Chapter 1 : Alterio Delana
Bel sekolah berdering di segala penjuru. Para murid berlarian keluar kelas mereka, berebut tempat paling nyaman di cafetaria. Sebagian dari mereka memilih untuk bersenda gurau di sana, sembari menikmati makanan-makanan lezat, namun sebagian yang lain, memenuhi auditorium untuk melihat sesuatu.
“Ayuk, jangan sampai kita telat nonton itu seleksi. Cepet!” geram seorang siswi yang tengah menarik-narik lengan temannya. Sepertinya ia ingin melihat sesuatu di auditorium bersama dengan murid yang lainnya, tapi entah kenapa seorang teman di sampingnya malah membuatnya geram.
“Lo nggak liat apa gue lagi baca? Udah lo ke sana sendiri aja.”
Kini kesabarannya hilang, temannya itu memang harus dipaksa dulu baru bisa ikut. Akhirnya dengan cekatan ia merampas buku yang sedang gadis itu baca lalu berlari menuju auditorium, sedangkan pemilik buku langsung terkejut dan dengan kesal mengejar si pencuri ke auditorium.
Tempat seluas lapangan sepak bola itu kini dipenuhi banyak orang. Para murid yang baru datang langsung berebut tempat duduk untuk melihat sebuah seleksi pemain biola yang akan mewakili sekolah di lomba tingkat Nasional. Namun sepertinya mereka datang bukan untuk melihat keseluruhan seleksi itu.
“Anjir, dapet kursi belakang, arghhhh!”
Dari belakang, pemilik buku itu langsung menyambar buku novel yang digenggamnya, menatapnya kecut sembari berjalan meninggalkannya. Namun terlambat, temannya yang sedari tadi rewel ingin melihat seleksi itu baru saja menariknya untuk duduk di kursi terakhir yang ada di barisan paling belakang dan pintu auditorium sudah ditutup oleh panitia penyelenggara seleksi, alhasil ia tidak bisa keluar dari sana karna pertunjukan yang akan mereka tonton segera dimulai.
“Lo kenapa, sih?” geram cewek itu.
“Udah, diem aja. Lo sih, kita dapet kursi paling belakang kan jadinya.”
Cewek pemilik buku itu berdecih, kemudian membuka kembali novel yang baru saja ia rebut dari temannya. Tapi ternyata itu bukan novel miliknya, melainkan buku tulis biasa yang sengaja dibawa oleh temannya untuk memanipulasi. Sedangkan novel miliknya masih berada di tangan temannya itu. “Gue dapet temen kek gini dari mana, sih?”
Suara tepuk tangan kini mendominasi ruangan itu. Semua orang di sana serentak berdiri untuk menyambut dua pemandu acara yang berpakaian rapi dengan balutan jas seelan hitam, bawahan hitam, dan dasi merah, sedangkan pemandu acara yang satunya lagi memakai kebaya merah dengan balutan batik khas Indonesia yang memukau. Mereka berdua naik ke atas panggung, menyambar mikrofon yang telah disediakan dan menyapa semua orang.
“Selamat siang, semuanya!”
“Siang ….”
“Wah sepertinya semuanya yang ada di sini sangat antusias ya, untuk melihat seleksi ini,” ujar pemandu acara laki-laki berbasa-basi.
“Tentu saja dong, kak. Mari kita kasih tepuk tangan meriah untuk mengapresiasi antusiasme para siswa dan siswi SMA Wirnamandala ini,” respon pemandu acara perempuan.
“Oke, seperti yang sudah terlihat di belakang kami,” kedua pemandu acara itu menoleh ke belakang, menunjukkan banner dengan warna background elegan dan elemen-elemen note nada, ditambah dengan foto 5 siswa dan siswi yang akan tampil untuk seleksi hari ini, “hari ini telah diadakan seleksi pemain biola untuk mewakili sekolah kita dalam kompetisi bertajuk ‘Gold Magic Violin of Nusantara’. Semoga apapun keputusan para dewan juri seleksi dapat diterima dan siapapun yang terpilih dapat mengisi gudang prestasi SMA Wirnamandala.”
Sekali lagi semua orang bertepuk tangan dengan wajah mereka yang berseri, menunggu penampilan dari kontestan pertama dimulai.
“Langsung saja, kita akan sambut kontestan pertama, Alterio Delana!”
Semua orang berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah, menampakkan antusiasme mereka dengan acara tersebut. Tapi sepertinya mereka bukan antusias dengan acaranya, melainkan antusias dengan pemain biola bernama Alterio Delana itu. Bahkan, banyak siswi yang berebut tempat dan kursi di depan untuk melihat dengan jelas penampilan dari siswa itu. Mereka berteriak, saling mendorong, saling mencaci maki, hal itu berlangsung sepersekian menit sebelum akhirnya panitia dari OSIS membuat mereka diam.
“Sampek segitunya ya?” cibir gadis pemilik novel tadi sembari melirik sinis pemandangan di mana para siswi mengeluh dan saling dorong karna ingin maju ke kursi paling depan. “Lo nggak mau ikut-ikutan kek mereka, Kai?”
Baca Juga : LukaSenja : Prolog
Siswi bernama lengkap Kaila Fany Anulika yang dipanggil namanya oleh pemilik novel yang tengah ia genggam pun menoleh. “Gue dapet tempat duduk di sini aja udah bahagia, Se. Lagian gue kalok heboh kek gitu, jaim dan jual mahal gue hilang dong, gue nggak mau ya dicap sebagai cewek yang bobrok.”
“Terserah lo, deh.”
Setelah kekacauan dan keributan mereda, siswa bernama Alterio Delana yang sudah siap menunjukkan bakatnya pun menunduk hormat kepada dewan juri, lalu bersiap untuk menggesek biolanya.
Alunan nada pertama dari gesekan biola miliknya berhasil membuat semua penonton memejamkan mata, menikmati nada-nada yang terdengar selanjutnya. Siswa yang kerap disapa Alter itu terkenal sebagai siswa yang sangat menyukai biola, bahkan ia mengaku sejak usia 5 tahun, ia sudah diajari untuk bermain biola.
Untuk seleksi ini, Alter memainkan musik waltz yang kalem dan elegan, membuat suasana auditorium seakan berubah menjadi suasana seperti yang ada di istana-istana negeri dongeng.
Setelah beberapa saat memanjakan telinga semua orang, gesekan biola terakhir akhirnya datang. Semua orang sontak berdiri dan bertepuk tangan dengan sangat meriah, bahkan siswi yang mengaku menjadi fans dari Alter juga sempat berteriak dan melemparkan banyak mawar merah ke atas panggung.
“Enak juga, ya,” ujar siswi bernama Senja tanpa beban.
“Apa kata lo? ‘Enak juga?’ Ngerti apa lo soal musik? Lebih baik lo diem sih daripada diserbu sama fans nya Alter,” cibir Kaila di sampingnya.
“Sampek segitunya? Dahlah, gue mau keluar!” Senja menyambar novel yang tengah dipeluk oleh Kaila, lantas berjalan keluar dari auditorium, enggan untuk melihat keseluruhan acara seleksi itu.
Baca Juga : 15 Contoh Cerita Pendek Bahasa Indonesia Lengkap, Beragam Tema




