Definisi Wilayah dan Perwilayahan

Wilayah (region) adalah suatu areal yang memiliki karakteristik tertentu berbeda dengan wilayah yang lain. Wilayah dapat dibagi dua yaitu:

  1. Wilayah Formal : suatu wilayah yang memiliki keseragaman atau kesamaan dalam kriteria tertentu, baik fisik maupun sosialnya. Contoh: Wilayah pegunungan, pesisir, dll.
  2. Wilayah Fungsional : wilayah yang dalam banyak hal diatur oleh beberapa pusat kegiatan yang saling berkaitan dan ditandai dengan adanya hubungan atau interaksi dengan wilayah di sekitarnya.
    Perwilayahan adalah membagi wilayah-wilayah tertentu di permukaan bumi untuk keadaan tujuan tertentu. Contoh wilayah iklim tropis, wilayah iklim subtropis, dll.

Kutub Pertumbuhan

Teori kutub pertumbuhan merupakan teori yang dikemukakan pertama kali oleh seorang ahli ekonomi asal Prancis yang bernama Perroux. Di dalam teori ini beliau menegaskan bahwa

  1. Pembangunan suatu wilayah merupakan proses yang tidak terjadi secara bersamaan, tetapi terjadi di beberapa tempat tertentu
  2. Kecepatan dan intensitas yang berbeda satu dengan lainnya. Kutub pertumbuhan merupakan tempat atau kawasan yang terjadi pembangunan.
  3. Proses pembangunan akan menyebar menuju wilayah-wilayah sekitarnya dari kutub pertumbuhan. Kutub pertumbuhan bukanlah kota atau wilayah, melainkan suatu kegiatan ekonomi yang dinamis. Hubungan kekuatan ekonomi yang dinamis tercipta di dalam dan di antara sektor-sektor ekonomi.

Pusat Pertumbuhan

Pusat pertumbuhan adalah wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat sehingga dijadikan sebagai pusat pembangunan yang memengaruhi tawaran-tawaran lain disekitarnya, dengan adanya kawasan pusat pertumbuhan diharapkan kawasan disekitarnya turut terpengaruh. Syarat pusat pertumbuhan antara lain:

  1. Adanya sekelompok kegiatan ekonomi yang terkonsentrasi pada suatu lokasi atau kawasan tertentu
  2. Konsentrasi ekonomi tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang dinamis dalam perekonomian
  3. Terdapat keterkaitan input dan output yang kuat antar sesama kegiatan ekonomi pada pusat tersebut
  4. Dalam kelompok ekonomi kegiatan tersebut terdapat sebuah industri induk yang mendorong pengembangan kegiatan ekonomi tersebut.
    Gejala-gejala yang terjadi di pusat pertumbuhan
  5. Spread effect adalah pada umumnya spread effect yang terjadi adalah jauh lebih lemah dari backwash effectnya sehingga secara keseluruhan pembangunan daerah yang lebih kaya akan memperlambat jalannya pembangunan di daerah miskin. Contohnya makin berkurangnya kualitas pertanian masyarakat miskin akibat dampak negative dari polusi yang terjadi.
  6. Backwash effect adalah kurang maju dan kurang mempunyai daerah-daerah miskin untuk membangun daerahnya dengan cepat. Contohnya adalah makin bertambahnya permintaan masyarakat suatu wilayah kaya atas hasil-hasil dari masyarakat miskin berupa bahan makanan pokok seperti beras yang sumbernya dari pertanian masyarakat wilayah miskin.

Struktur Tata Ruang Kota

  1. Teori Konsentris (EW Burgess)
Sumber: www.dokumen.tips.com
  1. Teori Sektoral (Hummer-Hoyt)
Sumber: www.dokumen.tips.com
  1. Teori Inti Ganda (Harris-Ulman)
Sumber: www.dokumen.tips.com

Zona Interaksi Desa – Kota

  1. Inti kota (city) ->> terletak di pusat atau tengah-tengah.
  2. zona suburban (faubourgh) ->> daerah yang berlokasi di dekat pusat atau inti kota dan merupakan daerah penglaju atau subdaerah perkotaan (commuters).
  3. Zona urban fringe ->> daerah batas luar kota yang mempunyai sifat-sifat mirip kota, kecuali inti kota. Zona ini merupakan jalur tepi daerah perkotaan paling luar.
  4. Zona rural-urban fringe ->> zona antara daerah kota dan desa yang ditandai dengan penggunaan lahan campuran. Zona ini merupakan jalur batas desa-kota.

Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau Central Business Districts (CBD) biasanya dikelilingi zonazona sebagai berikut.

1. Lokasi Pertokoan dan Perdagangan

2. Lokasi Pabrik
Lokasi pabrik dapat dijumpai pada tiga zona sebagai berikut.
a. Zona pinggiran kota (periphery).
b. Zona di dekat daerah perdagangan (trade districts).
c. Zona di sepanjang jalur lalu lintas angkutan berat (heavy freight traffic).

3. Lokasi Permukiman

Sumber: www.asamgaram.site

Faktor yang Memengaruhi Interaksi Wilayah Desa dan Kota

  1. Adanya Komplementaritas (saling melengkapi)
    Karena adanya perbedaan wilayah dalam hal ketersediaan dan kemampuan sumber daya, maka untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dihasilkan sendiri, wilayah lain menjual dan mengirimkan surplus produksinya ke wilayah yang kekurangan dan memiliki permintaan.
  2. Adanya Transferabilitas
    Dalam interaksi ini ada persaingan antara 2 wilayah yang dapat memenuhi permintaan wilayah yang membutuhkan. Faktor penentu dalam interaksi ini adalah bagaimana cara mereka memindahkan sumber daya tersebut secara cepat
  3. Adanya Intervening Opportunity
    Kemudahan transfer antar ruang adalah kemampuan suatu wilayah dalam mencapai wilayah lainnya dalam perpindahan ruang, baik manusia, informasi, atau barang. Jarak, biaya, dan kelancaran transportasi yang tersedia juga menjadi faktor penentu.

Menghitung Kekuatan Interaksi Antar Dua Wilayah

Rumus Interaksi

Hukum Gravitasi

Teori Titik Henti

Indek Konektivitas

POLA KERUANGAN DAN INTERAKSI DESA – KOTA.

Desa

a. Ciri-ciri desa, antara lain:

  • Masyarakat sangat erat dengan alam.
  • Kehidupan warga petani sangat bergantung pada musim.
  • Merupakan satu kesatuan sosial dan kesatuan kerja.
  • Jumlah penduduk dan luas wilayah relatif kecil
  • Struktur ekonomi bersifat agraris
  • Masyarakatnya bersifat gemeinschaft
  • Proses sosial relatif lambat
  • Sosial kontrol ditentukan oleh hukum informal

b. Unsur-unsur desa, antara lain:

  • Daerah
  • Tata kehidupan
  • Penduduk

c. Potensi Desa

  • Potensi fisik: tanah, air, iklim, ternak, manusia
  • Potensi Non Fisik:
    • Masyarakat desa yang gotong royong
    • Lembaga-lembaga social
    • Aparatur atau pamong desa yang tertib

d. Struktur keruangan desa / pola desa

  • Dilihat dari tingkat penyebaran penduduknya (SD Misra)
    • Compact Settlements (pemukiman yang mengelompok) karena: Tanah yang subur, Relief rata, Keamanan belum dapat dipastikan dan Permukaan air tanah dalam.
    • Fragmented Settlements (pemukiman yang tersebar) karena: Daerah banjir, Topografi kasar, Keamanan terjamin dan Permukaan air tanah dangkal.
  • Dilihat dari bentuknya (menurut Daldjoeni)
    • Pola desa linier atau memanjang jalan / sungai
    • Pola desa mengikuti garis pantai
    • Pola desa terpusat
    • Pola desa mengelilingi fasilitas

e. Tahapan desa

Desa Tradisional

  • Desa tradisional adalah desa yang masyarakatnya masih bergantung sepenuhnya pada kekayaan alam untuk bertahan hidup. Tingkat perkembangan masyarakat masih rendah karena tidak adanya pengaruh atau komunikasi dari luar wilayah desa. Contoh Kampung Naga Suku Badui dan Suku Anak Dalam Riau. Ciri-ciri desa yang diklasifikasikan desa tradisional antara lain :
    • Ditinggali oleh sebuah suku
    • Adat tradisi leluhur masih terus dipegang
    • Letak desa terpencil dan terisolir
    • Masyarakat masih bergantung pada alam untuk bertahan hidup
    • Penduduknya cenderung tertutup dari daerah lain
    • Hubungan antar personal sangat erat

Desa Swadaya

  • Masyarakat desa swadaya sudah lebih berkembang jika dibandingkan dengan desa tradisional. Kebutuhan sehari-hari sudah mampu dipenuhi sendiri dengan memanfaatkan alam. Meskipun perkembangan masyarakatnya masih cukup rendah karena kurangnya komunikasi dengan daerah lain. Ciri-ciri desa swadaya adalah sebagai berikut :
    • Penduduknya jarang
    • Mata pencaharian homogen yang bersifat agraris
    • Masih ada campur tangan adat
    • Kegiatan ekonomi hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri
    • Lokasi masih cukup terpencil dan sulit diakses
    • Sarana dan prasarana masih sangat kurang

Desa Swakarya

  • Mata pencaharian penduduknya mulai beragam
  • Adat istiadat sudah mengalami transisi sesuai dengan perkembangan masyarakat
  • Pemerintahan desa mulai berkembang
  • Adanya infrastruktur desa yang memadai
  • Kualitas hidup masyarakat meningkat
  • Akses ke luar daerah yang mudah
  • Teknologi mulai digunakan meskipun masih rendah

Desa Swasembada

  • Kualitas dan taraf hidup sangat meningkat
  • Mata pencaharian masyarakat beraneka ragam
  • Biasanya terletak disekitar pusat kota
  • Teknologi dan alat modern sudah banyak digunakan
  • Sarana dan prasarana penunjang sudah tersedia
  • Tingkat pendidikan, kesehatan, dan keterampilan tinggi
  • Transportasi antar wilayah sangat mudah diakses
  • Hubungan dengan wilayah lain sudah terjalin dengan baik

KOTA

a. Ciri fisik ditandai adanya

  • Tempat-tempat untuk pasar
  • Tempat-tempat untuk parker
  • Tempat-tempat rekreasi dan olahraga


b. Ciri sosial

  • Pembagian kerja tegas
  • Masyarakatnya heterogen
  • Individualisme
  • Materialisme dan konsumerisme
  • Adanya toleransi social
  • Kontrol social
  • Segregasi keruangan

c. Potensi kota

  • Potensi social
  • Potensi fisik
  • Potensi ekonomi
  • Potensi politik
  • Potensi budaya

d. Pola keruangan kota

Ada tiga teori pola keruangan kota:
• Teori konsentris oleh Ernest W. Burgess
• Teori sektoral oleh Homer Hoyt
• Teori Inti Ganda oleh Harris Ullman

e. Klasifikasi kota

  • Berdasarkan fungsinya
    • Kota sebagai pusat industry
    • Kota sebagai pusat perdagangan
    • Kota sebagai pusat pemerintahan
    • Kota sebagai pusat kebudayaan
    • Kota sebagai pusat pendidikan
    • Kota sebagai pusat kesehatan
  • Berdasarkan jumlah penduduk
    • Kota kecil penduduknya 20000-50000 jiwa
    • Kota sedang penduduknya 50000-100000 jiwa
    • Kota besar penduduknya 100000-1000000 jiwa
    • Metropolitan penduduknya 1000000-5000000 jiwa
    • Megapolitan penduduknya > 5000000 jiwa

f. Tahap perkembangan kota

• Menurut Lewis Mumford, tingkat perkembangan kota ada 6 tahap:

  • Tahap eopolis: Tahapan perkembangan desa yang sudah teratur menuju arah kehidupan kota.
  • Tahap polis: Suatu kota yang sebagian penduduknya masih agraris
  • Tahap metropolis: Kota yang kehidupannya sudah mengarah industry.
  • Tahap megapolis: Wilayah perkotaan yang terdiri dari beberapa dari beberapa kota metropolis.
  • Tahap tryanopolis: Suatu kota yang ditandai dengan adanya kekacauan, kemacetan lalu lintas, tingkat kriminalitas.
  • Tahap nekropolis: Suatu kota yang mulai ditinggalkan penduduknya / kota mati

• Menurut teknologi dan peradaban ada 3 fase perkembangan kota:

  • Fase Mezo Teknik: Perkembangan kota yang menyandarkan eksploitasi manusia atas sumber daya angin dan air.
  • Fase Paleo Teknik: Perkembangan kota yang sumber tenaga yang digunakan uap air dan mesin – mesinnya dikonstruksi dari besi dan baja.
  • Fase Neo Teknik: Perkembangan kota yang sumber tenaga yang digunakan bensin dan uap air

• Menurut Griffith Taylor, tingkat perkembangan kota ada 4 tahap:

  • Tahap infantile
    • Pada tahap ini ditandai dengan tidak adanya tempat pemisah antara pusat perekonomian dengan tempat peumahan sehingga biasanya dijadikan satu antara toko dan perumahan.
  • Tahap Juvenile
    • Pada tahap ini ditandai dengan munculnya rumah-rumah baru diantara rumah-rumah lama atau tua dan mulai nampak terpisahnya antara toko atau perusahaan atau perumahan.
  • Tahap Mature
    • Pada tahap ini ditandai adanya pengaturan tempat ekonomi dan perumahan atau sudah adanya perencanaan tata kota yang baik
  • Tahap sinile
    • Pada tahap ini kota kembali menjadi rumit karena adanya pengembangan-pengembangan kota yang lebih luas lagi sehingga terjadi pembongkaran dan penggusuran perumahan maupun untuk dipindahkan keluar kota.

Fungsi Antara Desa dan Kota

Desa dan Kota memiliki fungsi yang saling melengkapi satu sama lain. Setiap kegiatan yang ada di dua tempat selalu saling terkait.

  1. Fungsi Desa terhadap Kota
    • Desa memasok tenaga kerja bagi kota
    • Desa memasok bahan mentah bagi kota
    • Desa sebagai mitra pembangunan Kota
    • Desa merupakan wilayah hinterland bagi Kota
  2. Fungsi Kota bagi desa
    • Kota sebagai pemasok pendidikan dan teknologi bagi kota
    • Kota sebagai penyedia jasa bagi kota
    • Kota sebagai pusat pemasaran barang-barang dari desa

Pusat-pusat pertumbuhan di Indonesia

  1. Wilayah I: Aceh dan Sumatera Utara, berpusat di Medan
  2. Wilayah II: Sumatera Barat dan Kepulauan Riau, berpusat di Pekanbaru
  3. Wilayah III: Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Bangka Belitung, berpusat di Palembang
  4. Wilayah IV: Jakarta, Banten, Jawa Barat dan DIY, berpusat di Jakarta
  5. Wilayah V: Kalimantan Barat, berpusat di Pontianak
  6. Wilayah VI: Jawa Timur dan Bali berpusat di Surabaya
  7. Wilayah VII: Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, berpusat di Balikpapan dan Samarinda
  8. Wilayah VIII: Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, berpusat di Makassar
  9. Wilayah IX: Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Gorontalo, berpusat di Manado
  10. Wilayah X: Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua bagian barat, berpusat di Sorong
    Wilayah tersebut dibagi menjadi:
  11. Wilayah pembangunan utama A: wilayah I dan II berpusat di Medan
  12. Wilayah pembangunan utama B: wilayah III, IV dan V berpusat di Jakarta
  13. Wilayah pembangunan utama C: wilayah VI dan VII berpusat di Surabaya
  14. Wilayah pembangunan utama D: wilayah VII, VIII, IX dan X berpusat di Makassar

Beberapa Pengaruh Pusat Pertumbuhan

  1. Pengaruh terhadap pemusatan dan persebaran sumber daya, antara lain:
    a. Pola mobilitas penduduk meningkat,
    b. Teknologi dan transportasi semakin meninggi.
  2. Pengaruh terhadap perkembangan ekonomi, antara lain:
    a. Meningkatkan kondisi ekonomi penduduk sehingga kesejahteraan dan kualitas hidupnya lebih baik,
    b. Menjadikannya sebagai pusat perdagangan.
  3. Pengaruh terhadap perubahan sosial budaya masyarakat, antara lain:
    a. Pendidikan penduduk semakin meningkat,
    b. Masuknya budaya asing atau budaya luar sehingga timbulnya asimilasi budaya di masyarakat.

Baca Juga : Materi Atmosfer dan Subscribe Channel Youtube geo volcan