Berbicara mengenai Proses Terbentuknya Lahan Aeolian tidak lepas dari Bentukan lahan asal proses angina/eolin yang merupakan bentuk lahan Oleh proses eksogenik (proses terbentuknya permukaan bumi karena faktor dari luar seperti air dan angin) dengan angin sebagai agen pembentuk utamanya, yakni dengan membentuk endapan oleh adanya pengikisan, pengangkutan, dan pengendapan.
Lahan aeolian merupakan lahan yang terjadi karena bentukan asal proses angin dan gabungan pelapukan dengan aliran air (Herlambang, 2009).
Hakekatnya bentuk lahan eolin terdiri dari tiga proses yakni:
- Erosional (pengikisan)
- Deposisional (pengangkutan)
- Sedinentasi (pengendapan)
Syarat bentukan lahan angina / eolin dapat berkembang dengan baik apabila terpenuhi persyaratan berikut.
- Tersedia material berukuran pasir halus hingga kasar dalam jumlah yang banyak.
- Adanya priode kering yang panjang dan tegas.
- Adanya angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan pasir tersebut.
- Gerakan angin tidak banyak terhalang Oleh vegetasi maupun objek Iain.
Baca Juga : Bentuk Lahan Asal Proses Fluvial
Proses Terbentuknya Lahan Aeolian
1. Pengkisan Oleh Angin
Deflasi (deflation)
Proses deflasi merupakan gerakan tiupan angin yang membawa materi batuan, baik berupa debu halus, pasir, maupun materi yang kasar dan berat. Proses ini sering terjadi di daerah yang merupakan tempat terkumpulnya pasir, misalnya di basin kecil atau pada bukit pasir. Deflasi cenderung menyebabkan terbentuknyaa formasi-formasi baru di daerah depresi. Dibandingkan dengan erosi air atau sungai keadaannya berlawanan, erosi air di daerah yang berelief tinggi sangat kuat, sebaliknya erosi angin/deflasi di daerah cekungan/basin sangat kuat.
Deflasi hanya dapat terjadi setelah materi batuan mengalami pencucian dan kemudian dibawa ke tempat yang kebih rendah. Materi yang diendapkan tersebut pada umumnya berupa butiran halus sehinnga mudah menglami deflasi.
Korasi (corrasion)
Korasi angin dapat menimbulkan beberapa bentuk atau bentang alam yang sangat luas. Gerakannya hanya dapat terjadi di dekat permukaan tanah. Ini terjadi karena angin tidak dapat mengangkut pasir ke tempat yang lebih tinggi lagi.
Berdasarkan kerjanya korasi dapat dibedakan :
a. Polishing dan pitting

Gerakan angin yang membawa/disertai pasir disebut dengan polishing. Gerakan angin yang membawa pasir mempunyai kemampuan untuk melubangi batuan, kemampuan untuk melubangi batuan ini disebut dengan pitting.
b. Grooving dan shaping

Batuan yang telah berlubang sebagai akibat kekuatan pitting akan terus mengalami proses pembentukan lubang sehingga makin lama makin besar dan dalam. Proses melubangi secara terus-menerus sehingga menjadi lubang yang besar dan dalam disebut dengan grooving.Batuan yang berlubang-lubang besar tersebut kemudian berubah menjadi pecah-pecah dan berkeping-keping. Proses terjadinya pecahan dan keping-keping ini disebut shaping.
c. Faceting
Batuan yang telah berkeping-keping berubah menjadi lebih kecil lagi. Proses perubahan batuan menjadi bagian lebih kecil disebut dengan faceting.Kecepatan korasi terhadap massa batuan di daerah kering sangat tergantung dari tingkat kekerasan batuan dan kekuatan angin itu sendiri.
2. Pengangkutan oleh Angin
Materi batuan yang mudah terangkut oleh angin adalah materi-materi halus, misalnya debu. Materi yang halus ini akan diterbangkan angin sampai ke tempat yang cukup jauh.
Adapun jenis-jenis gerakan pengangkutan materi oleh angin adalah:
Suspensi (suspension)
Merupakan gerakan vertikal tiupan angin yang mampu mengangkut materi-materi halus ke tempat yang lebih jauh. Gerakan ini tidak besar peranannya dalam mengangkut pasir karena kemampuan mengangkut ke atas sangat terbatas. Kadang terjadi juga tubulen.
Saltasi (saltation)
Yaitu gerakan meloncat materi butiran yang disebabkan oleh tabrakan dan pantulan angin yang bermuatan pasir. Gerakan saltasi secara langsung disebabkan tekanan angin terhadap butiran pasir, pasir yang ditiup angin pada umumnya mempunyai gerakan saltasi.
Rayapan permukaan (surface crep)
Gerakan rayapan permukaan disebabkan oleh karena tubrukan materi butiran oleh gerakan saltasi. Terjadinya tubrukan materi butiran ini secara teratur, tetapi kadang-kadang juga tersebar menjadi pecahan-pecahan di atas tempat jatuhnya pasir. Oleh karena benturan ini gerakan materi butiran menjadi lambat yang selanjutnya menjadi rayapan permukaan.
3. Pengendapan oleh Angin
Proses pengendapan ini terjadi apabila butiran yang telah terbawa angin tadi jatuh setelah gerakan menjadi lambat. Selain karena kecepatan yang menjadi lambat, pengendapan juga dapat terjadi karena butiran yang terbawa oleh angin mengalami benturan terhadap permukaan kejadian ini sebagai hasil dari proses saltasi dan rayapan tanah. Bentuk endapan dari proses ini tidak datar atau halus tetapi bergelombang. Setelah mengendap butiran-butiran tersebut mengumpul menjadi suatu bentuk lahan yang baru.
Baca juga penjelasan tentang : Struktur Lapisan Kulit Bumi
itulah kesimpulan dari Proses Terbentuknya Lahan Aeolian semoga bermanfaat dan jadikan refrensi kalian.


