Untuk Apa Sekolah Tinggi Jika Ujungnya Jadi Ibu Rumah Tangga? Menggelitik memang. Namun juga bangga. Tatkala ada siswi yang menanyakan satu pertanyaan sesuai judul di atas. Mungkin pertanyaan itu sebelum disampaikan telah melewati proses penelitian yang panjang dari kehidupan dan pengalaman siswi pemberani tersebut. Pengalaman hidupnya telah memberikan ia satu warna mengenai realitas kehidupan yang membingungkan. Dari sepanjang sejarah manusia isu mengenai pertanyaan siswi itu telah mengalami diskusi, pembahasan, perdebatan panjang yang tiada ujungnya. Sepanjang sejarah keilmuan dan peradaban manusia sering menyebutnya dengan istilah “gender”. Jika “gender” ini perlu didiskusikan, tentunya akan membutuhkan ruang yang tiada bertepi, kelapangan serta kejujuran berfikir.
Budaya Patriarki
Budaya patriarki memang masih kental dan mewabah di kalangan masyarakat luas. Bagaimana di antara laki-laki dan perempuan muncul istilah “melayani” dan “dilayani”, istilah “di atas” dan “di bawah” hingga pada “menguasai” dan “dikuasai”. Maka tak heran jika berujung kepada istilah “ketidak-adilan” dan “penindasan” atas kaum perempuan. Maka dalam pembahasan mengenai pertanyaan siswi di atas, ada dua hal yang perlu dibahas tuntas dalam tulisan ini. Pertama, kita harus memahami dulu mengenai konsep “gender”. Apa dan bagaimana itu laki-laki, apa dan bagaimana itu perempuan. Lalu setelah itu mencoba untuk membaca ulang dan memahami makna sesungguhnya dari pendidikan dan relevansinya dalam kehidupan.
Baca Juga : Menemukan Kenikmatan di dalam Pekerjaan
Banyak orang sering dengan lantang berteriak kesetaraan gender. Bagaimana peristiwa perjuangan Ibu Kartini dengan emansipasi wanitanya membuat publik, masyarakat, bangsa Indonesia bahkan dunia memandang bahwa harus memperjuangkan hak-hak wanita yang selama ini terkekang oleh budaya. Bahkan tidak hanya kultur budaya setempat, agama pun juga menaruh peran yang signifikan terhadap legitimasi penundukan dan pengekangan kaum perempuan. Tentunya bukan agamanya yang jadi soal, namun pemahaman yang kurang total, komprehensif, dan tidak tepat letak koordinatnya. Sebaliknya justru agama lah yang paling terang dan jelas membawa konsep keadilan antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana Allah tidak memandang dan menilai hambaNya dari sisi kelaki-lakiannya dan keperempuanannya, namun lebih kepada prestasinya sebagai seorang hamba.
Ada satu posisi dan kedudukan yang lebih tinggi dan lebih berkelas dari kelaki-lakian dan keperempuanan untuk dijadikan dasar pijakan dalam berperilaku. Posisi itu adalah kemanusiaan. Jadikan kemanusiaan sebagai kaca-mata dalam melihat dan memandang segala sesuatu. Bukan kelaki-lakiannya dan keperempuanannya. Semua manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk berprestasi di ranah bumi dan langit. Artinya laki-laki bisa lebih tinggi derajatnya dari perempuan, begitupun sebaliknya perempuan juga bisa lebih tinggi derajatnya dari laki-laki. Tergantung bagaimana derajat ketaqwaannya. Begitulah Tuhan menggambarkan keadilan. Hanya taqwanya yang dinilai oleh Allah, bukan yang lain, apalagi keturunan menteri atau bukannya.
Membangun Rumah Tangga
Maka demikian pun halnya terjadi di ranah domestik (urusan rumah tangga). Jika kesepakatan membangun rumah tangga itu adalah kesepakatan kedua mempelai yaitu laki-laki dan perempuan, maka konsekuensi logisnya ya relasi kerja-sama yang dibangun. Bukan relasi menguasai-dikuasai, relasi atasan-bawahan, relasi mematuhi-dipatuhi. Kalau ada “Ibu rumah tangga”, maka juga harus ada “Bapak rumah tangga”. Karena sangat aneh jika ada ibunya, tapi tidak ada bapaknya. Memang sih laki-laki berposisi sebagai pemimpin untuk menahkodai kapal rumah tangganya. Namun bukan berarti suami bisa semena-mena terhadap istrinya.
Diajarkan dalam filosofi orang Jawa bagaimana menyebut suami-istri sebagai garwa atau sigaraning nyawa. Maka sudah sepatutnya ia memperlakukan istrinya seperti ia memperlakukan dirinya sendiri. Jika suami ingin mendapatkan kesempatan untuk berkarya, maka ia juga harus memberikan kesempatan kepada istrinya untuk berkarya. Jika suami tidak mau disakiti dan diperbudak, maka ia juga harus tidak menyakiti dan tidak memperbudak istrinya. Logika yang dibangun dari sigaraning nyawa kan adalah menyatukan rasa, empati dan emosi sehingga tatkala istri sakit, suami juga akan merasakan sakitnya.
Baca Juga : Sembunyikan Dapurmu, Tunjukkan Daftar Menumu
Maka mengurus rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak, dan urusan domestik yang lain adalah tugas bersama. Ingat relasinya adalah kerja-sama, bukan menguasai-dikuasai. Maka praktiknya dalam realitas kehidupan rumah tangga, adalah siapa yang longgar dan kosong waktunya ia yang harus nyandak, mengambil alih pekerjaan rumah tangga. Hal tersebut juga dicontohkan oleh Rasulullah Saw, oleh para Ulama’, bagaimana beliau-beliaunya sebagai suami juga sering mencuci bajunya sendiri dan baju istrinya, ikut momong anak-anaknya, tak jarang juga ikut memasak dan menyiapkan makan, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Dari sini semoga bisa dipahami. Begitupun juga dalam hal mengasuh anak. Seorang ayah dan ibu harus berperan. Karena satu pun dari mereka ada yang tidak berperan aktif, maka akibatnya akan fatal terhadap perkembangan emosi, intelegensi dan mental anak.
Kedua, mengenai relevansi pendidikan terhadap kehidupan. Jika selama ini kita beranggapan bahwa menempuh pendidikan adalah untuk bekerja atau mencari uang, maka pemikiran kita sedang terjajah oleh konsep industrialisasi. Kalau sekolah ya untuk cari kerja. Itu yang bahaya. Sekolah kan bukan balai latihan kerja. Menentukan jurusan untuk kuliah pun masih mempertimbangkan prospek kerjanya. Itu kurang tepat. Saya tidak menyatakan salah, namun kurang tepat. Karena jika pertimbangan prospek kerja dijadikan ukuran dalam memilih jurusan, itu yang tidak valid. Karena data mengenai prospek kerja pun juga belum bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Bukannya kehidupan ini dalam segala aspek sangat dinamis?. Maka kurang tepat jika itu dijadikan ukuran.
besok kerjanya apa ya kuliah di sini?
Selanjutnya, jika fokusnya sudah ke pertanyaan, “besok kerjanya apa ya kuliah di sini”, maka kita tidak akan bisa fokus kepada keilmuan di jurusan itu. Bukannya kuliah itu yang penting adalah bagaimana bisa menyerap keilmuan sebanyak dan sedalam-dalamnya. Urusan besok kerjanya jadi apa jangan difikirkan dulu. Fokus kepada pertanyaan, “bisakah saya lulus menjadi sarjana yang berkualitas secara keilmuan dan bermanfaat”. Itu dulu yang jadi fokus. Maka yang lainnya adalah bonus dari keteguhan dan kefokusan kita. Output atau hasil dari pendidikan adalah budi pekerti, akhlak, kebermanfaatan dan keteguhan dalam menjalani kehidupan. Bukan banyaknya harta yang dikumpulkan.
Mengenai ibu rumah tangga dipandang sebagai bukan pekerjaan, maka saya yang sebagai anak seorang ibu merasakan ketersinggungan yang luar biasa. Bagaimana tidak?. Ibu itu tugas dan pekerjaannya lebih berat dan lebih mulia dari siapapun. Bukannya tokoh-tokoh besar dan orang-orang hebat itu terlahir dari asuhan dan didikan seorang ibu.?. Maka jika untuk menjadikan dirimu bermanfaat untuk orang lain saja kamu harus kuliah tinggi hingga S3, bahkan jika ada S10 juga akan ditempuh. Lalu kenapa untuk menjadikan dirimu bermanfaat untuk anak-anakmu terlebih dahulu, kamu tidak kuliah hingga S15?.
Jika untuk menjadi seorang guru dari anaknya orang lain kita minimal harus S1, maka justru seharusnya untuk menjadi seorang guru sepanjang masa untuk anak-anak kita sendiri kita harus menempuh pendidikan minimal S3, harus lebih tinggi. Kan begitu logikanya. Lha kenapa kamu menyesal kuliah tinggi-tinggi kalau ilmumu itu sangat dibutuhkan oleh anak-anakmu?. Bukannya kalian para kaum wanita adalah madrasah pertama untuk anak-anakmu. Dan sehebat dan secerdas apapun seorang ayah, tetap tidak akan menghasilkan keturunan yang hebat dan cerdas jika ibunya tidak hebat dan cerdas. Maka hebat dan cerdasnya anak-anak kita semua tergantung hebat dan cerdasnya ibunya. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bish Shawwab.
Pak, Untuk Apa Sekolah Tinggi Jika Ujungnya Jadi Ibu Rumah Tangga? Oleh : Agus Novel Mukholis






