Fenomena Cita-Cita Manusia Diseragamkan

Ayo Membaca1135 Dilihat

Fenomena Cita-Cita Manusia Diseragamkan – Satu hal yang pasti dimiliki manusia adalah keterbatasan. Manusia sangat terbatas dalam segala hal sehingga tidak mampu untuk membaca kepastian kehidupan. Ya memang hidup ini serba tidak pasti. Dikelilingi dan dilingkari oleh segala jenis ketidak-pastian. Manusia hanya bisa merencanakan. Dan kehidupan tidak akan pernah taat pada tata cara berfikir manusia. Karena kita tidak tahu apa yang terbaik untuk kita. Ketidak-tahuan ini kemungkinan juga ada kaitannya dengan kekurang-tepatan kita dalam mengenali diri kita sendiri. Maqalah penting dan masyhur dalam dunia tasawuf adalah “man arafa nafsahu faqod arafa Rabbahu”. Karena hanya Allah lah yang tahu terhadap kehidupan kita, maka jika kita ingin memahami secara jelas dan khatam mengenai kehidupan kita, maka dekatilah Allah, kenalilah Allah dan menyatulah dalam cintaNya.

Berkaitan dengan term mengenal diri maka satu pembahasan yang sangat patut untuk ditulis dalam tulisan ini adalah mengenai “perbedaan”. Karena semakin kita mengenal diri kita, maka kita akan semakin memaklumi, menghargai dan merayakan perbedaan. Maka awal yang harus kita sinauni, pelajari, dan telaah secara mendalam adalah bagaimana menempatkan sudut pandang yang presisi sehingga tepat sasaran dalam menilai segala hal termasuk kehidupan. Misalnya dalam ilustrasi melakukan perjalanan naik sepeda motor. Kalau kita menyangka jalanannya tidak berlubang, tapi ternyata berlubang, maka yang terjadi kita akan terperosok dan jatuh akhirnya stres juga bahkan frustasi. Sebaliknya jika kita menyangka jalanan itu berlubang, ternyata tidak berlubang, maka kita akan berjalan terlalu berhati-hati, terlalu pelan. Itupun juga membuat kita stres.

Baca juga : Ditidurkan oleh Kelelahan, Dibangunkan oleh Pekerjaan

Sehingga rambu-rambu jangan sampai salah melihat dan salah menilai itu perlu dititeni dan diterapkan dalam kehidupan. Termasuk dalam menilai bahwa setiap manusia itu berbeda. Dan bahwa perbedaan itu adalah keniscayaan, keharusan dan wajib ada. Masalahnya kan kita sering dipaksa sama. Kalau tidak sama dikucilkan, dihukum, hingga dipandang aneh dan patut dimusnahkan. Bahkan sampai menyentuh kepada cita-cita manusia. Manusia modern dari berbagai suku, ras, agama, bangsa, negara yang berbeda dipaksa memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi orang yang kaya raya, berkuasa, terkenal, viral dan seterusnya.

Padahal kan kaidahnya kalau kamu ayam, jangan bercita-cita jadi burung. Kalau kamu burung jangan bercita-cita jadi ikan, kalau kamu ikan jangan mencoba-coba ikut kompetisi terbang. Jika itu dipaksakan hancurlah dirimu. Sederhananya kamu sedang menjauhkan dirimu dari jati dirimu. Semakin tersiksa, semakin hampa dan bimbang arah kehidupanmu. Maka sekali lagi di sinilah pentingnya mengenali diri kita. Kalau diri kita ikan tidak boleh ikut lomba terbang itu bukan berarti kita tidak boleh mengembangkan kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi iku suatu keharusan. Namun identifikasi atas kedirian, karakter, kepribadian, dan informasi paling dalam mengenai diri kita itu yang kita jadikan sebagai dasar dan pijakan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi.

Fenomena Cita-Cita Manusia

Kenapa kita dipaksa untuk seragam. Padahal fitrahnya kita semua ini beragam. Ya bicara tersinggung dan tidak tersinggung, memang dari bangku sekolahan pun anak-anak sudah dipaksa untuk seragam. Bagaimana satu kelas itu beragam keahliannya, minatnya, bakatnya, latar-belakangnya, setelan orisinalitas dari sananya dan seterusnya. Namun anak-anak dipaksa untuk menguasai hal yang sama dan itu pun sangat banyak yang harus dikuasai. Setiap anak harus mengikuti, mengerjakan, mematuhi hingga menguasai puluhan mata pelajaran dari berbagai rumpun keilmuan. Maka tak heran jika banyak bermunculan orang-orang yang bisa di berbagai bidang namun tidak ahli, setengah-setengah semuanya.

Baca juga : Slilit Kyai dan Sepatu Pelacur

Ketika ada anak sangat mahir di kelasnya dalam bidang tertentu, lantas dengan tergesa-gesa menghakimi yang tidak mahir di kelas itu bodoh. Tidak bisa kita menutup mata dari kenyataan yang telah berlangsung lama. Ibaratnya di dalam kelas ada ikan, burung, monyet, ulat dan sebagainya. Namun saat ada materi berenang, burung dan monyet kelihatan susah, karena itu bukan keahliannya, otomatis ikan yang paling gembira. Begitulah ilustrasinya dan seterusnya.

Semoga kita semuanya selalu terbimbing oleh nurani kita untuk selalu berusaha menghargai, mengapresiasi, mengarahkan, hingga kepada membimbing apapun keahlian, minat dan bakat anak-anak kita, walaupun itu berbeda. Ada satu pertanyaan saya, yang sampai saat ini belum menemukan jawabannya. Mengapa aktivitas olahraga disebut sebagai non-akademik?, kalau olahraga disebut non-akademik, lantas mengapa setiap sekolahan mempersiapkan guru olahraga, dan pelajaran olahraga masuk dalam kurikulum dan penilaian di raport?. Semoga pada suatu hari nanti setiap anak bangsa bisa terbimbing untuk lebih mengenali dirinya, sehingga mereka dengan cekatan bisa menentukan arah untuk mengembangkan diri, menentukan cita-cita secara merdeka hingga memutuskan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat terhadap sesama.

Jangan sampai kita tidak menjadi diri kita sendiri. Be your self begitulah bahasa kerennya. Kita harus merdeka terhadap keputusan menentukan cita-cita kita. Saya sangat tersentuh dan tercerahkan oleh karya Emha Ainun Najib mengenai etno-talentologi. Tersampaikan secara implisit maupun eksplisit bahwa setiap suku bangsa, setiap kelompok masyarakat mempunyai ciri tersendiri. Karena itulah, maka cita-citanya juga berbeda. Bagi suku pedalaman yang sangat komitmen dalam menjaga alam, cita-citanya adalah bagaimana hutan tetap terjaga kelestariannya, sehingga para flora dan fauna yang habitat aslinya di situ tidak terjajah hingga akhirnya punah. Namun manusia modern berbeda. Cita-citanya adalah bagaimana hutan itu menghasilkan uang yang banyak, pohonnya bisa ditebang, satwanya bisa diburu dan dijual dan seterusnya. Yang itu semua demi untuk mewujudkan cita-citanya yaitu menjadi kaya dan berkuasa.

Maka cita-cita orang Mandar berbeda dengan cita-cita orang Bugis. Cita-cita orang Jawa berbeda dengan cita-cita orang Betawi, dan seterusnya. Namun faktanya sekarang seluruh dunia dipaksa sama untuk bercita-cita menjadi kaya, berkuasa dan terkenal. Sehingga semuanya akan terus melihat rumput tetangga. Dan selamanya tidak akan pernah puas dengan rumputnya sendiri. Karena merupakan sebuah kegagalan jika ada yang lebih kaya dari dirinya, ada yang lebih berkuasa dari dirinya, ada yang lebih viral dan terkenal darinya. Jadi tidak heran jika manusia modern nampak sibuk mencari kebahagiaan, namun selalu gagal dan salah sangka.

Fenomena Cita-Cita Manusia Diseragamkan Oleh : Agus Novel Mukholis