Nyaman dan Aman

Ayo Membaca1545 Dilihat

Cerpen by Anak Pemalas

Di tengah-tengah keramaian kelas saat istirahat, aku sedang sibuk membalik-balikkan halaman buku di bangkuku, membacanya dengan cermat sembari menikmati angin sepoi-sepoi dari luar lewat jendela besar di sampingku. Sedari tadi hatiku gelisah karna setelah istirahat akan ada ulangan mata pelajaran Kimia.

Sebenarnya aku sudah belajar kemarin malam, ditambah belajar latihan soal pukul tiga malam di mana orang-orang biasanya melaksanakan tahajud guna berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa untuk kesuksesan mereka. Aku juga berniat ingin tahajud saat itu, menenangkan hati dan pikiran agar nanti saat aku belajar untuk persiapan ulangan, aku bisa merasa nyaman dan aman. Tapi ternyata aku sudah terlanjur mengantuk dan bergegas mengerjakan beberapa contoh soal, lalu melanjutkan rebahanku sampai azan subuh berkumandang.

Kepalaku terus saja mengeluarkan keringat. Meskipun aku sedang duduk dan membaca di samping jendela yang terus mengeluarkan angin sepoi-sepoi, sepertinya gelisah dalam hatikulah yang membuat keringat itu terus saja keluar.

Tiba-tiba, salah satu teman sekelasku masuk ke kelas dengan napas yang keluar masuk tidak beraturan, mengagetkan seisi kelas dengan kehadirannya. “Ada kabar bahagia,” ucapnya sembari mengusap peluh yang ada di dahinya.

Entah kenapa setelah kata-kata itu masuk ke dalam telingaku, hatiku merasakan kenyamanan sementara. Aku pun refleks berdiri dan mendekat ke temanku tadi, menunggu kabar bahagia apa yang ia bawakan.

“Kita nggak jadi ulangan Kimia karna ada sosialisasi ketertiban setelah istirahat.”

Itulah kabar bahagia yang sesungguhnya. Seisi kelas dengan kompak langsung bersorak gembira karna mereka benar-benar belum menyiapkan diri dengan matang untuk menghadapi ulangan tersebut. Benar saja, detik berikutnya bel masuk berbunyi dan setelah itu, terdapat pengumuman di mana siswa dan siswi kelas 10, 11, dan 12 disuruh ke auditorium untuk sosialisasi ketertiban.

Dengan wajah bahagia aku berlari mengambil sepatu di pojokan kelas dan langsung keluar menuju ke auditorium bersama temanku. Wajahku masih sangat berseri ketika mengingat kalau ulangan Kimia tidak jadi dilaksanakan hari ini.

Baca Juga : Lomba-lomba 17 Agustus yang Seru, Dijamin Bakal Berkesan

Tapi ternyata, suasana di auditorium lebih membuatku kecewa daripada pembatalan ulangan Kimia tadi. Suara peluit terus saja terdengar di setiap penjuru auditorium, menyoraki siswa dan siswi yang tidak segera mengambil barisan kelasnya. Aku benci dengan itu, tapi aku lebih benci dengan siswa dan siswinya yang dengan tertawa lepas masih menyibukkan diri tanpa memedulikan siswa lain yang sudah berbaris rapi dan kebisingan saat mendengar peluit yang diperbuat dari kesalahan kecil mereka. Tapi tak apa, aku masih bisa bersabar.

Sosialisasi berlangsung dengan amanat dari kepala sekolah yang benar-benar menasehati dengan serius dan secara tidak langsung menegur siswa dan siswi yang selama ini tidak mematuhi peraturan sekolah. Bahkan, beliau juga membahas mengenai kenyamanan dan keamanan yang didapat oleh siswa dan siswi, meminta mereka untuk menyampaikan keluhan dan pendapatnya di depan semua orang mengenai rasa nyaman dan aman di sekolah. Aku sempat kaget saat anak kelas 10 menyampaikan keluhan mereka yang dulu sempat aku rasakan juga.

Sosialisasi hampir selesai. Semua orang disuruh untuk berjanji mematuhi peraturan sekolah yang ada mulai besok, terutama masalah keterlambatan. Perwakilan kelas 10, 11, dan 12 dipanggil untuk maju ke depan. Saat perwakilan kelas 10 dipanggil untuk menyampaikan pernyataan sanggupnya mematuhi peraturan sekolah, aku hanya bisa menatapnya tajam sembari tertawa pelan. Siswa itu benar-benar membuatku membatin beberapa kali. Ia mengucapkan janji namun wajahnya seperti tidak serius, padahal ia mewakili seluruh teman-teman seangkatannya. Ah, sudahlah. Mau marah tapi siapa aku.

Baca Juga : Cara Menulis Cerpen Bagi Pemula Agar Menarik untuk Dibaca

Sosialisasi tersebut selesai dengan kesan menegangkan di hati semua orang, terutama aku. Aku benar-benar merasa takut meskipun aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menumpuk poin kasus di sekolah. Namun bukan itu yang kukhawatirkan. Yang kukhawatirkan saat ini adalah seberapa besar rasa nyaman dan aman yang akan aku dapatkan jika peraturan ini masih saja tidak berguna untuk anak-anak nakal yang satu kali dua kali omongan tidak mempan untuk mereka.

Warning : Cerita ini sama sekali tidak berdasarkan kehidupan atau kisah nyata, jika ada kesamaan peristiwa, kejadian, dan yang lainnya, author mohon maaf, karna itu hanya imajinasi author semata.