Memayu Hayuning Bawana – Gemuruh gaduh tahun baru dipenuhi oleh riuh suara suka cita manusia, walaupun di tengah kedukaan musibah wabah COVID 19. Sangat gaduh hingga menggelapkan sebagian suasana dan kemacetan aktivitas keseharian manusia. Mungkin lebih tepatnya terhambat, tidak bebas, terkekang, terbatasi geraknya dan lain sebagainya. Kekhawatiran dan ketakutan menjadi sandangan jiwa dan menutup rapat pertumbuhan spiritual. Bahkan meredupkan kinerja imunitas manusia-manusia sendu. Namun ada yang menarik perhatian dan keimanan manusia ber-Tuhan. Alam pun ternyata tidak mau kalah. Ia ikut serta menyuarakan kegaduhan mengiringi riuh ringkuh suasana sosial manusia. Alam ikut bersuara dan berceloteh dengan bahasanya sendiri, terutama lewat isyarat gempa, banjir, tanah longsor, pesawat jatuh, angin puting buliung dan apapun bentuk bahasa alam yang lain.
Sebenarnya alam ingin berkata-kata dan berkomunikasi dengan manusia penghuninya. Namun sayang peradaban dunia manusia sedang mengalami kemunduran yang sangat parah. Kata-kata yang ingin disampaikan oleh bumi atau alam kepada manusia ditafsiri menggunakan kaca mata kuda, kaca matanya keledai atau kaca matanya si Obeng, monyet kecil yang dimainkan manusia untuk topeng monyet. Sehingga kata-kata komunikasi atau pesan khusus untuk manusia ini disebut oleh mereka sebagai “bencana alam”. Kata-kata bencana alam ini mungkin bermanfaat di antara sesama manusia sebagai sinyal kewaspadaan dan lain-lain. Namun dari segi kesopanan komunikasi antar sesama makhluk Tuhan, ungkapan itu cukup subversif. Alam ingin mengajak manusia untuk mengevaluasi perilaku, hubungan relasional antara mereka dan alam, dan lain-lain yang ada hubungannya dengan perbaikan hubungan antara manusia dan alam. Namun karena yang dipakai manusia adalah kaca-mata kuda, maka pesan dari alam ditafsiri dengan makna lain.
Baca juga : Memaafkan Menjaga Kesehatan
Mulai dari yang terlalu angkuh dan percaya diri menyebut dan membuat penegasan bahwa gempa dan bentuk bencana alam yang lain adalah wujud hukuman Tuhan kepada “mereka”. Sangat percaya diri golongan itu menyebut “mereka” hingga melupakan dirinya sebenarnya juga adalah bagian dari mereka. Golongan itu menyebut “mereka” adalah pelaku LGBT, pemimpin yang dholim, perempuan asusila, anak durhaka, koruptor kejam dan apapun itu namanya. Lupa menyebut dirinya sebagai “manusia sombong” yang berlagak Tuhan dengan tingkahnya mudah menghakimi. Narasi-narasi seperti itu sangat bias dan tidak empan papan.
Apa salahnya kalau bumi mengungkapkan pesan dan kata-katanya lewat longsor-gempa-banjir-tsunami (lalu disingkat LGBT)?. Bukannya Tuhan telah memberikan wewenang kepada makhlukNya untuk sah-sah saja berkomunikasi seperti itu. Padahal kan manusia juga telah diilhami Tuhan dengan berbagai keilmuan sedemikian banyaknya untuk menganalisa dan mempredikasi keadaan alam. Jadi sebenarnya benarkah kalau yang dilakukan bumi dan alam itu adalah bencana?. Kalau dalam prasangka kita itu artinya bumi jahat kepada manusia?. Padahal itu adalah tradisi bumi dalam berkata-kata.
Lalu sudah benar kah dengan menuduh “mereka” sebagai biang azab dan bencana?. Sebegitu yakin kah kita terhadap kemuliaan diri kita dan kehinaan “mereka”?. Harusya kita sadar kalaupun toh bencana alam yang disebut manusia itu adalah azab untuk para pendosa, seharusya kita semua juga mendapatkannya tanpa pandang bulu. Tidak bisakah kita berendah hati dan membuka cakrawala kesadaran kita bahwa sebenarnya ada longsor-gempa-banjir dan tsunami yang sedang mengepung kita yang lebih besar dan lebih dahsyat serangannya dari yang dilakukan bumi.
Baca Juga : Ditidurkan oleh Kelelahan, Dibangunkan oleh Pekerjaan
Yaitu adalah longsornya akal sehat manusia. Apapun yang terjadi kita sering luput memahaminya, sebab termakan dogma dan mitos, sampai lupa mengelolanya dengan akal sehat karunia Tuhan. Sedang diserang gempa kehidupan, sehingga mudah tergoyangkan ke sana ke mari, puncaknya berakibat kepada tidak jernihnya memandang segala sesuatu. Juga kebanjiran segala macam hoaks dan isme-isme, paham-paham yang beraneka ragam ketidak-jelasannya. Puncaknya yang terakhir kita terseret gelombang tsunami kehidupan sehingga kintir terbawa arus ketidak-pastian, kemerosotan moral, pecahnya persatuan umat, kumuhnya peradaban dengan kotoran fitnah, adu domba, kebencian, keserakahan dan lain sebagainya.
Maka perlunya upaya untuk harmonisasi dengan alam. Alam dan bumi adalah rumah kita. Tentunya apapun gerakan dan tanda yang sedang ia lakukan pasti ada tanda, pesan dan komunikasinya. Kita jarang memaksimalkan komunikasi dengan alam dalam bentuk tindakan perawatan, pemeliharaan, pembudidayaan, sehingga alam pun akan merespons komunikasi baik dari manusia. Tidak seperti saat ini, sering manusia nyuekin, menelantarkan, mengabaikan alam dan malah sibuk bertengkar dengan sesama manusia, sibuk mengatur strategi merampok sesama, merampok kekayaan alam, merampok apapun yang bisa dimakan oleh nafsu rakusnya manusia. Maka alam dan bumi pun tidak akan kuat dan mencoba memberikan pesannya dengan bahasanya sendiri kepada manusia agar memperbaiki perilakunya.
Memayu hayuning bawana adalah falsafah hidup orang Jawa yang diwariskan orang tua kepada anak cucunya supaya mereka bisa menghargai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Budaya pitutur memang masih kental dilakukan oleh masyarakat Jawa. Memayu berarti cantik atau mempercantik, bisa dikatakan memperindah atau meningkatkan keselamatan. Ini mengandung semangat keharmonisan dalam dimensi emosional. Lalu ada hayuning yang berarti Pangeran yang Maha Agung atau Allah. Dalam falsafah ini mengandung arti cintaNya, kasihNya, cantikNya, indahNya, keselamatanNya. Sehingga maknanya adalah semangat dan kesadaran untuk menyemaikan cintanya Tuhan, keindahan Tuhan, kasih Tuhan dalam keharmonisan kehidupan dan keselamatannya. Yang terakhir adalah bawana yang berarti ruang rohani, batin atau jiwa. Namun jika buwono adalah ruang dan aspek fisik jasadiyah. Maka jika dalam aspek bawana telah beres dan harmoni secara otomatis aspek fisik buwono mulai dari buwono alit (pribadi-keluarga), buwono agung (masyarakat, negara, global), dan buwono langgeng (akhirat) akan ikut harmoni.
Maka semangat memayu hayuning bawana ini adalah semangat keselarasan. Menyelarasakan kehidupan aspek sosial budaya dengan Tuhan. Atau bahasa tasawufnya adalah mengejawantahkan fungsi kehambaan (ngramut/memelihara bawana) kepada fungsi khalifah yaitu memakmurkan peradaban dan alam semesta. Memperindah apa yang telah indah di bumi. Dalam bahasa keislamannya adalah Rahmatan lil Alamin. Bukan saatnya kita untuk terus melanjutkan pertengkaran, permusuhan dan perselisihan. Ini saatnya untuk berkolaborasi dan bekerja sama dengan sesama manusia, dengan bumi, dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan yang sama-sama menghuni bumi ini. Sebelum semuanya terlambat.
Oleh : Agus Novel Mukholis






