Terima Kasih Sudah Bertahan

Ayo Membaca1294 Dilihat

Warning : Cerita “Terima Kasih Sudah Bertahan” ini sama sekali tidak berdasarkan kehidupan atau kisah nyata, jika ada kesamaan peristiwa, kejadian, dan yang lainnya, author mohon maaf, karna itu hanya imajinasi author semata.

Malam ini awan mendung dan bulan bintang bertarung, memperebutkan posisi terbaik untuk berdiri di atas cakrawala yang gelap. Di luar sana, udara dingin berhasil menyelimuti, membuat kabut malam muncul dan tersebar di berbagai tempat.

Aku duduk di meja belajarku sembari menulis sesuatu menggunakan laptop usang yang sudah lama tidak kupakai. Dialah yang sudah berjuang mati-matian di saat aku dikejar deadline tugas makalah dan presentasi. Jemariku menari di atas keyboard putih panjang yang selama ini kugunakan untuk memuaskan batinku saat menulis di laptop. Di sampingku, kipas besar menyala dan mengeluarkan angin yang mampu menerbangkan beberapa helai rambutku. Meskipun cuaca di luar sedang dingin, tubuhku ini selalu menolak untuk beradaptasi. Alhasil, aku tetap merasakan panas di dalam tubuhku.

Baca Juga : Bayaran Lewat Gang

Malam ini aku sibuk mengerjakan sebuah proyek, ditemani kacamata anti radiasi yang selalu kupakai saat hendak menatap layar laptop sebesar buku paket dalam waktu yang lama. Capek? Pastinya iya. Meskipun banyak sekali hembusan napas yang kukeluarkan dengan berat hati, keluhan-keluhan yang membuatku kesal pada diri sendiri, mau tidak mau aku harus segera mengerjakannya sebelum tugas-tugas lain menerjang.

Terkadang, aku sudah terbiasa diberi tugas sebanyak ini oleh dunia, ditantang untuk bertahan di lelahnya kehidupan oleh Tuhan, dan diperas keringat oleh berbagai perasaan. Tapi setelah kuingat-ingat lagi, banyak orang tua di luar sana yang pastinya lebih lelah dariku. Jauh lebih lelah dariku.

Aku menghentikan aktivitasku sebentar. Masih 50 subproyek lagi yang belum aku kerjakan, sedangkan tugas sekolahku sudah melambai-lambai dari kejauhan, berharap mereka segera dikumpulkan dan mendapat nilai. Aku menghela napas berat, lantas menyandarkan kepalaku di antara kedua tanganku yang kusilangkan pada permukaan meja belajar. Sembari memutar lagu penyemangat bekerja, aku merenung sendirian, berbicara pada diri sendiri.

Aku ingin berterima kasih pada diri sendiri yang selama ini sudah kuat bertahan di antara jahat dan baiknya dunia. Aku ingin berterima kasih pada diriku karna bisa tetap tersenyum walaupun sudah sering diremehkan. Jati ini terus ditempa mati-matian, namun kau masih bisa berdiri sendiri walaupun dengan satu kaki. Kata-kata bejat selalu terlempar ke arahmu, namun kau masih saja memasang wajah berseri ke arah orang-orang tak berperikemanusiaan itu. “Tuhan memang kadang tak adil,” kataku sembari mengusap air mata yang entah kenapa tiba-tiba keluar.

Baca Juga : Pengertian Cerpen: Struktur, Fungsi, Ciri, Unsur dan Contoh Cerpen

Saat dipikir-pikir lagi, aku tetap harus bangkit. Ini bukanlah kesalahan Tuhan, ini adalah sebuah tanggung jawabku sendiri. Jika aku berani memilihnya, maka aku juga harus berani melakukannya sampai akhir. Bagaimanapun juga, ini jalan yang kupilih di antara banyaknya jalan lain. Jalan ini yang kupercaya bisa mengantarkanku ke cita-cita dan impianku yang jauh di depan sana. Ia terus saja bersorak menyemangatiku yang tengah berlari ke arahnya. Dan suatu saat nanti, aku yakin aku bisa memeluknya erat sambil berterima kasih kepada diri sendiri karna sudah berhasil meraih apa yang diinginkan.

Sudahkah kalian berterima kasih kepada diri sendiri?

Cerpen by Aiden Nang