Pandemi Covid-19 mulai menyebar ke Indonesia pada bulan Maret 2020. Hingga saat ini masa pandemi tak kunjung berakhir. Masa pandemi ini membawa dampak buruk terhadap kegiatan belajar mengajar. Sehingga para siswa tidak bisa belajar tatap muka di era pandemi ini. Mereka terpaksa harus belajar dari rumah atau biasa disebut daring. Proses pembelajaran yang awalnya dari papan tulis harus diubah menjadi virtual, seminar yang biasanya dilakukan secara langsung berubah menjadi melalui zoom. Maka dari itu perlu adanya gerakan literasi digital untuk siswa agar mereka tetap produktif meski belajar dari rumah.
Budaya literasi harus diterapkan dan dibiasakan oleh setiap siswa karena berliterasi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi dan menggali pengetahuan setiap siswa. Budaya literasi ini sudah di terapkan di MAN 2 Banyuwangi. Hal ini terbukti dalam perolehan penghargaan dari Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) dan Gerakan Menulis Buku (GMB) sebagai “Sekolah Aktif Literasi Nasional”. Tahun 2021, merupakan tahun kedua MAN 2 Banyuwangi mengikuti kegiatan Gerakan Sekolah Menulis Buku (GMB). Pada tahun lalu mengirimkan 50 karya tulisan siswa-siswi, sedangkan tahun ini meningkat drastis. MAN 2 Banyuwangi mampu mengirimkan 170 karya siswa-siswinya yang tercover dalam 2 judul buku dan masing-masing buku 2 jilid. Pandemi ini tidak mematahkan semangat para siswa-siswi MAN 2 Banyuwangi. Meski pandemic, mereka tetap aktif dalam menorehkan berbagai prestasi.
Baca juga : Kontribusi Siswa Man 2 Banyuwangi Dalam Kegiatan Literasi Di Masa Pandemi
Masa pandemi ini tidak hanya memiliki dampak negatif, namun juga memiliki dampak positif. Dampak positif pandemi salah satunya adalah lebih banyaknya waktu kosong yang kita miliki, sehingga dapat digunakan untuk melakukan kegiatan yang memberikan dampak positif. Banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan selama masa pandemi, salah satunya adalah literasi. Literasi di kalangan masyarakat Indonesia menjadi hal yang kurang diminati. Dalam hasil studi bernama “The World’s Most Literate Nations”, menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60. Ini bukanlah hal yang baik, masyarakat Indonesia harus merubah kegiatan membacanya. Banyak hal yang mendorong kurangnya minat masyarakat dalam membaca salah satunya adalah rasa malas. Rasa malas adalah hal buruk yang harus dihilangkan, jika tidak itu akan memberikan dampak yang buruk.
Kegiatan literasi menjadi hal yang sulit bagi seseorang yang kesulitan dalam membaca. Meskipun memiliki waktu luang yang lebih banyak, namun ada beberapa orang yang kesulitan untuk membaca. Hal ini disebabkan oleh tingkat kecemasan yang berlebih sehingga menyebabkan seseorang sulit untuk fokus. Hal ini yang menyebabkan seseorang lebih memilih menghabiskan waktu untuk menonton drama dan juga hiburan lainnya dibandingkan untuk membaca sebuah buku atau tulisan. Penilaian seseorang terhadap literasi berbeda-beda, ada yang menganggap literasi adalah hal yang menyenangkan dan memberikan dampak postif, namun ada juga yang menilai bahwa literasi adalah kegiatan yang membosankan dan menjenuhkan, sehingga mereka enggan untuk melakukannya. Tidak hanya itu, kebanyakan seseorang lebih suka membaca buku atau tulisan yang memiliki unsur gambar karena lebih menarik. Hal ini harus dievaluasi, setiap masyarakat perlu diberi edukasi mengenai konsep literasi.
Literasi dibagi menjadi 6 yaitu, literasi baca tulis, literasi sains, literais numerasi, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Literasi digital merupakan literasi yang harus dikuasai oleh siswa di masa pandemi ini. Literasi digital adalah sarana untuk membentuk kemampuan siswa dalam berpikir secara kritis, analitis, imajinatif, dan juga kreatif. Literasi digital dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran, dengan menggunakan media digital siswa tidak hanya fokus terhadap materi, tetapi juga proses dalam menggunakan teknologi dan informasi. Kegiatan literasi harus mencakup keterampilan abad 21 yang di OECD, yaitu berupa literasi matematis, financial, sains, digital, dan lain-lain. Hal ini juga harus disertai dengan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, kerja sama, gotong royong, rasa ingin tahu, dan juga adanya kesadaran perbedaan kebudayaan.
Baca juga : GEBRAKAN DIGITAL, MASYARAKAT MENGAWAL
Literasi merupakan kegiatan yang memiliki banyak manfaat. Literasi tidak hanya untuk menguntungkan negara, tetapi juga merupakan kebutuhan setiap warga. Banyak orang yang sukses karena kegiatan literasi. Mereka menuangkan hasil kegiatan literasinya menjadi sebuah buku, puisi, novel, dan lain-lain. Jadi sudah sepatutnya, literasi menjadi hal wajib siswa. Untuk meningkatkan kegiatan literasi di masa pandemi ini, diperlukan adanya kerjasama antara warga sekolah. Kepala sekolah diharapkan dapat memberikan motivasi kepada guru agar dapat berinovasi mengembangkan kegiatan literasi. Guru memberikan motivasi kepada siswa, tentang apa itu kegiatan literasi, mengapa kegiatan literasi harus dilakukan, dan apa dampak dari kegiatan literasi. Jika hal ini terus dilakukan dan dikembangkan, maka kegiatan literasi akan menjadi terus melaju dan berkembang di setiap sekolah.





