Perkembangan Jalur Laut di Indonesia

Pada saat kita belajar tentang Laut Indonesia, kita harus tahu Perkembangan Jalur Laut di Indonesia secara umum. Indonesia sendiri merupakan sebuah negara maritim. Berdasarkan buku The Periplus of the Erythraean Sea, kapal dari Indonesia sudah terlihat berlabuh di Teluk Benggala pada tahun 50-150 Masehi.

Perkembangan Jalur Transportasi dan Perdagangan Laut di Indonesia

Hal ini menunjukan bahwa memang masyarakat Indonesia sejak dahulu sudah mengarungi laut untuk berdagang. Menurut Andrian B. Lapian (2008), konsep negara meritim mengacu pada teori mahan, yaitu negara maritim adalah negara yang mempu memanfaatkan dan menjaga wilayah lautnya. Konsep ini tampaknya sudah terwujud pada zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, dua kerajaan maritim terbesar Indonesia.

1. Masa Kerajaan

Pola jalur perdagangan pun sudah terbentuk sejak kerajaan-kerajaan masa lampau yang menjadikan sektor kemaritiman sebagai ujung tombak kebijakan kerajaan. Hal tersebut dapat dilihat dari catatan sejarah bahwa kerajaan-kerajaan di Nusantara banyak melakukan hubungan dagang dengan bangsa lain seperti Cina, India, Arab bahkan Eropa. Silahkan perhatikan gambar berikut ini!

Jalur Sutra : geostrategic

Indonesia yang semenjak dulu menjadi wilayah persinggahan kapal- kapal dagang dan berbagai daerah ikut tumbuh serta jadi pusat- pusat perdagangan, khususnya kawasan selat Malaka. Di selat Malaka dan dekat pesisir timur Sumatera banyak tumbuh kerajaan baru yang memanfaatkan potensi tersebut salah satunya merupakan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya( abad ke- 6 sampai 10 Masehi), memahami segala jalan perdagangan maritim di Asia Tenggara lewat Selat Malaka serta Selat Sunda.

Peta Kekuasaan Sriwijaya, Sumber : Wikipedia

Kerajaan Sriwijaya mencapai kejayaan pada abad ke-6 sampai dengan 10 Masehi. Kerajaan ini menguasai seluruh jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara. Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok sebagai negara benua yang kaya akan komoditas perdagangan.

Baca Juga : Kondisi Wilayah Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

Setelah Kerajaan Sriwijaya runtuh, muncul Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan maritim besar Jawa. Setelah penyatuan Nusantara oleh Majapahit, aktivitas ekonomi maritim berkembang pesat. Kerajaan Majapahit memberdayakan perairan di Nusantara sebagai jalur perdagangan ekonomi, kerja sama antar negara, pertukaran budaya, pertahanan dan keamanan.

Peta Kekuasaan Majapahit, Sumber : Wikipedia

Dunia kemaritiman di Indonesia kembali berkembang sejak jaman kerajaan Majapahit dimana masa keemasannya yang dipimpin Raja Hayam Wuruk yang didukung oleh Patih Gajah Mada melalu Sumpah Palapa yang ingin menyatukan wilayah Nusantara, Kerajaan Majapahit Melakukan kegiatan ekspor rempah-rempah dengan pelabuhan tersibuk di daerah Bubat dan Canggu.

2. Masa Kolonial

Pada masa kolonial kemaritiman nusantara kengalami kemunduran karena jalur-jalur perdagangan di kuasai oleh asing, sebagai berikut:

  • Kolonialisme Belanda-> Masuknya Kongsi Dagang Perusahaan Hindia Timur (VOC) yang menguasai jalur perdagangan dan sumber daya milik Indonesia.
  • Kolonialisme Jepang -> Menyita perusahaan kapal penting Indonesia bernama Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) dan jarang dilalui kapal perdagangan internasional. Semua jaringan pelayaran antarpulau diambil alih dan dikuasai oleh Jepang.

Baca juga : POTENSI DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN INDONESIA

3. Masa Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, laut Nusantara Memulai kembali pembenahan di bidang kemaritiman. Deklarasi Djuanda menjadi tonggak sejarah pengakuan negara terhadap pentingnya sektor maritim.

  • Masa Orde Lama: Penataan Kembali Maritim, Pembentukan Deklarasi Djuanda yang berisi tentang hukum laut Indonesia dan pentingnya sektor ekonomi maritime, Melakukan nasionalisasi perusahaan maritim Belanda dengan mengubah dan mengelola perusahaannya menjadi milik Indonesia
  • Masa Orde Baru: Peralihan ke Pembangunan Darat, Menekankan adanya stabilitas ekonomi dan politik, Terjadi kemunduran maritim dikarenakan lebih fokus pada pembangunan transportasi darat
  • Masa Reformasi: Peningkatan Maritim, Deklarasi Bunaken, Departemen Eksplorasi Laut, Deklarasi Maritim Seruan Sunda Kelapa, Konferensi Laut Dunia oleh DEKIN, dan Visi Poros Maritim Dunia.

Perairan laut Indonesia memiliki beberapa jalur utama,Yaitu Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Flores, Laut Sulawesi, Laut Maluku, dan Laut Banda.

Indonesia juga mempunyai empat titik strategis yang dilalui oleh 40% kapal-kapal perdagangan dunia. Keempat titik strategis ini adalah Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombo, dan Selat Makassar.

Indonesia sendiri mempunyai 3 alur laut kepulauan Indonesia ( ALKI) yang menghubungkan Samudara Pasifik dan Samudra Hindia. Ketiga Jalur tersebut adalah :

  • ALKI I melalui alur Selat Sunda, Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut Tiongkok Selatan
  • ALKI II melalui alur selat Lombok, Selat Makassar, dan Luat Suawesi.
  • ALKI III-A melalui Laut Sawu, Selat Ombai, Laut Banda, (barat Pulau Buru), Laut Seram (timur Laut Monggole), Laut Maluku, dan Samudra Pasifik.
  • ALKI III-B melalui Laut Timor, Selat Leti, Laut Banda, (barat Pulau Buru), Laut Seram (timur Laut Monggole), Laut Maluku, dan Samudra Pasifik.
  • ALKI III-C melalui Laut Arafuru, Laut Banda, (barat Pulau Buru), Laut Seram (timur Laut Monggole), Laut Maluku, dan Samudra Pasifik.

Seiring dengan pergeseran pusat ekonomi dunia dari poros Atlantik ke Asia-Pasifik, saat ini, 70% perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia-Pasifik. Sekitar 75% produk dan komoditas perdagangan di transportasikan melalui laut Indonesia. Oleh karena itu Transportasi laut berperan penting dalam dunia perdagangan internasional maupun domestik. Transportasi laut juga membuka akses dan menghubungkan wilayah pulau, baik daerah sudah yang maju maupun yang masih terisolasi.

Menurut kalian bagaimana potensi Transportasi Laut di Indonesia saat ini dan Bagaimana Peran Pemerintah untuk mendorong potensi jalur laut Indonesia secara maksimal, coba utarakan pendapat kalian di kolom komentar ya !