Belakangan ini sering terdengar istilah pandemi semenjak wabah Covid-19 terjadi. Corona Virus Disease atau disebut dengan Covid-19 ini muncul sekitar akhir tahun 2019 di Wuhan, China. Covid-19 merupakkan sebuah virus yang kecil tak kasat mata yang bisa mengancam nyawa tanpa memandang usia. Tak disangka wabah tersebut masih hidup hingga sekarang dan tidak terasa yang terjangkit virus ini telah menjamur dimana-mana. Bahkan jalanan yang sebelumnya hanya dibisingi oleh klakson kendaraan, sekarang telah tercemari sirine ambulance yang berlalulalang kesana kemari. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah wabah ini yaitu dengan diberlakukannya protokol kesehatan dan social distanching.
Dampak pandemi covid-19 bersifat sangat merugikan karena telah menyebabkan terganggunya kegiatan masyarakat. Adanya wabah ini memaksa kita untuk membatasi aktivitas sosial antar individu satu dengan yang lainnya. Hari demi hari virus ini semakin menjadi-jadi sehingga menewaskan ribuan bahkan jutaan orang didunia.
Mendengar berita tersebut pemerintah mengambil tindakan yaitu dengan memberlakukan sistem PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang dimana sistem tersebut masih berjalan hingga saat ini. Akan tetapi banyak masyarakat yang protes bahkan menolak sistem tersebut. Karena menurut mereka sistem ini sangat berdampak pada perekonomian. Contohnya pengangguran dimana-mana, kurangnya pendapatan, biaya hidup yang tidak terkondisikan, dan lain-lain.
Dan yang lebih parahnya lagi dunia pendidikan sempat diberhentikan untuk sementara waktu. Sebagai gantinya pemerintah memberlakukan sistem sekolah secara daring (dalam jaringan). Dengan menggunakan teknologi masa kini seperti Handphone, Laptop, Computer, dan lain-lain. Juga memanfaatkan media sosial sebagai alat pembelajaran. Dengan diberlakukannya sistem ini juga memiliki dampak yang cenderung negatif bagi para pelajar. Misal banyak dari mereka kurang bersosialisasi, pembelajaran kurang efektif sehingga membuat pelajar bermalas-malsan dirumah.
Tidak hanya dalam dunia Pendidikan tetapi juga berdampak pada masalah sosial salah satunya seperti kasus kepanikan sosial diawal-awal munculnya virus corona, dimana banyak oknum yang melakukan penimbunan masker dan handsanitizer yang pada akhirnya mengakibatkan kerugian materi maupun non materi bagi orang lain.
Baca juga :
Budaya Gotong Royong Luntur Akibat Adanya Pandemi Covid-19
BUDAYA BARU MENGHADAPI COVID-19
Adapun dampak lain dari wabah ini adalah terpengaruhnya budaya yang biasa dilakukan masyarakat yaitu beberapa kesenian. Situasi itu juga mempengaruhi semua sendi kehidupan. Dunia hiburan dan seni pun merasakan dampak yang
luarbiasa dari pandemi ini. Salah satunya adalah kesenian jaranan. Dampaknya merujuk kepada perekonomian masyarakat. Dimana mereka tidak memiliki penghasilan dari pekerjaan tersebut. Misal diadakannya hajatan atau pernikahan yang biasanya memakai jasa kesenian jaranan sebagai hiburan kini tidak diperbolehkan oleh pemerintah karena dapat mengundang kerumunan.
Sebelumnya kesenian jaranan ini biasanya tampil sebanyak 6-8 kali dalam sebulan, kini hanya 2-3 kali bahkan tidak sama sekali. Namun semenjak adanya wabah ini semua aktivitas yang berbau kerumunan diberhentikan untuk sementara waktu dengan tujuan mengurangi persebaran virus Covid-19 tersebut. Jangankan tampil untuk berlatih saja tidak diperbolehkan karena dapat memicu suatu kerumuan. Sebelum wabah tersebut masuk kedalam kehidupan masyarakat penghasilan yang diperoleh dari kesenian jaranan ini bisa mencapai kurang lebih sekitar satu jutaan. Tapi tidak untuk kali ini semenjak virus Covid-19 terus-menerus berkelanjutan ditambah lagi adanya pembatasan sosial antar individu membuat pendapatan para pelaku seni menjadi menurun secara derastis.
Padahal banyak sekali dari kalangan masyarakat yang menyukai kesenian jaranan. Tidak diketahui pasti mengapa masyarakat suka dengan kesenian tersebut. Tapi banyak dari mereka mengatakan bahwa jaranan adalah salah satu kesenian yang sangat menhibur. Bukan hanya itu masyarakat juga menilai kesenian ini memiliki kisah (cerita) dan Gerakan tari yang berbeda-beda sehingga menjadi suatu keunikan tersendiri dalam pementasannya. Bahkan kesnian jaranan juga dikatakan bersifat sakral.
Kini kesenian jaranan sedang menjadi topik hangat disetiap daerah. Berhubung PPKM saat ini sudah mulai dihentikan dan sudah lelahnya para pelaku seni karena tidak memiliki penghasilan, akhir-akhir ini banyak dari mereka yang memutuskan untuk terjun langsung kemasyarakat. Menghibur masyarakat dengan cara mengamen keliling didaerah mereka masing-masing menggunakan mobil pikap untuk membawa perlengkapan yang akan digunakan nantinya saat tampil. awalnya para pelaku seni berhenti diperempatan jalan dan akan memulai aksinya ditepi atau dibibir jalan. Akan tetapi aksi tersebut tidak bertahan lama karena menurut masyarakat setempat itu sangat membahayakan diri sendiri juga mengganggu pengguna jalan raya seperti pengendara sepeda motor, pengendara mobil dan alat transportasi lainnya. Semenjak saat itu para pelaku seni tersebut memutuskan untuk tidak lagi beraksi disekitar jalan raya melainkan mereka akan beraksi didaerah yang tidak terlalu banyak kendaraan, perkampungan misalnya.
Tak disangka aksi tersebut menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Banyak masyarakat merasa adanya aksi tersebut bisa menjadi hiburan bagi mereka semenjak diberlakukannya pembatasan sosial antar indivu. Mereka beranggapan bahwa aksi tersebut membuat masyarakat tidak perlu datang jauh-jauh untuk menyaksikan pertunjukan kesenian jaranan itu, karena mereka bisa menyaksikan langsung kesenian ini didaerah mereka masing-masing. Tapi tak sedikit masyarakat juga menentang adanya aksi ini. Karena kegiatan tersebut dinilai merugikan jaranan yang sudah memiiliki ijin resmi. Mereka menilai aksi tersebut dapat menurunkan kesakralan nilai-nilai luhur kesenian jaranan. Jika disangkut-pautkan dengan adanya wabah virus Covid-19 ini sangat tidak diperbolehkan karena pasti akan memicu kerumunan sedangkan diera pandemi ini kita tidak dianjurkan untuk berkerumun.
Mengingat kesenian jaranan juga termasuk sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan, dimasa pandemi ini para pelaku seni bisanya menarif harga sekitar kurang lebih serratus ribu perjamnya. Memang penghasilan yang didapat kali ini tidak sama dengan penghasilan yang mereka dapat sebelum Covid-19 tapi mereka sudah sangat bersyukur. Mengapa? Karena selain bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, para pelaku seni juga merasa senang bisa menghibur masyarakat dengan salah satu tarian tradisional yang sudah melegenda yaitu kesenian jaranan. Hitung-hitung mereka melestarikan salah satu budaya yang sudah lama ada. Berharap kesenian tersebut hilang begitu saja.
Lihat Juga : Pawai Ogoh ogoh Karangdoro Banyuwangi






