Maksa Amal

Ayo Membaca1596 Dilihat

Warning : Cerita “Maksa Amal” ini sama sekali tidak berdasarkan kehidupan atau kisah nyata, jika ada kesamaan peristiwa, kejadian, dan yang lainnya, author mohon maaf, karna itu hanya imajinasi author semata.

Alarm terakhir pagi ini berbunyi. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.15 dan aku baru saja terbangun karna ayahku sudah berteriak bak kemalingan, membangunkan anak-anaknya yang pemalas. Aku mengucek kedua mataku, menghilangkan kotoran yang menempel di wajah, lantas berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi. Bisa-bisanya aku masih bersantai padahal waktu sudah menunjukkan kalau aku akan telat datang ke sekolah.

Selang beberapa menit, aku selesai mandi dan setelah itulah aku sadar kalau aku sudah di ambang keterlambatan. Mungkin, setan-setan di tubuhku sudah hilang karna mandi, akhirnya aku menyadari sesuatu yang mungkin akan membuatku dihukum di sekolah.

Baca Juga : Bayaran Lewat Gang

Aku berlarian ke seluruh sudut kamar, mempersiapkan buku-buku yang akan aku bawa ke sekolah. Bodohnya lagi, aku lupa hari ini ujian, sedangkan aku masih belum belajar satu Mapel lagi untuk hari ini.

Ayahku sudah menyerukan namaku berkali-kali, memintaku agar cepat sarapan karna waktu terus berjalan, tapi aku masih sibuk menyemproti bajuku dengan parfum. Tak lama kemudian, ayahku membawa sepiring nasi untuk sarapan ke kamarku. Aku langsung menerimanya dan memakannya dengan cepat, berharap aku masih bisa datang tepat waktu ke sekolah.

Selesai. Aku segera memakai sepatu, menggendong ransel, dan mengeluarkan sepeda motor dari dalam rumah. Tak bisa kupungkiri hari ini aku akan terlambat. Padahal biasanya aku tidak bangun sesiang ini. Mungkin itu terjadi gara-gara kemarin malam aku begadang menghabiskan materi Matematika Wajib untuk kupelajari.

Helm sudah kupakai, motor sudah kunyalakan, perlahan namun pasti, aku mulai menarik pedal gas dan motorku melesat ke jalanan. Di jalan, aku sudah tidak bisa bernyanyi ria seperti biasanya, menyapa para tetangga yang lewat, atau bahkan menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku hanya bisa fokus ke jalanan yang cukup ramai, terus menarik pedal gas, dan melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan.

Tiba-tiba, dengan refleks aku mengerem mendadak, beruntungnya aku tak terjatuh. Entah kenapa, para pria yang tengah berdiri di tengah jalan, meminta amal untuk masjid atau mungkin orang meninggal, seakan menghadangku dengan bendera yang mereka pegang, alhasil aku ketakutan dan langsung menekan rem. Tak hanya itu, wajah mereka sinis, seakan ingin memukulku dengan tongkat bendera jika aku tidak memberikan sedikit uang untuk amal.

Baca Juga : Secret 2 : The Truth of The Past, Wattpad Story by Aiden

Aku mengernyitkan dahi sembari sedikit demi sedikit menggerakkan motorku kembali. Aku ingin sekali memberikan amal, tapi di dalam hati aku meminta maaf karna aku hanya punya uang saku pas-pasan yang utuh. Seribu minta maaf terus saja ku sebutkan dalam hati sambil pelan-pelan melewati area tersebut.

Dari belakang, tiba-tiba para pria itu berteriak. Saat kulihat dari kaca spion, segerombolan pria itu berkali-kali melakukan hal yang sama. Awalnya aku berpikir, mungkin itu hanya candaan mereka. Tapi ternyata, mereka memang sedikit memaksa orang-orang yang melewatinya agar memberikan mereka amal dan meneriakinya atau bahkan tak segan sedikit menghadang jalanan, kalau orang itu tidak memberikan uang untuk amal jariyah.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku kembali fokus ke jalanan dan fokus pada keberangkatanku ke sekolah agar tidak terlambat.