buruk

Hal ini bukan hanya berdampak kepada kesehatan mental anak tersebut saja, melainkan bisa berdampak kepada kemandirian anak itu, persahabatan yang kurang dan motivasi diri yang sering gagal. Coba bayangkan jika anak kerap sekali dimanja layaknya mereka adalah seorang putri dan itu terjadi terus menerus sampai mereka dewasa, ketika mereka ditinggal oleh orang-orang terdekat mereka dan dituntut untuk berlatih hidup mandiri, mereka akan mengeluh karna hal tersebut akan sangat susah menurut mereka.

Baca Juga : Seperti Apakah Ciri Seseorang yang Mengidap ‘Princess Syndrome’?

Selain itu, perempuan dengan princess syndrome akan memiliki harga diri yang bergantung dengan penampilan mereka sehari-hari. Jika pada hari itu mereka terlihat kurang enak dipandang menurut mereka, mereka akan mencari solusi dengan cara apa pun agar penampilan mereka di hari itu bisa menjadi penanda bahwa harga dirinya bisa setara dengan seorang putri yang pantas dihargai oleh banyak orang. Mereka juga tidak jarang suka meremehkan atau bahkan merendahkan orang yang di bawah mereka, menganggap kalau ia bebas menolak berteman atau berdekatan dengan siapa pun yang anggapannya tidak selevel dengannya.

Karna merasa cantik dan harus dihargai banyak orang, penderita masalah perilaku ini menganggap kalau semuanya bisa ia dapatkan walaupun tidak dengan usahanya sendiri alias bisa menyuruh orang lain menyelesaikan untuknya.

Bagaimana Ciri-ciri Princess Syndrome?

  1. Kebiasaan tantrum (ledakan emosi)
  2. Suka menunda-nunda hal yang seharusnya dikerjakan
  3. Sering cemberut mengubah-ubah mood
  4. Suka menipu atau bahkan memanipulasi orang lain untuk melakukan pekerjaannya, bahkan pekerjaan berat sekalipun
  5. Mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan saat ia bertemu dengan orang itu, ia akan selalu menyalahkan orang tersebut
  6. Merasa kalau dirinya harus dihargai
  7. Menindas orang lain yang berada di bawahnya secara verbal
  8. Suka cari perhatian
  9. Menunjukkan kebutuhan yang tiada hentinya, seperti pujian, penampilan, pakaian, atau bahkan fisiknya

Cara Mencegah Princess Syndrome

Jennifer L. Hartstein, mengatakan kalau pencegahan perilaku princess syndrome dapat dilakukan ketika anak masih kecil. Bukan dengan menghindari paparan sosial media, melainkan dengan mengajari anak bagaimana mengatasi tekanan, dan mengembangkan harga dirinya yang positif, citra tubuh yang realistis, serta kemandirian dan tidak bergantung pada orang lain.