GEBRAKAN DIGITAL, MASYARAKAT MENGAWAL

Essay Geografi504 Dilihat

Disrupsi Budaya, suatu ungkapan yang disampaikan Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud) Irsyad Zamjani dalam sebuah sambutan pada Forum Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan yang berlangsung semi dalam jaringan (daring) di Jakarta, Kamis 15 Oktober 2020. Disrupsi Budaya, suatu ungkapan yang menyatakan perubahan dari seorang Kepala Puslitjakdikbud terhadap budaya yang ada di bangsa kita saat ini. Kalimat tersebut lahir dari opini-opini masyarakat luas yang melihat banyaknya inovasi serta perubahan besar-besaran dalam sektor budaya.

Melihat perubahan pada aspek kebudayaan yang semakin terasa, Irsyad Zamjani melakukan sebuah penelitian tentang perubahan tersebut terhadap para pelaku seni dan industri kreatif. Dalam penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa para pelaku seni dituntut untuk memiliki pola dan daya adaptasi sendiri serta strategi-strategi baru yang harus mereka lakukan dengan cepat. Hal inilah yang menyebabkan perubahan secara besar-besaran dalam sektor industri kreatif dan budaya. Tuntutan bagi para pelaku seni untuk terus mengeluarkan sesuatu yang baru agar masyarakat tidak mengabaikan kebudayaan selama adanya pandemi membuat mereka harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.

Ungkapan disrupsi budaya sebenarnya telah dikenal sejak lama. Namun ungkapan ini kembali naik daun akibat munculnya pandemi. Disrupsi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sebuah hal yang tercabut dari akarnya. Sementara dalam arti umum, Disrupsi adalah sebuah era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental yang mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru.

Dari pengertian tersebut rasanya tidak berlebihan ketika seorang Irsyad Zamjani menggunakan kata ini untuk menggambarkan situasi perubahan sektor budaya yang saat signifikan seperti sekarang ini. Sedih melihat budaya kita yang semakin semakin jauh dari keasliannya.

Baca juga : Go Digital Go Global: Peran Masyarakat Indonesia Sebagai Penggerak Kebudayaan Digital Ditengah Era Disrupsi

Beberapa tahun belakangan ini, pandemi yang terjadi memberikan dampak yang semakin terasa. Dan selama beberapa waktu ini kita telah menelantarkan kewajiban melestarikan kebudayaan bangsa kita karena sibuk beradaptasi dengan berbagai kebiasaan baru. Dimana kita tidak lagi bisa secara leluasa melakukan berbagai aktivitas mengingat aturan-aturan yang terus dikeluarkan pemerintah untuk menekan derasnya angka positif covid-19. Sangat patut bila seorang seperti Irsyad Zamjani memberikan perhatian secara khusus pada kebudayaan kita saat ini.

Data tahun 2020 mencatat lebih dari 58.000 seniman yang terdampak adanya disrupsi budaya saat pandemi. Hal ini disampaikan Ratri Ninditya saat menjadi salah satu pembicara dalam Forum Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan Oktober 2020 lalu. Beliau mengatakan berbagai acara dan kegiatan kebudayaan yang telah direncanakan digelar secara langsung (offline) dibatalkan akibat pandemi.

Ini adalah peristiwa besar, sama halnya dengan musibah-musibah yang pernah terjadi belakangan ini. Disrupsi budaya ini sama dahsyatnya dengan bencana tsunami yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Nanggroe Aceh Darussalam. Bila bencana tsunami korban fisik lebih besar, maka disrupdi budaya ini menghancurkan dari dimensi estetik bangsa Indonesia. Sama dengan kekhawatiran kita bersama tentang perluasan dan penyebaran penggunan narkoba yang semakin membesar. Keadaan ini semakin jelas menggambarkan perubahan yang hendaknya menjadi perhatian khusus masyarakat umum.

Lihat juga : Gejala dan Dampak Letusan Gunung Api

Peran penting masyarakat dalam menyikapi perubahan ini harus segera diambil. “Berdaulat dalam bidang politik”, “Berdikari dalam bidang ekonomi”, dan “Berkepribadian dalam kebudayaan,” itulah sepenggal pidato Soekarno Founding father bangsa ini.

Kalimat tersebut mengisyaratkan begitu penting peran masyarakat dalam mengubah tatanan bangsa ini. Masyarakat adalah sekelompok makhluk hidup yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama, serta mengarah pada kehidupan kolektif. Masyarakat adalah sekelompok makhluk hidup yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama, serta mengarah pada kehidupan kolektif. Pengertian tersebut seharusnya sudah menyadarkan betapa pentingnya peran masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan tingkat intelektual dan kreativitas yang ada, masyarakat diharapkan mampu memberikan kontribusi untuk memajukan berbagai aspek kebudayaan Indonesia yang tengah menjadi perhatian khusus saat ini.

Masyarakat khususnya generasi muda merupakan aset yang akan menentukan bagaimana kondisi bangsa ini nantinya, apakah akan tetap mengabaikan kondisi budaya saat ini dan membiarkan ciri khas kebudayaan Indonesia hilang di masa depan atau berupaya menjadikan Indonesia negara yang penduduknya memiliki warisan budaya asli sendiri. Kini di tengah era dimana budaya semakin berubah jauh dari aslinya, masyarakat dihadapkan pada tantangan berat untuk membantu para pelaku seni dalam mempertahankan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa berbudaya.

Sebelum para generasi muda memenuhi perannya di masa yang akan datang sebagai generasi penerus kebudayaan bangsa, apa usaha nyata yang bisa mereka lakukan untuk mendukung upaya pelestarian bangsa Indonesia di era seperti ini? Usaha tersebut harus dimulai dengan menanamkan kesadaran dalam pikiran mereka tentang pentingnya budaya pada diri mereka. “Budaya Kita Adalah Tanggung Jawab Kita,” slogan ini yang harusnya melekat pada jiwa dan raga masyarakat Indonesia terutama generasi muda dan hendaknya dicerminkan melalui sikap dan perilaku yang mendukung kelestarian dan keaslian budaya bangsa Indonesia. Masyarakat harus sadar betapa pentingnya peran dan usaha mereka.

Usaha yang bisa dilakukan masyarakat sebagai pelaku utama dalam kebudayaan untuk membantu para pelaku seni berjuang melestarikan kebudayaan dan meminimalisir perubahan budaya Indonesia ada beberapa cara. Pertama, tanamkan kesadaran akan pentingnya budaya Indonesia maupun budaya daerah dalam kehidupan kepada orang-orang sekitar. Kesadaran adalah hal yang sangat penting dan jika itu tidak ada maka kelestarian budaya semakin lama akan semakin berubah dan menghilang. Kedua, kembangkan karakter dalam berbudaya dalam diri masing-masing terutama pada generasi muda. Karakter yang ada dalam diri seseorang akan membentuk nilai-nilai luhur yang bisa dikembangkan seperti nilai kepedulian. Ketiga, manfaatkan teknologi modern yang ada untuk membantu para pelaku seni dalam kegiatan mempromosikan kebudayaannya.

Di kondisi saat ini pendemi covid-19 memberikan guncangan hebat kepada para pelaku seni terutama mereka yang kurang bisa memanfaatkan teknologi modern. Keadaan ini bisa menjadi kesempatan masyarakat umum dalam menunjukkan kepedulian mereka terhadap budaya dengan membantu para pelaku seni mengubah ruang pentas mereka menjadi daring (online) yang dapat membuat para seniman mengembalikan daya ciptanya.

Perlu diingat bahwa saat ini media atau sarana bisa menjadi penentu bagaimana nasib kebudayaan kedepannya. Media bisa menjadi tolak ukur sejauh mana perkembangan budaya secara online, apakah dinyatakan masih minim atau telah maksimal. Kegagapan para pelaku seni dalam mengakses media daring saat ini menjadi masalah umum yang sering terjadi. Bisa saja jaringan dan fasilitas lengkap, tetapi kemampuan mereka dalam mengoperasikan fasilitas tersebut sangat minim atau malah sebaliknya, bisa saja mereka mahir dalam memanfaatkan jaringan atau fasilitas lainnya tetapi fasilitas tersebut bukan murni miliknya. Hal ini berpengaruh dalam penerapan sistem online di sektor kebudayaan. Kasus seperti ini juga harus menjadi perhatian khusus bagi masyarakat dalam membantu para seniman. Bagaimana mereka harus bisa ‘merangkul’ dan mengedukasi kepada para seniman agar bisa beradaptasi dan melewati gebrakan digital yang ada.

Baca lagi : Menurunnya Tingkat Kesenian Di Kalangan Masyarakat Pada Era Pandemi

Kesenian yang menjadi salah satu unsur kebudayaan dapat diwujudkan melalui digitalisasi agar dapat menumbuhkan karakteristik nasionalis dan tentunya menjaga nilai-nilai luhur kebudayaan. Adanya gebrakan digitalisasi kebudayaan saat ini dapat diwujudkan dengan pemanfaatan media sosial secara positif sehingga mampu mendorong adanya inovasi dan kreativitas dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan di Era Revolusi Industri 4.0. Inilah mengapa penggunaan media online di kalangan masyarakat harus disikapi dengan cara yang positif. Bagaimana mereka seharusnya menggunakan media sosial agar bisa membantu orang disekitarnya yang kurang mengerti tentang apa dan bagaimana media online yang sebenarnya.

Tugas masyarakat bukan sekedar duduk manis menikmati sebuah pertunjukan budaya, tetapi juga ikut membantu menyebarkan kebudayaan termasuk mengajak dan dan menggerakkan masyarakat lainnya kepada kemajuan menuju kelestarian budaya. Masyarakat secara tidak langsung menjadi pelaku seni yang diharuskan memiliki nilai-nilai fungsi dan peran penting sendiri dalam melestarikan budaya asli bangsa kita. Masyarakat di era seperti sekarang ini juga berperan sebagai fasilitator bagi para seniman untuk menciptakan ruang pertunjukan baru sebagai salah satu solusi dalam menghadapi pandemi ini. Dorongan dan semangat sangat penting diberikan kepada seniman untuk terus berkarya dan menciptakan win-win solution dalam disrupsi budaya ini.

Dengan munculnya masyarakat di tengah perubahan budaya dapat membantu seniman mencegah perkembangan yang tidak terkontrol atau keluar dari ciri khas budaya Indonesia. Oleh karena itu, kehadiran masyarakat sangat dinantikan untuk kita bersama-sama melestarikan budaya sehingga nantinya keaslian makna budaya Indonesia tidak hilang tergerus arus disrupsi.