Pandemi Covid-19 memengaruhi beberapa budaya atau kebiasaan didalam kehidupan masyarakat. Salah satu budaya atau kebiasaan tersebut adalah masyarakat suka berkumpul, bersalam-salaman, dan mengunjungi para kerabat ketika hari raya Idul Fitri atau perayaan hari besar lainya. Budaya atau kebiasaan masyarakat yang juga terpengaruh oleh adanya pandemi Covid-19 ini adalah kebiasaan masyarakat untuk mudik menjelang hari raya Idul Fitri. Karena ketika angka penduduk yang terinfeksi virus Covid-19 semakin tinggi, pemerintah semakin memperketat protokol kesehatan dan pernah melarang adanya mudik untuk masyarakat demi menjaga agar virus ini tidak semakin menyebar. Kita sebagai masyarakat yang baik, seharusnya mematuhi keputusan pemerintah demi kebaikan bersama. Dan agar virus Covid-19 ini segera berakhir.
Ketika pandemi Covid-19 muncul pada awal Maret 2020 lalu, pemerintah mengeluarkan peraturan bagi setiap masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Peraturan tersebut diantaranya adalah memakai masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak minimal 1 meter, serta menghindari kerumunan. Peraturan menjaga jarak minimal 1 meter adalah peraturan yang paling memengaruhi kehidupan masyarakat atau dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat. Kebiasaan masyarakat Indonesia yang suka berkumpul untuk menjaga kerukunan dan kedekatan hubungan diantara sesama menjadi terbatas. Terutama para anak muda yang suka berkumpul dan bercengkerama dengan teman- temannya harus menahan diri untuk tidak berkumpul. Peraturan menjaga jarak minimal 1 meter, membuat masyarakat membatasi diri untuk bertemu dan berkumpul. Sehingga memengaruhi kebiasaan masyarakat.
Baca Juga : ERA DISRUPSI, KEBUDAYAAN TERDIGITALISASI
Salah satu contoh budaya atau kebiasaan masyarakat yang terpengaruh oleh pandemi Covid–19 adalah kebiasaan pada saat perayaan-perayaan hari besar yang biasanya pada hari itu masyarakat suka berkumpul untuk merayakannya. Entah itu untuk melaksanakan upacara atau sekedar berkumpul untuk bersilaturahmi mempererat hubungan antarsesama. Misalnya, pada hari raya Idul Fitri, budaya masyarakat kita khususnya yang beragama Islam adalah mengunjungi para kerabat, teman, dan tetangga untuk bersilaturahmi, bersalam-salaman, dan berkumpul bersama. Dengan adanya penerapan protokol kesehatan untuk menjaga jarak minimal 1 meter, tentu saja membatasi masyarakat dan tidak bisa melakukan kebiasaan pada hari raya idul fitri.
Budaya atau kebiasaan lain masyarakat Indonesia yang terpengaruh pandemi Covid-19 adalahkebiasaan masyarakat Indonesia untuk mudik menjelang hari raya Idul Fitri. Masyarakat yang merantau ke kota biasanya akan melakukan mudik ke kampung halaman untuk mengunjungi keluarga dan bersilaturahmi serta melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Namun, lagi-lagi karena pengaruh pandemi Covid-19 dengan adanya peraturan menjaga jarak minimal 1 meter dan menghindari kerumunan, membuat para pemudik kesulitan untuk pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Pemerintah memperketat peraturan bagi para pemudik untuk memenuhi beberapa persyaratan untuk mudik. Diantara persyaratan itu adalah sudah melakukan uji swab dan telah dinyatakan negatif dari terinveksi virus Covid-19. Persyaratan lainya adalah selalu mengenakan masker, mencuci tangan atau membawa hand sanitizer, dan menjaga jarak. Bahkan setelah perjalanan mudik dari luar kota, para pemudik harus menjalani karantina untuk beberapa hari, sehingga dipastikan mereka tidak terinveksi virus Covid-19. Dikarenakan sedang masa pandemi, demi untuk menjaga agar penyebaran virus ini tidak semakin meluas, Ketika waktu mudik tiba, tentu saja angkutan umum dan tempat-tempat umum seperti stasiun, halte bus, serta bandara akan sangat ramai. Oleh karena itu, pemerintah membatasi kapasitas penumpang di dalam angkutan umum. Sehingga berakibat pada banyaknya pemudik yang tidak bisa berangkat tepat waktu dan keberangkatannya mengalami penundaan. Ini merupakan salah satu dampak dari peraturan protokol kesehatan akibat pandemi yaitu menjaga jarak. Bahkan ketika angka penduduk yang terinveksi virus Covid-19 semakin tinggi, pemerintah pernah tidak mengizinkan masyarakat untuk mudik. Dari keputusan tersebut menuai banyak pro dan kontra dalam masyarakat.
Baca Juga : PERKEMBANGAN LITERASI SISWA DI MASA PANDEMI COVID-19
Meskipun pada hari raya Idul Fitri kita tidak bisa berkumpul dan bersalam-salaman dengan kerabat, tetangga, dan orang-orang di sekitar kita, tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk bisa tetap berhubungan dengan kerabat. Kita masih bisa berhubungan dengan kerabat walaupun hanya secara virtual melalui handphone atau laptop. Tapi bukankah secara virtual ini masih lebih baik daripada tidak sama sekali, atau daripada kita harus melanggar peraturan pemerintah, dan bisa menyebarkan virus kepada orang-orang di sekitar kita. Maka berhubungan secara virtual adalah pilihan terbaik bagi kita. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada, kita bisa menghubungi para kerabat yang dekat maupun yang jauh dengan cepat, tidak seperti kegiatan surat menyurat zaman dahulu yang memerlukan waktu lama. Dengan kecanggihan teknologi, kita bisa mengirim pesan, menelepon, bahkan melihat wajah mereka yang kita sayangi melalui videocall meskipun jarak yang jauh. Dengan adanya teknologi ini sedikit meringankan kesedihan kita akibat adannya virus Covid–19 yang membatasi ruang gerak kita.
Tidak hanya budaya bersalam-salaman dan berkumpul pada hari raya Idul Fitri yang terdampak pandemi ini, tetapi juga budaya menjelang Idul Fitri yaitu mudik. Meskipun persyaratan mudik cukup rumit, kita harus tetap mematuhinya demi menjaga agar penyebaran Covid-19 ini tidak semakin meluas, dan segera berakhir. Pastikan kita menjadi warga yang bijak, yang selalu mematuhi peraturan pemerintah. Patuhi protokol kesehatan dan jagalah imunitas tubuh agar tidak mudak terkena virus.
Lihat Juga : Jenis-jenis Mass Wassting dan Sedimentasi
Sebagai warga negara yang baik, sudah seharusnya kita mematuhi setiap kebijakan pemerintah yang dikeluarkan untuk menjaga ketertiban dan kebaikan semua orang. Meskipun pandemi ini membatasi ruang gerak kita dalam berhubungan dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita, hendaknya kita tetap bersabar menunggu dan menerapkan protokol kesehatan sampai pandemi ini usai. Jika kita tertib dalam menerapkan protokol kesehatan dan juga menjaga kesehatan, maka pandemi ini akan lebih cepat berakhir dan kita bisa menjalankan aktivitas secara normal sebagaimana biasanya sebelum pandemi ini masuk ke Indonesia.





