Hai sahabat geovolcan dalam perencanaan pembangunan ada beberapa dasar teori yang digunakan sebagai acuan, berikut beberapa teori pertumbuhan wilayah.

1.Teori Resource Endowment

Teori Resource Endowment dari suatu wilayah menyatakan bahwa perkembangan ekonomi wilayah dalam pembangunan bergantung pada sumber daya alam yang di miliki dan permintaan terhadap komoditas yang dihasilkan dari sumber daya itu.

Dalam jangka pendek sumber daya yang dimiliki suatu wilayah merupakan suatu aset untuk memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan.

Nilai dari suatu sumber daya merupakan nilai dan permintaan terhadapnya merupakan permintaan turunan.

Suatu sumber daya menjadi berharga jika dapat dimanfaatkan dalam bentuk-bentuk produksi.

Pertumbuhan wilayah jangka panjang bergantung pada kegiatan industri ekspornya. Kekuatan utama dalam pertumbuhan wilayah adalah pemintaan ekternal akan barang dan jasa yang dihasilkan dan dieksport oleh wilayah itu.

Permintaan eksternal ini mempengaruhi penggunaan modal tenaga kerja, dan teknologi untuk menghasilkan komoditi ekspor. Suatu wilayah memiliki sektor ekspor karena sektor itu menghasilkan keuntungan dalam memproduksi barang dan jasa, mempunyai sumber daya yang unik, dan mempunyai beberapa tipe keuntungan tranportasi.

Dalam perkembangannya perekonomian wilayah cenderung membentuk kegiatan pendukung yang dapat menguatkan posisi yang menguntungkan dalam sektor ekspor di wilayah itu.

Penekanan teori ini ialah pentingnya keterbukaan wilayah yang dapat meningkatkan aliran modal dan teknologi yang dibutuhkan untuk pembangunan wilayah.

Tokoh-tokoh dari teori Resource Endowment diantaranya:

  • Etzioni
  • Esman
  • Uphoff

2.Teori Export Base

Teori ini menjelaskan bahwa pertumbuhan jangka panjang wilayah bergantung pada kegiatan industry ekspornya. Kekuatan utama dalam pertumbuhan wilayah adalah adalah permintaan eksternal akan barang dan jasa, yang dihasilkan dan di eksport oleh wilayah itu.

Permintaan eksternal ini mempengaruhu penggunaan modal, tenaga kerja, dan teknologi untuk menghasilkan komoditas eksport.

Dengan kata lain, permintaan komoditas ekspor akan membentuk keterkaitan ekonomi, baik kebelakang (sector produksi) maupun kedepan (sector pelayanan).

Teori pertumbuhan wilayah Neo-klasik yaitu W. A. Lewis memperkenalkan sebuah teori tentang pembangunan ekonomi pada konteks jumlah labour yang tidak terbatas.

Lewis beragumentasi bahwa baik teori Keynes ataupun teori Neo-klasik tentang pertumbuhan ekonomi yang ada pada saat itu tidak dapat diterapkan pada Negara-negara dengan surplus buruh yang tidak terbatas.

Basis model Lewis adalah bahwa ekonomi nasional Negara-negara yang terbelakang dapat dibagi menjadi dua sektor, yaitu tradisional (agriculture) dan modern (industrial) sektor.

Dalam perkembangannya perekonomian wilayah cenderung membentuk kegiatan penduduk yang dapat menguatkan posisi yang menguntungkan dalam sector eksport di wilauah tersebut.

Penekanan teori ini adalah pentingnya keterbukaan wilayah yang dapat meningkatkan aliran modal dan teknologi yang dibutuhkan untuk kelanjutan pembangunan wilayah.

Teori export-base mengandung daya tarik intuitif dan kesederhanaan, seperti halnya dianggap sebagai dasar teori, berdasarkan konsep beberapa sektor ekonomi local mengantarkan kekuatan ekonomi eksternal ke dalam wilayah untuk menstimulasikan perubahan secara tepat perubahan pendapatan wilayah bergantung pada perubahan permintaan eksport.

Eksport meningkat jika permintaan bergeser ke kanan atau terjadi peningkatan posisi menguntungkan dalam wilayah, sedangkan eksport menurun pada saat permintaan bergeser ke kiri atau kehilangan posisi menguntungkan.

Sektor ekspor baru dalam suatu wilayah akan muncul jika terjadi perubahan selera, kesenangan, dan teknologi.
Sasaran teori export base sebagai teori umum pembangunan wilayah :

  • Diperuntukkan bagi wilayah-wilayah yang kecil dengan ekonomi sederhana dan untuk penelitian jangka pendek tentang pengembangan ekonomi wilayah.
  • Teori ini gagal menjelaskan bagaimana pengembangan wilayah dapat terjadi walaupun terjadi penurunan ekspor, sedangkan dilain pihak sector non-ekspor lainnya dapat tumbuh mengimbangi penurunan itu.

Salah satu Tokoh pencetus teori export base yaitu: Douglas C. North

3.Teori Pertumbuhan Wilayah Neo Klasik

Teori Neo-Klasik menganut faham bahwa perkembangan wilayah selalu berada dalam keseimbangan yang dinamis (equilibirium).

Teori ini menjelaskan saling keterhubungan antara komponen-komponen pertumbuhan ekonomi, seperti modal, tabungan, buruh, teknologi dan pertumbuhan penduduk.

Menurut teori ini, mekansme pasar bekerja untuk mengoreksi ketidakseimbangan (disequilibrium) dalam perkembangan ekonomi.

Dengan perkataan lain, dari pandangan Neo-Klasik, development adalah proses yang bersifat kumulatif dan diatur oleh mekanisme penyeimbangan (equilibrating mechanism).

Proses perkembangan ekonomi bersifat unlinear, dalam arti kata padanan tahap-tahap perkembangan yang bersifat defenitif, dimana seluruh bangsa-bangsa akan mengalaminya.

Arthur lewis memandang bahwa alran capital cenderung bergerak dari wilayah yang tingkat upah buruhnya rendah, sedangkantenaga buruh mengalir dengan arah sebaliknya, sampai terjadi keseimbangan baru lagi. Diasumsikan equilibrium terjadi dalam keadaan pasar yang sempurna.

Tokoh-tokoh pencetusteori Neo-Klasik Yaitu Robert M. Solow, T. W. Swan

4.Teori Ketidakseimbangan Pertumbuhan Wilayah

Perkembangan wilayah juga diperkaya oleh kontribusi beberapa ahli ekonomi yang percaya bahwa wilayah hanya bisa berkembang jika didukung oleh pertumbuhan yang ridak seimbang.

Para tokoh yang berperan dalam pengembangan teori ini berpendapat bahwa dalam strategi pembangunan, invesasi harus dipusatkan pada beberapa sector saja dibanding didistribusikan pada banyak sektor.

Teori ketidakseimbangan pertumbuhan wilayah yaitu (unbalanced growth : Hirschman, 1958 : Mydal, 1957). Hirschman beragumentasi bahwa dalam strategi pembangunan, investasi harus dipusatkan pada beberapa sektor saja ketimbang didistribusikan pada banyak sektor.

Pertumbuhan akan dijalankan dari sektor-sektor utama (leading sectors) ke sektor-sektor lainnya, dan dari suatu industri ke industri lainnya.

Mydal secara spesifik mengatakan bahwa keterbelakangan Negara-negara yang sedang berkembang dapat dijelaskan dengan model “circular causation with cumulative effects” ketimbang oleh model-model static equilibrium.

Selanjutkan ia mengenalkan konsep “backwash” dan spread” effects yang serupa dengan tricling down dan polarization effectsnya Hirschman.

Selanjutnya oleh tokoh lain juga dijelaskan bahwa dalam pengembangan industry, pertumbuhan tidak akan terjadi disemua tempat dalam seketika.

Pertumbuhan mulai muncul pada titik atau kutub pertumbuhan denagn intensitas yang berbeda, dan menyebar melalui saluran-saluran yang luas dan mempunyai pengaruh yang berbeda-bedapada keseluruhan aspek ekonomi.

Ketimpangan pendapatan wilayah makin meningkat sampai sutau titik dimana ketimpangan ini mulai menurun kembali. Disimpulkan juga bahwa ketimpangan pendapatan wilayah (regional income sidporities) merupakan suatu tahap dan keadaan yang tidak dapat dihindari dalam proses national development.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam teori ketidakseimbangan wilayah :

  • Hirschman
  • Myrdal
  • Francois Perroux
  • Williamson
  • Alonso
  • Kaldor
  • Dixon dan Thirwall

5.Teori Baru Pertumbuhan Wilayah

Teori baru pertumbuhan wilayah yaitu teori ini menyatakan bahwa pembangunan merupakan cara yang paling dikenal dan paling berkuasa. Yang merupakan unsur utama dalam teori ini adalah pertumbuhan yang dihubungkan dengan cita-cita kemajuan, yaitu bergeraknya peradaban kearah yang diharapkan, yaitu dari peradaban pertanian ke peradaban industri.

Baca Juga : Materi Geografi dan Tata Ruang