Chapter 6 : Bertemu
Seorang lelaki dengan setelan flanel berwarna hitam dengan bawahan berwarna hitam juga, keluar dari mobil sedan berwarna putih mengkilat. Kemudian, dari belakangnya, muncul sosok wanita dan pria paruh baya beserta satu anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun.
Mereka seperti keluarga bahagia, melihat bahwa mereka bertiga kecuali lelaki dengan setelan hitam-hitam itu, memakai setelan jas hitam yang senada yang membuat mereka cocok dipanggil keluarga cemara.
Beberapa saat kemudian, satu orang pria berbadan kekar muncul dari dalam mobil milik keluarga itu dengan memakai setelan jas hitam dan kacamata, berdiri di depan mereka berempat dan menunduk hormat, lalu berkata, “Tuan Dipta, Mr. Tama dan istrinya sudah menunggu di dalam.”
Pria paruh baya yang merupakan kepala keluarga tersebut langsung menggandeng istrinya dan anak kecil berusia 10 tahun tadi, sedangkan lelaki dengan setelan flanel hitam yang merupakan anak sulung di keluarga tersebut, berjalan menyusul mereka di belakang. Mereka kemudian masuk ke dalam sebuah restoranternama di Jakarta, La Rosènta yang merupakan restoran yang dikunjungi oleh keluarga-keluarga terpandang dan beruang untuk menjadi tempat berkumpul dan bercengkerama bersama.
Keluarga itu dituntun menuju lantai empat dan duduk di meja bertuliskan VVIP dengan hidangan dan hiasan yang lebih dari mewah. Di sana, sudah ada pasangan suami istri lain yang menunggu kedatangan keluarga tersebut. Mereka kemudian saling menyapa satu sama lain, berpelukan layaknya sudah tidak pernah bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama.
“Silahkan, duduk Mr. Dipta sekeluarga.” Seorang pria paruh baya yang sedari tadi menunggu kehadiran keluarga itu langsung menyilakan mereka duduk, lalu membicarakan sesuatu yang menjadi tujuan bertemunya mereka di tempat itu.
“Mr. Dipta, sepertinya anda tahu sendiri kalau pemegang saham tertinggi dari Maha Project sekarang adalah La Rosènta. Maka dari itu saya ….”
“Mohon maaf menyela, Mr. Tama.” Pemimpin keluarga Mahadipta itu memotong ucapan pria bernama Tama. “Sepertinya kita tidak sejauh itu untuk bicara seformal ini, maka dari itu, aku tidak akan bicara formal lagi karna ini sepertinya akan sangat penting. Meskipun La Rosènta memang pemegang saham tertinggi di Maha Project, bukan berarti La Rosènta bisa menerima dan mengajukan kerja sama dengan pihak manapun tanpa seizin dan persetujuan dariku.”
Tama menghela nafas kasar. “Kenapa begitu? Kau masih tidak percaya kalau La Rosènta bisa membuat saham Maha Project akan meningkat drastis?”
Dipta meletakkan kedua tangannya di atas meja, lantas menatap mata Tama lamat-lamat. “Aku sudah berteman denganmu cukup lama, Tama. Bahkan kita juga dulu pernah membangun bisnis kecil bersama. Ini bukan tentang ketidakpercayaan, karna faktanya kau masih belum bisa untuk mengendalikan ego dalam dirimu. Aku takut jika La Rosènta yang merupakan pemegang saham terbesar dari Maha Project ada di tanganmu, maka La Rosènta akan kehilangan semua kemenangannya, begitu juga dengan Maha Project.”
“Tapi—“
Brrakkkkk
Suara itu muncul dari lelaki dengan setelan flanel hitam dan headphone yang terpasang di telinganya, membuat pembicaraan penting itu terjeda beberapa detik dengan semua mata tertuju ke pria tersebut.
“Maaf, aku mau keluar dulu.” Tanpa menatap orang-orang yang ada di sana, pria dengan nama Lukairo Mahadipta itu langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut dan pergi menuju lift. Tak ada yang peduli dengan kepergian anak itu, pembicaraan bisnis penting itu tetap berlanjut dan semakin memanas.
Luka masuk ke dalam lift dan memencet tombol satu yang ada di sana. Beberapa saat kemudian, lelaki itu sampai di lantai satu. Dengan langkah sedikit lebar dan headphone yang masih berbunyi di telinganya, ia melangkah keluar dari restoran itu dan berhenti di dekat lampu lalu lintas. Matanya tertuju ke lampu lalu lintas yang sudah berwarna hijau terang di malam hari. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya di zebra cross menuju ke Mall Kirandana yang ada di seberang jalan bersama dengan pejalan kaki lainnya.
Lelaki itu kemudian sampai di depan pintu masuk Mall dan ia masih melangkah maju dengan pandangan yang terfokus di ponselnya, mencari lagu yang pas untuk didengarkan saat ia berjalan.
Tak sengaja, tubuhnya dengan keras menabrak seorang perempuan berambut sepanjang punggung dengan baju sekolah dan barang belanjaan di kedua tangannya, sampai perempuan itu terjatuh di tanah dan barang belanjaannya berserakan di mana-mana. Namun karna perhatiannya terfokus kepada ponsel dan musik di headphone-nya, ia menghiraukan hal tersebut.
Perempuan itu ternyata adalah Senja. Ia sedikit kesal ketika seseorang menabraknya dan tidak bertanggung jawab apalagi meminta maaf dengan sepantasnya. Dibantu Ensel dan Kaila, ia membereskan barang belanjaannya yang berserakan di mana-mana.
Saat Senja membereskan barang-barang di salah satu tas belanjaannya, netranya mendapati sebuah cangkir cantik yang ia beli tadi pecah. Melihat hal itu, ia langsung naik pitam dan langsung bangkit. Kemudian melangkah masuk kembali ke dalam area lobi Mall untuk mencari pria yang menabraknya tadi.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut, karna tidak bisa menemukannya, ia akhirnya memutuskan untuk mencarinya dengan berjalan.
Ensel dan Kaila yang melihat temannya sudah tidak bisa dikendalikan lagi, langsung menyusulnya dan berharap bisa menenangkannya. Namun nihil. Usaha mereka berdua untuk mengajak Senja pulang ditolak mentah-mentah oleh perempuan itu, dan ia memilih untuk menagih tanggung jawab dari Luka yang belum ia kenal.
***
Baca Juga : LukaSenja : Chapter 5
Baca Juga : Cara Menulis Cerita di Wattpad Paling Mudah dan Terbaru






