Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Akibat Pandemi

Essay Geografi644 Dilihat

COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala yang ringan seperti flu, hingga infeksi paru-paru, seperti pneumonia.

Munculnya virus jenis baru Corona Virus Disease (Covid-19) di Wuhan, China yang menyebar dalam waktu yang singkat dengan skala luas di seluruh dunia. Berdasarkan data oleh JHU CSSE Covid-19 tertanggal 02 Juni 2021 dengan jumlah kasus di Indonesia 1.83 juta terkonfirmasi positif dan 94.438 kasus aktif.

Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak perubahan di kehidupan masyarakat dalam waktu yang singkat. Perubahan budaya di masyarakat ini terjadi secara tiba-tiba dan tidak direncanakan oleh siapapun. Akibat dari pandemi seperti ini tentu saja mengubah nilai-nilai sosial dan budaya yang berdampak pada perubahan pola pikir serta sikap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari untuk menjalankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, selalu mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer, tidak berkerumun, menjaga jarak, dan menghindari sentuhan fisik secara langsung.

Dampak pandemi ini dirasakan oleh semua pihak dan kalangan, siapapun tidak bisa menolak keberadaannya hanya bisa menghindarinya. Kegiatan dari berbagai sektor terganggu pelaksanaannya. Berbagai kegiatan yang biasanya kita lakukan dengan leluasa, untuk saat ini belum bisa kita lakukan lagi karena semuanya masih terbatas.

Baca Juga : Menurunnya Tingkat Kesenian Di Kalangan Masyarakat Pada Era Pandemi

Kegiatan ibadah bersama, acara pernikahan, kegiatan di pusat perbelanjaan, kegiatan berlibur hanya terbatas untuk dilakukan. Bahkan hari besar seperti hari raya atau natal yang sebelumnya kita sambut dengan meriah, suka cita, dan suasana ramai dan identik dengan mudik berkumpul keluarga besar belum bisa kita lakukan. Kehidupan sekolah sampai saat ini masih dilakukan secara virtual melalui berbagai media pembelajaran online. Kondisi seperti ini baru terjadi karena adanya pandemi, yang memaksa semua pihak untuk mengerti dan memahami. Ketika sekolah tatap muka bisa bertemu langsung dengan teman-teman menjadi ajang bercengkrama, bersenda gurau dan bermain, kini belum bisa dilakukan secara langsung, hanya bisa bertegur sapa secara virtual melalui layar monitor masing-masing.

Kondisi-kondisi tersebut menjadikan hubungan kekerabatan dan solidaritas manusia sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dan saling tolong menolong lambat laun terkikis dalam pola kehidupan baru yang memaksa pergeseran nilai, pola pikir dan tingkah laku kehidupan masyarakat. Bahkan ada kasus tes dengan alat swab antigen bekas, seperti contoh kasus di Bandara Kualanamu oleh karyawan laboratorium Kimia Farma yang menurut pemaparan Kapolda Sumatera Utara Inspektur Jenderal Panca Putra dimana tersangka memperoleh keuntungan hingga Rp 1,8 miliar.

Untuk itu, harus berpikir rasional dalam situasi dan kondisi pandemi seperti ini. Tidak memanfaatkan keadaan untuk keuntungan pribadi yang merugikan masyarakat. Seperti sebelumnya sebagai makhluk sosial yang hidup bersama-sama kita harus hidup saling menghormati, tolong menolong, dan toleransi antar sesama. Karena sampai saat ini kita belum bisa menyingkirkan virus ini dari kehidupan kita, yang bisa kita lakukan adalah hidup berdampingan dengan Covid-19 tanpa menyentuhnya dan mencoba bersahabat dengan keadaan. Dengan selalu melaksanakan protokol kesehatan dan hati-hati dalam bertindak, dan kita berharap pandemi akan segera berakhir.

Baca Juga : Cabang Cabang Ilmu Geografi