Apa Pengaruh Pandemi Terhadap Budaya Masyarkat

Kita pasti tidak asing lagi dengan kata budaya karena Indonesia memiliki ragam budaya yang tersebar di penjuru wilayahnya. Budaya sendiri dapat diartikan sebagai cara hidup yang berkembang serta dimiliki bersama oleh kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari berbagai unsur termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, bangunan, pakaian, serta karya seni. Budaya memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan manusia. Seiring berjalannya waktu, budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas dalam peradaban manusia.

Pandemi Covid-19 seakan menjadi penggerak perkembangan budaya melalui daring dan digital. Situasi dan kondisi pandemi tidak menyurutkan budaya untuk terus berkembang. Literasi budaya menghasilkan inovasi di tengah pandemi yang sedang mewabah. Jika ditelisik lebih jauh, budaya yang merupakan hasil oleh rasa, cipta, dan karsa manusia terus beradaptasi, meskipun pandemi berusaha menggerogoti. Kebudayaan merupakan investasi yang tetap berkembang kala perekonomian tengah meradang sebagai akibat dari pandemi yang bergelombang. Sebagai sebuah investasi, kebudayaan memerlukan visi, misi, dan strategi serta yang tepat dalam upaya mencapai target dan mengoptimalkan potensi bangsa dan negara yang kaya akan produk budaya.

Baik pada masa pandemi maupun pada masa normal memerlukan dorongan berupa kerangka pikir dan kesadaran masyarakat dalam melestarikan budaya. Peningkatan literasi, inovasi dan kreativitas akan membawa kemajuan pada kebudayaan secara keseluruhan. Kemajuan ini secara otomatis berperan besar dalam hadirnya prestasi, baik bagi olahraga, dan olahkarsa sebagai hasil dari keberhasilan investasi budaya yang secara utuh berwujud kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Fenomena pandemi seperti ini tentu saja mengubah nilai-nilai sosial dan budaya yang berdampak pada perubahan pola pikir serta sikap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari untuk menjalankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, selalu mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer, tidak berkerumunan, menjaga jarak, dan menghindari sentuhan fisik secara langsung.logo

Perubahan-perubahan dapat terjadi dalam waktu yang lambat yang dinamakan evolusi dan dapat terjadi dalam waktu yang sangat cepat dinamakan revolusi. Perubahan sosial budaya ini dapat kita rasakan atau bahkan tanpa kita sadari sudah terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena pandemi seperti ini tentu saja mengubah nilai-nilai sosial dan budaya yang berdampak pada perubahan pola pikir serta sikap masyarakat dalam kehidupan sehari-hari untuk menjalankan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, selalu mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer, tidak berkerumunan, menjaga jarak, dan menghindari sentuhan fisik secara langsung.

Baca juga: Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Akibat Pandemi

Dampak pandemi ini dirasakan oleh semua pihak dan kalangan, siapapun tidak bisa menolak keberadannya dan hanya bisa menghindarinya. Kegiatan dari berbagai sektor terganggu pelaksanaannya. Berbagai kegiatan yang biasanya kita lakukan dengan leluasa, untuk saat ini belum bisa kita lakukan lagi karena semuanya masih terbatas.

Kegiatan ibadah bersama, acara pernikahan, kegiatan di pusat perbelanjaan, kegiatan berlibur masih terbatas untuk dilakukan. Bahkan hari besar seperti hari raya atau natal yang sebelumnya kita sambut dengan meriah, suka cita, dan suasana ramai dan identik dengan mudik berkumpul keluarga besar belum bisa kita lakukan.

Bahkan kehidupan sekolah sampai saat ini masih dilakukan secara virtual melalui berbagai media pembelajaran online. Walaupun ada yang sudah pembelajaran tatap muka tetapi pelaksanaannya masih terbatas. Itupun dapat dilaksanakan sesuai kondisi daerah sekolah. Dengan mengikuti sesi yang berlakudan tetap mematuhi prokes. Kondisi seperti ini baru terjadi karena adanya pandemi, yang memaksa semua pihak untuk mengerti dan memahami.

Ketika sekolah tatap muka bisa bertemu langsung dengan teman-teman menjadi ajang bercengkrama, bersenda gurau dan bermain, kini belum bisa dilakukan secara langsung, hanya bisa bertegur sapa secara virtual melalui layar monitor masing-masing. Kondisi-kondisi tersebut menjadikan hubungan kekerabatan dan solidaritas manusia sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dan saling tolong menolong lambat laun terkikis dalam pola kehidupan baru yang memaksa pergeseran nilai, pola pikir dan tingkah laku kehidupan masyarakat. Menjadi manusia egois yang hanya memikirkan diri sendiri untuk bertahan hidup seperti pada awal kemunculannya yang seperti kasus panic buying, penimbunan masker dan hand sanitizer yang pada akhirnya menyusahkan orang lain dan hanya mencari keuntungan pribadi. Untuk itu, harus berpikir rasional dalam situasi dan kondisi pandemi seperti ini. Tidak memanfaatkan keadaan untuk keuntungan pribadi yang merugikan masyarakat. Seperti sebelumnya sebagai makhluk sosial yang hidup bersama-sama kita harus hidup saling menghormati, tolong menolong, dan toleransi antara sesama.

Baca juga : Menurunnya Tingkat Kesenian Di Kalangan Masyarakat Pada Era Pandemi

Selanjutnya, salah satu budaya masyarakat yang tidak dapat dilupakan yaitu kesenian. Kesenian menjadi ciri khas tersendiri dari berbagai daerah karena keunikannya. Lalu bagaimana perkembangan seni di masa pandemi ini? Tentu kita tidak bisa membiarkan kesenian luntur dan hilang begitu saja ditelan zaman. Anak muda sekarang terlihat kurang memperhatikan seni dari nenek moyangnya. Mereka lebih banyak bermain gadget dan kurang bersosialisasi. Ini merupakan contoh dampak buruk pandemi. Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai generasi penerus bangsa untuk melestarikan budaya. Hal itu juga bisa melalui bahasa dan sastra menuju generasi milenial yang berbudaya.

Terkait dengan Covid-19, penanganannya juga tidak bisa dilepaskan dari pendekatan sosial budaya. Cara pandang ini bertumpu pada asumsi bahwa wabah atau penyakit dan aspek sosial budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Disisi lain, kita tidak dapat mengingkari suatu fakta bahwa penyakit seringkali disebabkan oleh budaya (perilaku hidup) manusia. Masa pandemi

Covid-19 yang melanda Dunia di satu sisi, serta khasanah kebudayaan Nusantara sebagai benteng sosiologis untuk mencegah penyakit menular, telah membuat banyak pihak berupaya memetik pelajaran berharga dari masalah ini.

Lihat juga : Dinamika Penduduk, Kelahiran, Kematian, dan Migrasi

Hikmah dari Covid-19, terutama bagi manusia yang memanfaatkan nalarnya secara sehat justru berpandangan sebaliknya. Ini berarti sikap atau perilaku gotong royong perlu menjadi tema sentral terkait perlunya budaya baru dalam menghadapi Covid-19. Cara hidup atau perilaku egois dalam menghadapi Covid- 19 justru kurang efektif untuk mencegah penularan virus tersebut. Sebaliknya, sikap solider dengan saling mengingatkan agar melaksanakan protokol kesehatan terhadap sesama anggota masyarakat, justru sangat penting untuk menjaga kesehatan bersama.

Karena sampai saat ini kita belum bisa menyingkirkan virus ini dari kehidupan kita, yang bisa kita lakukan adalah hidup berdampingan dengan Covid- 19 tanpa menyentuhnya dan mencoba bersahabat dengan keadaan. Dengan selalu melaksanakan protokol kesehatan dan hati-hati dalam bertindak, dan kita berharap pandemi akan segera berakhir.

Baca Juga :