Program Transmigrasi Pemerintah Indonesia

Hai sahabat geografi kalian sudah sering dengar berita tentang Program Transmigrasi Pemerintah Indonesia Dari Jawa Keluar Pulau Jawa (Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua) dan apa kalian sudah mengetahui dampak apa saja yang di timbulkan oleh transmigrasi? kali ini kita coba bahas bersama di bawah.

Secara harfiah transmigrasi berasal dari bahasa latin trans (seberang) migrare (pindah) adalah program yang dibuat oleh pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk memindahkan penduduk dari suatu daerah yang padat (kota) penduduk ke daerah lain (desa) di dalam wilayah Indonesia, sedangkan penduduk yang melakukan trasmigrasi adalah trsnmigran.

Sejarah Transmigrasi Singkat Di Indonesia

Sebelum adanya program transmigrasi dari pemerintah Indonesia, Belanda waktu masa penjajahan sudah melakukan perpindahan penduduk. Pemerintah Belanda menyebutnya kolonisasi/kolonisatie, bukan dinamakan transmigrasi.

Periode Kolonisasi

Seperti ditulis Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia dalam Transmigrasi Masa Doeloe, Kini dan Harapan Kedepan (2015), dijelaskan bahwa program kolonisatie atau transmigrasi pada 1905 pertama digelar untuk 155 keluarga dari Bagelan, Karesidenan Kedu. Mereka dikirim ke Gedongtataan, Lampung.

Sebagian besar keluarga transmigran bekerja di sektor perkebunan. Sampai dengan 1940-an telah dipindahkan kira-kira 200.000 penduduk dengan bantuan Pemerintah Belanda sebagai salah satu kebijakan kolonisasi. Program tersebut sempat dihentikan ketika Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942. Namun setelah merdeka, pemerintah melanjutkan kembali program tersebut seperti sudah dijelaskan sebelumnya.

Istilah transmigrasi pertama kali dikemukakan oleh Presiden Sukarno pada 1927 dalam Harian Soeloeh Indonesia. Kemudian dalam Konferensi Ekonomi di Kaliurang, Yogyakarta, 3 Februari 1946, Wakil Presiden Hatta menyebut pentingnya transmigrasi untuk mendukung pembangunan industrialisasi di luar Jawa.

Permulaan penyelenggaraan transmigrasi pada tanggal 12 Desember 1950, Pemerintah Indonesia secara resmi melanjutkan program kolonisatie yang telah dirintis pemerintah kolonial Belanda.

Baca juga : PERMASALAHAN YANG DIAKIBATKAN OLEH DINAMIKA PENDUDUK

Periode Pelita

1.Pada periode pelita I (1969/1970-1973/1974)

Orientasi pembangunan transmigran masih mengacu pada penyebaran penduduk dari Pulau Jawa ke pulau lain yang sebesar-besarnya. Lembaga penyelenggara adalah Departemen Transmigrasi dan Koperasi.

2. Pelita II (1974/1975-1978/1979)

Lembaga Penyelenggara adalah Departemen Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi. Orientasi pembangunan transmigrasi bukan hanya penyebaran penduduk, tetapi sudah diprogramkan kea rah keterkaitan dengan program
pembangunan daerah dan pembangunan sector lain.

3. Pelita III (1979/1980-1983/1984)

Lembaga penyelenggara adalah Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Orientasi pembangunan transmigrasi bergeser dari aspek sosial ke ekonomi, sehingga sector transmigrasi dialihkan dari bidang kesejahteraan sosial ke sector ekonomi dan keuangan.

4. Pelita IV (1984/1985-1988/1989)

Lembaga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan transmigrasi adalah Departemen Transmigrasi sehingga kebijaksanaannya berada dalam satu lembaga dan sebagai pedomannya adalah “Panca Matra”.orientasi pembangunan
transmigrasi lebih diarahkan kepada peningkatan mutu permukiman transmigrasi dan mengembangkan pola-pola usaha lain selain tanaman pangan, yaitu Hutan Tanaman Industri (HTI), PIR Perkebunan, Jasa Industri, Perikanan, Peternakan serta diti ngkatkannya kerjasama dengan swasta.

5. Pelita V (1989/1990-1993/1994)

Lembaga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan transmigrasi adalah Departemen Transmigrasi Pengembangan
pertanian tetap dilanjutkan namun lebih diti ngkatkan terhadappola perkebunan, perikanan, dan HTI.

6. Pelita VI (1994/1995-1998/1999)

Lembaga yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan transmigrasi adalah Departemen Transmigrasi dan PPH. Terjadi perubahan dalam orientasi pembangunan transmigrasi, yaitu lebih diarahkan untuk mendukung pembangunan daerah,
memperbanyak penyebaran penduduk dan tenaga kerja, meningkatkan kesejahteraan para transmigran dan masyarakat pada umumnya, serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Periode Reformasi (tahun 2000-sekarang)

Pada Periode Reformasi, telah terjadi beberapa kali perubahan kabinet yang secara langsung berpengaruh terhadap orientasi dan paradigma transmigrasi. Sejak masa kabinet reformasi, terjadilah perubahan mendasar pada tataran politisi yang kemudian berdampak pada program transmigrasi dalam pembangunan nasional. Transmigrasi diletakkan sebagai komponen pembangunan wilayah dalam pembangunan daerah.

Kemudian dalam periode Kabinet Persatuan Nasional, transmigrasi telah melebur ke dalam konsep pembangunan multi -sektoral dan desentralisasi. Perubahan perpoliti kan nasional dan bergulirnya reformasi, telah menjadi prakondisi bagi terjadinya pergeseran posisi transmigrasi dari program sektoral transmigrasi menjadi sektor pembangunan daerah dan transmigrasi.

Sebagai konsekuensinya, penyelenggaraan transmigrasi diarahkan untuk mendukung pembangunan daerah, mendorong persebaran penduduk dan tenaga kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan baru, serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian, transmigrasi ti dak lagi merupakan program pemindahan penduduk semata, melainkan upaya untuk pengembangan wilayah.

Metodenya tidak lagi bersifat sentralisti dari pusat, melainkan berdasarkan Kerjasama Antar Daerah yaitu antara daerah pengirim transmigran dengan daerah tujuan transmigrasi.

Pada kurun waktu 2004-2009, penyelenggaraan transmigrasi diarahkan sebagai pendekatan untuk mendukung pembangunan daerah melalui pembangunan pusat-pusat produksi, perluasan kesempatan kerja, serta penyediaan kebutuhan tenaga kerja terampil baik dengan peranan pemerintah maupun secara swadaya melalui kebijakan langsung maupun tidak langsung.

Perlu adanya revitalisasi dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kawasan transmigrasi agar kawasan transmigrasi berkembang dan selanjutnya terbentuk pusat pertumbuhan.

Seiring dengan perubahan lingkungan strategis di Indonesia, transmigrasi dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya.
  2. Peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah.
  3. Memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa.

Jenis- jenis Transmigrasi

Transmigrasi dilakukan oleh beberapa atau banyak orang dengan berbagai macam tujuan yang berbeda-beda. Karena berbagai faktor yang berbeda inilah maka jenis-jenis transmigrasi juga ada banyak. Berbagai jenis transmigrasi ini antara lain sebagai berikut:

  1. Transmigrasi lokal

Transmigrasi lokal merupakan jenis transmigrasi yang pertama. Seperti namanya, yakni lokal, maka transmigrasi ini dilakukan oleh orang-orang yang masih dalam satu wilayah. Wilayah yang dimaksud ini adalah dalam lingkup propinsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa transmigrasi lokal merupakan jenis transmigrasi yang dilakukan dari satu propinsi ke propinsi lainnya. Transmigrasi ini biasanya dilakukan atas dukungan biaya dari departemen transmigrasi. Transmigrasi lokal ini bisa juga dilakukan secara massal.

  1. Transmigrasi swakarya

Jenis transmigrasi selanjutnya adalah transmigrasi swakarya. Transmigrasi swakarya ini seperti sebuah transmigrasi yang bertujuan untuk memberikan pekerjaan kepada transmigran. Jadi, transmigrasi swakarya merupakan jenis transmigrasi yang merupakan program dari departemen transmigrasi yang berupa jaminan hidup kepada transmigran selama beberapa bulan. Setelah itu maka transmigran akan diberikan tanah untuk dapat diolah dan tanah itulah sebagai sumber dari penghasilannya. Dengan kata lain maka transmigrasi ini akan bersifat menetap bagi para transmigrannya.

  1. Transmigrasi sektoral

Berikutnya adalah transmigrasi sektoral. Menurut pengertiannya maka transmigrasi sektoral ini merupakan jenis transmigrasi yang dibedakan dari pembiayaannya. Transmigrasi sektoral merupakan transmigrasi yang biayanya ditanggung bersama-sama oleh para transmigran.

  1. Transmigrasi umum

Transmigrasi umum merupakan salah satu jenis transmigrasi juga. Transmigrasi umum merupakan jenis transmigrasi yang dilakukan karena adanya faktor-faktor pendorong yang berasal dari daerah asal. Misalnya karena sulitnya memperoleh pekerjaan karena sangat jarang ditemukan lapangan kerja, kemudian karena lahan sumber daya alam pertanian yang terlalu sempit sehingga membutuhkan pelebaran, hingga alasan pemerataan jumlah penduduk. Biasanya berbagai faktor pendorong yang ada di daerah asal ini akan membuat pemerintah mencanangkan program transmigrasi. Maka dengan adanya transmigrasi umum ini penduduk atau transmigran bisa berangkat tanpa biaya karena biayanya semua adalah tanggung jawab dari pemerintah.

  1. Transmigrasi keluarga

Salah satu contoh dari transmigrasi mandiri adalah transmigrasi keluarga. Dikatakan mandiri karena transmigrasi jenis ini biasanya tidak ditanggung oleh pemerintah melainkan dibiayai sendiri. Transmigrasi keluarga merupakan transmigrasi yang biayanya ditanggung oleh pihak keluarga yang tinggal di daerah transmigran atau daerah yang dituju.

  1. Transmigrasi swakarsa atau transmigrasi spontan

Jenis transmigrasi yang selanjutnya adalah transmigrasi swakarsa atau yang biasa disebut sebagai transmigrasi spontan. Transmigrasi jenis ini merupakan transmigrasi yang dilakukan dengan biaya sendiri, namun berdasarkan bimbingan dan juga fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Nah, transmigrasi swakarsa atau transmigrasi spontan inilah transmigrasi yang diharapkan oleh pemerintah. Pemerintah mengharapkan supaya rakyatnya yang bertempat tinggal ditempat- tempat yang terlalu ramai, kemudian mendapat kesadaran akan pentingnya meninggalkan daerah yang terlalu padat tersebut dan beralih ke daerah baru yang mana potensi alamnya perlu digali dan dikembangkan. Dengan demikian kemerataan daerah dapat kita peroleh dengan mudah.

  1. Transmigrasi bedol desa

Jenis transmigrasi yang terakhir adalah transmigrasi bedol desa. Transmigrasi bedol desa merupakan salah satu contoh trasmigrasi massal. Disebut transmigrasi massal karena pelaku atau transmigrannya ini adalah banyak atau lebih dari satu orang. Dinamakan transmigrasi bedol desa apabila transmigrasi dilakukan oleh orang-orang dari satu desa beserta dengan aparatur pemerintahan dari desa tersebut. Sehingga perangkat dan warga masyarakatnya akan berada di tempat yang baru tersebut. Biasanya transmigrasi bedol desa ini dilakukan oleh orang- orang yang desanya terkena proyek dari pemerintah. Transmigrasi bedol desa ini dilakukan dengan biaya dari pemerintah dan akan disediakan fasilitas oleh pemerintah pula.

Baca juga : Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Penduduk

Tujuan Transmigrasi

Beberapa tujuan program atau kegiatan transmigrasi secara umum antara lain sebagai berikut:

  1. Pemerataan dan persebaran penduduk
  2. Peningkatan taraf hidup para transmigran di daerah transmigrasi
  3. Pengolahan sumber daya alam yang selama ini belum tersentuh dan berada di daerah baru atau daerah tujuan transmigrasi
  4. Penyediaan lapangan pekerjaan bagi para transmigran di daerah transmigrasi
  5. Pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia
  6. Peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa
  7. Peningkatan pertahanan dan keamanan nasional

Baca juga : Faktor Pendorong Orang Melakukan Transmigrasi

Dampak Program Transmigrasi

Penyelenggaraan Transmigrasi telah dilaksanakan sejak zaman kolonisasi sampai dengan sekarang. Transmigrasi telah mengentaskan kemiskinan, membuka lapangan kerja dan melahirkan ketahanan pangan.

Pembangunan transmigrasi sesuai dengan dinamika pembangunan yang terjadi diwilayahnya masing-masing telah berkontribusi dalam pembangunan diantaranya dalam aspek kewilayahan (terbentuknya daerah-daerah otonom baru yaitu desa, kecamatan dan kabupaten), aspek pertanian (sesuai komoditas yang dikembangkan) dan aspek kependudukan (peningkatan jumlah sumberdaya manusia).

Transmigrasi merupakan tindakan massal yang dilakukan oleh warga negara dari satu tempat menuju ke tempat lain. Hal ini tentu akan menimbulkan berbagai dampak baik maupun kurang baik bagi daerah yang ditinggalkan, daerah yang dituju maupun bagi para transmigran itu sendiri. Setelah ini kita akan mengetahui apa saja dampak yang ditimbulkan tersebut.

Dampak Positif Transmigrasi

  1. Lahan kosong dapat dimanfaatkan
  2. Penduduk yang ditransmigrasikan kehidupannya dapat lebih baik secara ekonomi.
  3. Meningkatnya produksi, terutama di bidang pertanian.
  4. Dapat mempercepat pemerataan penduduk.
  5. Mengurangi jumlah pengangguran, terutama bagi mereka yang ditransmigrasikan
  6. Nah itulah beberapa dampak positif dari transmigrasi yang bisa dirasakan oleh berbagai pihak, baik pelaku, tempat yang dituju, maupun bagi pemerintah.

Dampak Negatif Transmigrasi

  1. Transmigrasi memerlukan dana yang cukup besar sehingga banyak menghabiskan keuangan negara.
  2. Terkadang mendorong kecemburuan sosial antara masyarakat setempat dan para transmigran.
  3. Adanya transmigran yang kurang sungguh-sungguh dapat menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan transmigrasi sehingga dana yang dikeluarkan menjadi sia-sia.