LukaSenja : Chapter 11

Lukasenja442 Dilihat

Chapter 11 : Pabrik

Baca Juga : LukaSenja : Chapter 10

Senja duduk di salah satu kursi cafetaria dekat pintu, melamun sembari mencicipi makanannya sesekali. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Apakah ia harus mencari cangkir baru atau hadiah lain untuk ibunya? Tapi ada alasan yang mendasari kenapa ia membeli cangkir itu.

Dulu, sewaktu Senja masih kelas sepuluh, ibunya mengajaknya ke Mall Kirandana dan jatuh cinta pandangan pertama dengan cangkir itu. Namun waktu itu, ibunya tidak membawa kartu kredit sehingga uang di dompetnya tidak cukup untuk membeli cangkir itu. Ketika keesokannya mereka kembali ke sana, cangkir itu sudah kehabisan stok. Cangkir itu bukan cangkir biasa yang punya banyak stok di kota karna sedikit antik. Itulah kenapa Senja cukup menderita karna cangkir itu pecah.

“Senja!” panggil Kaila di depannya, berhasil membuyarkan lamunan gadis itu. “Lo kenapa? Masih mikirin tuh gelas?”

Senja mengangguk kuat sembari memasang wajah muram.

“Kenapa nggak coba cari di online shop,” ujar Ensel menyarankan.

“Takut nggak ada yang ori. Nanti gue belinya cangkir yang bahannya keramik yang datang bahannya plastik. Takut banget. Gue juga udah coba cari di toko oren, tapi nggak ada yang ori, semuanya review nya jelek.” Senja mengacak-acak rambutnya. Hanya masalah gelas bisa membuatnya pusing seperti ini. Gadis itu kemudian menyantap makanan di depannya dengan kesal, tak peduli jika nanti ia akan tersedak.

Tiba-tiba, dari luar sekelompok cheerleaders masuk ke dalam cafetaria dan mulai menyanyikan yel-yel mereka sembari menari-nari di tempat itu. Semua murid langsung menghentikan aktivitas mereka masing-masing dan menonton aksi cheerleaders kebanggaan SMA Wirnamandala.

“SMA WIRNAMANDALA!”

“THE KING OF SENIOR HIGH SCHOOL!” seru sekelompok cheerleaders menyerukan jargon sekolah.

Detik berikutnya mereka mulai menyanyikan yel-yel buatan mereka. Semua orang kemudian bersorak ria mengiringi setiap tarian yang ditarikan oleh sekelompok perempuan itu, pasalnya tarian dan yel-yel mereka sepertinya baru dan belum pernah mereka tampilkan di depan umum sebelumnya.

“Mereka punya yel-yel baru?”

“Fresh banget yel-yel dan dance baru mereka.”

“Udah nggak diragukan lagi sih, Cheergirl selalu terdepan.”

Semua murid di cafetaria mulai mengeluarkan ponsel mereka dan merekam penampilan dari Cheergirl yang merupakan nama dari sekelompok cheerleaders milik SMA Wirnamandala itu. Sesekali mereka juga membicarakan seperti apa dance dan yel-yel baru yang telah dibuat oleh sekelompok gadis itu.

“Mereka buat yel-yel baru?” tanya Senja yang baru saja berhenti dari aktivitasnya, lantas melihat penampilan Cheergirl dari tempat duduknya.

“Iya. Setelah ini kan ada pekan olahraga antara SMA Wirnamandala dengan SMA Andromeda sebagai pertanda hubungan persahabatan mereka,” ujar Ensel menanggapi pertanyaan Senja.

“Bakal ada lomba basket lagi, dong.”

“Kali ini kayaknya bakal beda, deh,” sahut Kaila. “Pekan olahraga kali ini lombanya bukan cuman berhubungan dengan olahraga. Soalnya cheerleaders, musik, balet juga diikutkan.”

Pupil Senja seketika melebar. Saat itu juga mulutnya terbuka lebar. Gadis itu segera menutupi mulutnya dengan telapak tangan agar serangga tidak dapat masuk ke dalam mulutnya. “Kalian berdua bakal ikut jadi peserta yang mewakili sekolah ini, dong?”

Ensel dan Kaila mengangguk kuat ke arah Senja, membuat gadis itu berseru histeris. “Keren banget! Gue bangga punya temen kek kalian.” Gadis itu bahkan berniat akan berteriak sekencang mungkin selama perlombaan balet dan basket berlangsung untuk mendukung kedua sahabatnya itu.

LukaSenja

Senja berjalan menyusuri koridor sendirian sembari menggendong ranselnya erat. Hari ini ia harus sendiri karna Ensel dan Kaila ada latihan untuk persiapan pekan olahraga, dan dirinya yang sama sekali tidak pernah berkutik dan berhubungan dengan Event itu hanya bisa menghela napas kasar saat ditinggal dua sahabatnya.

Gadis itu sampai di lobi SMA Wirnamandala, berjalan menuju gerbang dengan wajah sedikit masam. Di samping kanannya terdapat anak cheerleaders yang berlatih di halaman depan dan di samping kirinya terdapat anak badminton yang berlatih di halaman depan satunya lagi. Entah berapa banyak halaman yang dimiliki oleh SMA Wirnamandala, yang pasti beberapa hari ke depan akan banyak murid yang berkutik di sana untuk persiapan pekan olahraga, apalagi mereka akan menjadi tuan rumahnya.

Senja berjalan tanpa melihat sekitarnya dan tak sengaja menabrak sebuah batu kecil dan hampir jatuh ke tanah. Beruntungnya, seseorang berhasil menahan ransel yang ada di punggungnya dan segera menariknya ke belakang untuk berdiri tegak kembali.

Senja membalikkan badannya untuk berterima kasih dengan orang itu. “Maka—“

“Hai.” Itu Luka. Lelaki itulah yang berhasil menarik ransel Senja sebelum gadis itu jatuh ke tanah.

Sontak Senja menatapnya sinis lalu berjalan cepat menuju ke gerbang sekolah. Belum sempat gadis itu sampai di gerbang, tiba-tiba Luka menariknya menuju ke halte bus dekat sekolah.

Senja yang merasa tak nyaman langsung melepas paksa saat mereka sudah sampai di halte itu. “Apa-apaan sih, lo?! Main tarik-tarik aja. Bisa-bisa gue laporin atas tuduhan pelecehan seksual loh,” ancam Senja.

“Diem!” sentak Luka yang membuat gadis di depannya seketika terdiam dan menutup mulutnya rapat. “Lo mau gelas lo balik nggak? Kalau lo mau, ikut gue sekarang. Gue bakal balikin gelas lo sekarang.”

Detik berikutnya, sebuah bus berhenti tepat di depan mereka dan Luka langsung menarik tangan Senja untuk masuk ke dalam bus. Keduanya duduk di bangku kosong deret belakang. Usai semua penumpang naik, bus itu melesat ke jalanan dan membawa penumpang ke halte selanjutnya.

Luka dan Senja terdiam di kursi mereka masing-masing. Satunya sibuk menggeser jendela dan menikmati angin segar dari luar, satunya lagi sibuk memeluk erat tasnya sembari bengong entah memikirkan apa. Keduanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tidak berbicara satu sama lain sepanjang perjalanan karna canggung.

Setelah beberapa saat, mereka sampai di sebuah pabrik yang ramai akan para pekerja dan pengunjung yang berlalu lalang di sana. Beberapa menit yang lalu, mereka harus berjalan dari halte bus terdekat untuk menuju ke pabrik itu dan keduanya masih tidak mau berujar satu kata pun.

Mereka berhenti di pintu masuk pabrik itu, menatap kagum bagian dalam pabrik tersebut. Senja tak percaya jika lelaki itu benar-benar mengajaknya ke sebuah pabrik meskipun ia masih tidak tahu pabrik apa itu.

Tak lama kemudian, muncul pria paruh baya dari dalam pabrik dengan baju hitam polos berbalut celemek dan sapu tangan. Pria itu menghampiri mereka berdua dan menunduk hormat, lantas berkata, “Luka dan Senja?”

“Iya, kami berdua,” jawab Luka cepat.

“Silahkan masuk dan ikuti saya.” Pria itu berjalan masuk ke dalam pabrik, diikuti dengan Luka dan Senja yang mengekor di belakangnya.

Saat masuk ke bagian dalam, mata Senja benar-benar dimanjakan dengan struktur pabrik itu yang berbeda dengan pabrik pada umumnya. Selain menjadi tempat pembuatan barang, pabrik itu juga menyediakan beberapa barang buatan mereka yang sudah jadi yang kemudian di pajang di lobi untuk dibeli oleh pelanggan, sehingga mereka bisa melihat bagaimana barang itu dibuat secara langsung sambil sibuk memilih barang di rak yang sudah siap dijual dan dibeli.

Usai berjalan menyusuri lobi, mereka bertiga sampai di sebuah rak bertuliskan “Pesanan” dan menghentikan langkahnya di depan rak tersebut. Pria paruh baya itu kemudian mengambil sebuah kardus kecil dan memberikannya kepada Luka. Detik berikutnya ia menunduk hormat dan meninggalkan Luka dan Senja sendirian di sana.

Keduanya kembali berjalan untuk keluar dari pabrik itu karna urusan mereka di sana sudah selesai. Di perjalanan menyusuri lobi, Luka memberikan kardus itu kepada Senja dan gadis menerimanya dengan wajah bingung.

“Buka tuh kardus!”

Dengan wajah penasaran, Senja membuka kardus itu. Ia terkejut ketika melihat tiga gelas dengan motif dan model yang sama dengan gelas yang akan diberikan kepada mamanya untuk hadiah ulang tahun. Ia kemudian menatap Luka dengan wajah gembira.

“Sorry, gue mecahin gelas punya lo. Sebagai gantinya, gue kasih tiga gelas yang sama langsung dari pabriknya. Bilang apa lo ke gue?” Luka menyenggol salah satu lengan gadis di sampingnya dan menunggu gadis itu mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Makasih,” ujar Senja singkat sembari menutup kardus gelas itu dan mempercepat langkahnya meninggalkan Luka.

LukaSenja

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan cahaya jingga yang perlahan menghilang karna tertutup oleh gedung-gedung tinggi Jakarta. Lampu-lampu jalanan mulai menyala terang, menghiasi kota Jakarta yang masih ramai dengan hiruk pikuk kendaraan.

Senja dan Luka masih duduk di halte bus setelah dua jam yang lalu mereka keluar dari pabrik itu dan belum ada bus yang berhenti di halte tersebut.

“Kok bisa lo dapet nih gelas langsung dari pabriknya? Bukannya gelas ini lumayan langka? Gue aja nggak tahu kalau pabriknya ada di Jakarta.” Senja membuka topik pembicaraan agar keduanya tidak lagi canggung dan meninggalkan sunyi di halte itu.

“Pabrik itu dalam naungan Maha Project punya Bokap gue dan sekarang dikelola sama Om gue. Kemarin gue nanya ke Om gue yang emang orangnya suka banget dengan benda-benda yang modelnya kuno gitu. Ja—“

“Idih, kuno lo bilang?” sahut Senja.

“Sorry, nggak bermaksud gitu,” ujar Luka sedikit panik. Ia takut jika gadis itu marah lagi dan membuat keributan di halte malam-malam. “Jadinya gue nanya ke Om gue dan ternyata gelas itu barang buatan pabriknya. Gelas itu agak langka karna sekalinya keluar dari pabrik dan di sebar di mall dan toko-toko lain, gelas itu selalu habis dengan cepat. Maka dari itu banyak orang yang memutuskan untuk membeli langsung di pabrik biar mereka nggak kehabisan terus stoknya.”

Senja mengangguk pelan, memahami semua cerita dan penjelasan dari lelaki di sampingnya.

Tak lama kemudian, sebuah bus dengan arah tujuan ke rumah Senja berhenti tepat di depan mereka. Senja bangkit dari tempat duduknya dan menatap Luka sebentar. “Makasih buat hari ini. Gue minta maaf juga karna sering marah-marah ke lo. Bye.” Senja kemudian berlari masuk ke dalam bus dan langsung duduk di bangku yang sekiranya Luka tidak bisa melihatnya lagi. Detik berikutnya bus itu melaju cepat di jalanan, meninggalkan Luka yang sendiri di halte karna jalur rumahnya yang berbeda.

Lelaki itu hanya tersenyum kecil setelah mendengar perkataan dari Senja tadi, lalu berjalan menyusuri trotoar meninggalkan halte tersebut.

Follow Juga : Wattpad Aiden Nang untuk lebih banyak cerita